Musyawarah Pastoral sebagai Gerakan Pembaruan Pastoral KAE

  • Uskup Sensi Resmi Buka Muspas VII KAE

Oleh Wim de Rozari

Mgr Vincentius Sensi Potokota Pr

Mgr Vincentius Sensi Potokota

Mbay, Flores Pos — Uskup Agung Ende Mgr. Vincentius Sensi Potokota secara resmi, membuka Musyawarah Pastoral (Muspas) VII Keuskupan Agung Ende (KAE), pada Senin (7/9) berlangsung di Gereja Centrum Paroki Stella Maris Danga, Mbay, Kevikepan Bajawa, Kabupaten Nagekeo. Muspas mengangkat tema “Domine, Ut Videam” – Tuhan, Semoga Aku Melihat.

Perayaan ekaristi pembukaan Muspas berlangsung meriah, diawali dengan penjemputan Uskup Agung Ende dan sejumlah imam konselebrantes di antaranya Direktur Pusat Pastoral KAE Romo Alex Tabe, Vikjen KAE Romo Cyrilus Lena, Provinsial SVD Ende Pater Pater Leo Kleden SVD, Vikep Bajawa Romo Yosep Daslan Moang Kabu, Vikep Ende Romo Adolf Keo, Ketua Panitia Pengarah Romo Frederikus Dhedhu, Pastor Paroki Stella Maris Danga Romo Dominikus de Dowa dan sejumlah imam konselebrantes lainnya.

Mereka berarak dari Biara Susteran KFS Mbay menuju Gereja Centrum, disambut oleh drumband MAN Mbay, penari dari sanggar Labawea. Tiba di depan gereja, rombongan disambut tarian Jogek Mbay dari sanggar Sawar Gading dari MTS Negeri Mbay. Di pelataran gereja, rombongan kembali diterina oleh Musik Ndoto dari Sanggar Ndoto Desa Wajo, Kecamatan Keo Tengah.

Perayaan ekaristi diiiringi kor dari paduan suara SMAK Baleriwu Mbay dan tarian dari sanggar Pera Tau SMP dan SMA Santa Theresia Danga. Ekaristi dihadiri Bupati Nagekeo Elias Djo, Bupati Ende Marsel Y.W. Petu, Wakil Bupati Nagekeo yang juga Ketua Panitia Lokal Paulinus Yohanes Nuwa Veto, Ketua DPRD Ende Herman Yosep Wadhi, Wakil Ketua DPRD Nagekeo Kristianus Dua Wea, Staf Ahli Bupati Ngada Getrudis Lali dan sejumlah anggota DPRD Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Ende dan Kabupaten Ngada, biarawan-biarawati, sejumlah fungsionaris pastoral KAE, peserta Muspas dari 62 paroki serta undangan dan umat yang memadati Gereja Centrum tersebut.

Dalam khotbahnya pada perayaan ekaristi tersebut, Uskup Sensi mengatakan, perayaan ekaristi dipersembahkan  khusus untuk pembukaan Muspas VII sebagai sebuah gerakan pembaharuan pastoral di mana Muspas sudah berusia mendekati tiga dasawarsa atau persisnya 27 tahun.

Dikatakannya bahwa dari wacana-wacana persiapan yang berkembang, mulai terbetik kerinduan untuk mengevaluasi dan merefleksikan Muspas, khususnya Muspas VI secara lebih kritis, tajam, terbuka dan berbasis data.

Menjelang usianya yang ke-30 tahun, seyogyanya Muspas sudah mesti berhasil mengondisikan Gereja Keuskupan Agung Ende untuk tampil sebagai sebuah persekutuan komunitas umat basis (KUB) atau komunitas perjuangan yang memberdayakan dan membebaskan serta melakukan transformasi hidup menggereja. Hal ini semestinya sudah lumayan membuat Gereja kita tampil dewasa dan berpengalaman.

Paulus dan Bartimeus

Uskup Sensi mengutip Surat Paulus kepada jemaat di Kolose yang berbicara tentang hikmat/kebijaksanaan dari pelayanan dan penderitaan Paulus. Sebagaimana biasa, kata Uskup Sensi, Paulus selalu merujuk pertama-tama dan terutama pada kebijaksanaan Ilahi dalam menjalankan tugas melayani umat, tubuh Kristus yang adalah jemaat-Nya.

“Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan ke dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat,” kata Uskup Sensi mengutip Kolose 1:2.

Dikatakannya bahwa Paulus telah menjadi rasul yang besar dan sukses, karena dia mengutamakan inspirasi kebijaksanaan Ilahi dalam pola pelayanannya. “Bahwa dia telah menjadi pelayan jemaat sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadanya untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuh-penuhnya.”

Paulus membaktikan hidupnya untuk Tuhan dengan menjadi pelayan firman-Nya dengan setia, bahkan ia setia dalam korban dan penderitaan. Dia sukses karena setia, setia dalam Kristus yang memberikan roh-kekuatan kepadanya.

Menurut Uskup Sensi, Muspas merupakan ajang evaluasi dan refleksi dengan keyakinan bahwa Allah dengan kebijaksanaan-Nya akan dengan setia bermusyawarah bersama umat-Nya dalam Muspas tersebut.

“Dia akan hadir untuk memelihara keutuhan tekad, keikhlasan niat dan kepastian arah proses musyawarah kita. Dialah yang akan menguatkan dan memberi inspirasi dalam mengatasi keterbatasan kita di saat kita menanggapi berbagai tantangan dan masalah pastoral ke depan.

Dalam bacaan Injil “Yesus memaklumkan diri-Nya sebagai Pokok Iman” (Luk. 10:46-52). Yesus menyembuhkan Bartimeus, seorang buta, di mana Yesus amat menghargai setiap pribadi manusia sesuai dengan hak-haknya”.

“Mata-Nya memandang semua orang, hati-Nya berbelas kasih terutama kepada orang-orang yang menderita, seperti Bartimeus, si buta itu, dan semua orang memiliki hak yang sama di mata Allah.”

Hak untuk dibebaskan dari gurita masalah dan penderitaan, hak untuk menikmati hidup sehat, baik, gembira, dan bahagia, dan Yesus  menjadi penjamin kehidupan yang lebih baik.

Bagi Yesus, setiap seruan itu berharga di mata dan hati-Nya bahkan suara, Bartimeus yang berseru keras itu, sambil menyerukan nama Allah, merupakan seruan pribadi beriman yang meminta belas kasih dan selaku Allah yang diimani. Dia mendengarkan jeritan iman umat-Nya.

Seruan Kita

Domine ut videam – “Tuhan semoga aku dapat melihat”. Seruan dan doa penuh iman Bartimeus ini menjadi seruan hati dan iman kita. Seruan yang menjadi insiprasi untuk berefleksi atas kinerja pastoral kita dalam lima tahunan terakhir,” tambahnya.

Yesus memanggil umatnya untuk ber-Muspas sehingga harus yakin bahwa dalam cahaya iman, setiap orang yang percaya dipanggil untuk bersatu erat dengan Yesus yang adalah pokok iman melalui kesetiaan dalam mendengarkan Firman-Nya dan berekaristi selama proses Muspas ini. Kesetiaan itu akan menjamin temuan-temuan dan kesimpulan-kesimpulan inspiratif yang sesuai dengan kehendak Allah sendiri.

Panggilan Muspas VII bisa diemban dengan sukses hanya kalau seluruh umat dalam Muspas ini dipimpin hanya oleh Roh Kudus, Roh Allah sendiri, bukan roh-roh lain. “Hanya Roh Allahlah yang dapat mewarnai Muspas kita dengan sikap rohani seperti  kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan atau penguasaan diri. Kita membutuhkan daya-daya rohani ini, supaya seluruh suasana musyawarah umat dihiasi dengan disposisi batin yang berwajah  hikmah Ilahi,” katanya.

Menjaga Kepercayaan

Bupati Nagekeo Elias Djo dalam sambutannya mengatakan, bulan Maret 2015, pada misa pencanangan Muspas dan pengukukan Panitia Lokal Muspas VII, Uskup Sensi  telah memberikan kepercayaan kepada pemerintah dan masyarakat Nagekeo secara khusus masyarakat Kota Mbay sebagai tuan rumah pelaksanaan Muspas VII KAE.

Dikatakannya, kepercayaan tersebut adalah rahmat bagi semua umat dan masyarakat Nagekeo sehingga semua kekuatan diberikan tanpa melihat sekat perbedaan agama atau suku lainnya dalam menyukseskan kegiatan Muspas tersebut.

“Semua komponen di Nagekeo berusaha memberi yang terbaik. Sebagai tuan rumah perlu saya sampaikan bahwa kalaupun ada banyak kekurangan ya semua itu adalah kekuarangan kita. Marilah kita bersatu dalam sebuah kekuatan bersama menyukseskan Muspas ini,” ajaknya.

Peran Muspas

Sementara itu, Ketua Umum Panitia Muspas VII Keuskupan Agung Ende yang juga Wakil Bupati Nagekeo,Paulinus Yohanes Nuwa Veto dalam sambutan pada acara pembukaan Muspas tersebut mengatakan, Muspas memiliki peran strategis sebagai forum atau wadah aspiratif, partisipatif dan demokratis bagi kepentingan umat.

Kehadiran Muspas diharapkan bisa menghasilkan terobosan yang lebih inovatif, kreatif dan berkualitas dari waktu waktu ke waktu dalam merumuskan perencanaan pastoral yang sejalan dengan perkembangan dan tuntutan umat dewasa ini.

Saya percaya bahwa proses penyelenggaraan Muspas yang kita awali hari ini sampai selesai nanti dapat menghasilkan sebuah kesimpulan yang matang. Saya bersama panitia dan umat Paroki Stella Maris Danga akan terus bekerja mendukung dalam Muspas ini,” katanya.

Kepada panitia dan umat Paroki Danga, ia meminta untuk menjadi tuan rumah yang baik dan membuat peserta Muspas at home dengan menciptakan suasana yang kondusif dengan bergandengan tangan dan bahu-membahu terlibat aktif dan memberi diri secara total sesuai dengan tugas yang dipercayakan.

“Saya berkeyakinan bahwa saat ini Allah hadir di tengah-tengah kita dan merestui perjuangan kita sejak awal hingga penyelesaiannya. Hari ini dan beberapa hari ke depan menjadi momen yang baik untuk menguji dan menunjukkan rasa tanggung jawab dan kedewasaan,” katanya.

Paul Nuwa juga menyampaikan terima kasih kepada umat Stasi Penginanga yang menerima peserta Muspas di Gereja Penginanga dan semua umat Paroki Danga yang memperlancar semua acara serta umat Muslim dan Protestan yang mengambil bagian dalam acara Muspas tersebut.*** (Flores Pos, 9 September 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s