Rangkuman Muspas VII Keuskupan Agung Ende

  • Mbay, Senin-Jumat, 7-11 September 2015
Mgr Vincentius Sensi Potokota Pr

Mgr Vincentius Sensi Potokota

Pelaksanaan Musyawarah Pastoral (Muspas) VII Keuskupan Agung Ende (KAE) berhasil membuat rangkuman akhir pelaksanaan Muspas VII yang dilaksanakan sejak Senin-Jumat (7-11/9) di kompleks Gereja Centrum Paroki Stella Maris Danga. Laporan rangkuman dan kesimpulan akhir tersebut dibacakan SC Romo Yettra Koten dan Romo Eduardus Raja Para, dan moderator Yoseph Nganggo.

Dalam kesimpulan tersebut disampaikan bahwa digerakkan oleh seruan iman dan permohonan “Domine, ut videam (Tuhan, semoga aku melihat), Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota, dalam kebersamaan kegembalaan dengan 319 peserta yang terdiri dari 105 imam, 4 diakon, 1 frater, 6 suster, 202 awam (164 laki-laki dan 38 perempuan), berhimpun untuk mengevaluasi dan merefleksikan seluruh karya pastoral selama lima tahun dalam ajang Musyawarah Pastoral VII Keuskupan Agung Ende di Mbay, 7-11 September 2015.

Muspas VII KAE yang pertama kali terjadi di Mbay, Nagekeo, ini difasilitasi dengan baik oleh 36 anggota panitia pengarah dan 126 anggota panitia pelaksana. Keterlibatan aktif umat dari berbagai latar belakang budaya dan agama serta dukungan penuh berbagai pihak sejak penerimaan hingga penutupan, sungguh menampilkan wajah Gereja KAE sebagai komunio yang partisipatif, terbuka dan bersaudara.

Dalam amanat kegembalaannya, Uskup Sensi menyampaikan bahwa Muspas patut dimaknai sebagai sebuah gerakan pembaruan pastoral, di mana umat dengan seluruh kekhasannya harus menjadi subyek pastoral yang tak tergantikan. Uskup juga mengharapkan agar Muspas VII ini menjadi kesempatan evaluasi dan refleksi yang harus diiringi dengan doa-doa dan dilaksanakan dengan setia, jujur, terbuka dan rendah hati.

Profil KAE

Keuskupan Agung Ende (KAE) sebagai gereja partikular dalam kepenuhan hierarkis berdiri pada tanggal 30 Januari 1961 melalui Konstitusi Apostolik Christus Quod Adorandus dari Paus Yohanes XXIII bersamaan dengan pembentukan hierarki penuh Gereja Katolik di Indonesia.

Terletak di bagian tengah Pulau Flores, KAE saat ini terbagi atas dua kevikepan (Ende dan Bajawa). Umat KAE berjumlah 401.448 jiwa (78.596 KK) yang menyebar di 4.165 KUB, 1311 Lingkungan, 399 Stasi dan 62 paroki.

Secara geografis, tampaknya wilayah KAE (±5.084,50 km2) tidak seluas beberapa keuskupan di Indonesia. Namun, secara topografis, sebagian wilayahnya berupa bukit dan gunung terjal yang mempersulit transportasi. Secara demografis, lebih dari tiga perempat penduduknya yang mendiami tiga wilayah administratif pemerintahan (Kabupaten Ende, Ngada, dan Nagekeo) beragama Katolik (sekitar 84 % dari jumlah penduduk).

Titik Tolak

Sejak tahun 1987, KAE mulai menyelenggarakan Muspas secara rutin lima tahun sekali. Dalam setiap Muspas, Gereja KAE terus berupaya memutakhirkan pendekatan dan strategi, mengatasi pelbagai tantangan dan masalah pastoral. Muspas IV (2000) dan V (2005) menempatkan KUB sebagai focus dan locus karya pastoral. Muspas VI (2010) berupaya memberdayakan KUB menjadi komunitas perjuangan.

Bertolak dari berbagai masalah yang melilit kehidupan umat KUB, Muspas VI merumuskan enam isu, yakni Kitab Suci dan Sakramen, Fungsionaris Pastoral, Kelompok Strategis, KUB, Pastoral Tata Dunia serta Sumber Daya dan aset. Keenam isu itu selanjutnya dijabarkan dalam Rencana Strategis (Renstra) Karya Pastoral KAE tahun 2011-2015 demi mewujudkan visi Gereja KAE sebagai persekutuan Komunitas-Komunitas Umat Basis yang injili, mandiri, solider dan misioner.

Renstra tersebut dijabarkan setiap tahun oleh semua Komisi/Lembaga/Divisi dan Paroki-Paroki dalam Rencana Taktis (program kerja) yang biasanya disusun pada waktu Pleno DPP dan Sidang Lintas Perangkat.

Dituntun oleh Renstra tersebut, sejak tahun 2011 umat KAE giat berupaya dengan berbagai cara untuk; menjadikan KS dan sakramen sebagai sumber hidup dan karya umat; mewujudkan KUB sebagai satu organisme yang peduli dan tanggap terhadap masalah yang dihadapi anggota KUB; memberdayakan FP untuk mau, mampu, dan memberi waktu dalam menerima tugas dan melaksanakan karya pastoral; menghilangkan dualisme atau sikap dikotomis semua warga Gereja yang terlibat dalam tata dunia; mendampingi kelompok-kelompok strategis-kategorial (anak-anak, OMK, dan pasutri muda) agar semakin sadar dan berani menghidupi nilai-nilai kristiani; dan secara profesional, menata dan mengelola sumber daya dan aset Gereja KAE untuk mendukung karya pastoral.

Secara konkret, Komisi-Lembaga-Divisi dan paroki-paroki, menjabarkan isu-isu tersebut ke dalam rencana taktis atau program kerja tahunan selama periode 2011-2015. Rencana taktis tersebut disusun secara partisipatif pada waktu Pleno DPP dan Sidang Lintas Perangkat Pastoral pada setiap akhir tahun kerja.

Setelah enam kali bermuspas, Muspas VII yang dicanangkan oleh Mgr. Vincentius Sensi Potokota pada 1 Maret 2015 dan berpuncak pada 7-11 September 2015 di Mbay merupakan momen berahmat untuk mengevaluasi seluruh kinerja pastoral. Melalui metode katekese umat yang dilaporkan hasilnya oleh 2845 KUB (68,30%) atau dari 47 paroki, survei terhadap 234 KUB sampel, dan studi dokumentasi tampaklah gambaran situasi hidup dan kinerja KUB-KUB dan fungsionaris pastoral.

Hasil Evaluasi

Hasil Katekese Umat dan Survei

Laporan tim analisis hasil katekese umat dan Survei mengungkapkan bahwa ada sejumlah paroki dan KUB yang diambil sebagai sampel kedua metode, terlambat atau tidak mengembalikan hasil survei atau katekese umat yang telah dibagikan. Akibatnya, hasil analisis yang dilakukan tim tidak menggambarkan keadaan KAE yang sesungguhnya. Selain itu, umat yang terlibat dalam katekese umat, khususnya dari 47 paroki yang diambil sebagai sampel, berjumah 110.935 (43.46%) orang dari total umat sebanyak 255.246 orang. Partisipasi umat khususnya kelompok pemuda, dalam katekese umat Muspas VII ini masih memprihatinkan.

Studi Dokumentasi

Studi dokumentasi terhadap rencana taktis paroki 2011-2014 menunjukkan bahwa paroki-paroki belum secara konsisten melaksanakannya, sebab masih cukup tinggi (rata-rata 34%) kegiatan yang direncanakan tapi tidak dilaksanakan. Selain itu, masih cukup banyak rencana taktis paroki yang belum menjabarkan Renstra (rata-rata 20%). Namun disadari bahwa kegiatan-kegiatan tersebut masih berkaitan dengan isu-isu Muspas VI dan ikut berkontribusi bagi proses pemberdayaan umat KUB. Sedangkan rencana kerja komisi/lembaga mayoritas (rata-rata 77%) sesuai dengan Renstra dan umumnya dilaksanakan.

Penanganan Isu-Isu

Berkaitan dengan penanganan keenam isu Muspas VI, tampak adanya hal-hal menggembirakan, antara lain sebagian besar keluarga sudah memiliki Kitab Suci, mayoritas KUB mulai terbiasa membaca KS dalam doa/ibadat, mayoritas umat telah menjadikan Kitab Suci dan sakramen sebagai sumber dan pedoman hidup KUB, dan FP KUB melaksanakan pertemuan rutin mingguan. Peran Paskel cukup positif dalam mendampingi keluarga muda meskipun masalah perkawinan yang terjadi tetap marak. Jumlah kegiatan dan keterlibatan orang muda dalam bakti sosial dan kegiatan gerejawi (koor, dekorasi, petugas keamanan, drama, tablo, dan lain-lain) amat menggembirakan. Umat KUB cukup aktif terlibat dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan bersama. Partisipasi umat terbaptis dalam berbagai organisasi, khususnya organisasi rohani dan sosial gerejawi, tampaknya cukup tinggi. Tanggung jawab umat dalam membiayai karya pastoral pun sangat tinggi.

Namun demikian, terdapat pula sejumlah hal yang memprihatinkan, yakni kegiatan pastoral KS (lomba baca KS, kursus KS, pendalaman KS pada bulan September, pembentukan kelompok pendalaman KS, menyiapkan bahan renungan KS, dan kebiasaan membawakan renungan berdasarkan KS di KUB) belum mendapat perhatian serius; partisipasi umat khususnya para bapak dan kaum muda dalam perayaan ekaristi dan tobat masih cukup rendah; jumlah kegiatan pelatihan FP KUB masih cukup rendah; pendampingan pasutri (khususnya pasturi muda) belum memadai; kaderisasi dan pembinaan rohani bagi OMK masih amat kurang; kegiatan pelatihan komsos dan pemanfaatan media seperti papan publik anda, jurnal masih sangat kurang; kegiatan KUB untuk mengatasi masalah (menolong sesama yang menderita ketidakadilan, perantauan dan perdagangan manusia, konflik dalam hidup bersama, dan lain-lain) masih amat jarang; pengembangan sosek melalui pelatihan wirausaha, mendirikan pusat pelatihan, pendampingan berlanjut, dan lain-lain) belum mendapat perhatian serius; usaha pengembangan aset paroki/keuskupan secara profesional belum serius diperhatikan.

Refleksi Kritis Dan Pendalaman Bersama

Dari telaahan berupa tanggapan-tanggapan kritis para peserta Muspas VII, diperoleh beberapa temuan penting, yang bisa menjelaskan masalah tersebut. Keterlambatan pengumpulan laporan katekese disebabkan oleh lemahnya koordinasi, organisasi dan komunikasi pada semua tingkatan (paroki, lingkungan dan KUB); Tidak adanya tim kerja (think tank) dalam paroki yang bisa menjadi pelancar berbagai kegiatan pastoral; iklim pastoral yang kurang kondusif, termasuk letak dan kondisi geografis serta sarana dan prasarana penunjang; perangkapan tugas; ketidakmampuan FP melihat  tugas sebagai sebuah panggilan; belum mampu melihat katekese sebagai sesuatu yang penting bagi pengembangan iman.

Rendahnya Partisipasi Kaum Muda dalam Katekese Umat

Katekese kurang diminati oleh kaum muda karena katekese dirasa tidak penting, materinya sulit, kurang relevan, dan tidak menarik, metodenya membosankan, kurang adanya motivasi dan pendampingan dari keluarga dan para FP, orang muda tidak diberi kepercayaan, suasana KUB kurang kondusif, fasilitator kurang kreatif, tema katekese terlalu umum, kegiatan lain lebih menarik, pengaruh sekularisme, dan orang muda merasa kurang “disapa”.

Ketidaksetiaan Paroki-Paroki terhadap Rencana Taktis

Berkaitan dengan ketidaksetiaan paroki-paroki terhadap rencana taktis, itu terjadi karena beberapa alasan, antara lain FP lalai memperhatikan rencana taktis karena banyak kesibukan/agenda pribadi, sumber daya masih terbatas, sulit membagi waktu antara kerja pokok dan kegiatan pastoral, dipilih secara asal-asalan, tidak setia pada program, masa bodoh dan kurang bertanggung jawab, kurang konsisten pada rencana awal, kerja ikut hobi/bakat, tidak memperhatikan renstra dalam menyusun program. FP tertahbis sibuk mengurus kegiatan rutin pastoral, masih menguatnya pastor sentris, urusan gereja bukan hal prioritas, koordinasi antarseksi masih rendah, program terlalu banyak dan tumpang tindih, program pastoral dadakan, koordinasi dan komunikasi tidak berjalan dengan baik, pertemuan berkala jarang terjadi, kaderisasi kepemimpinan belum berjalan baik, pastor kurang antusias melaksanakan renstra, masih banyak kegiatan di luar matrix, dana dari umat terlambat masuk, membuat program yang tidak sesuai dengan kemampuan untuk menjalankannya, peran manajerial pastor paroki belum maksimal.

Komisi/Lembaga dan Paroki-Paroki Cukup Setia terhadap Renstra

Berkaitan dengan komisi/lembaga dan paroki yang setia terhadap renstra, terungkap beberapa faktor berikut seperti tumbuhnya kesadaran baru untuk belajar, FP bekerja sejalan dengan renstra, koordinasi dan kerja sama komisi/lembaga berjalan baik, ada program yang disusun baik, tahu cara kerja, ada pembekalan oleh puspas, program kerja komisi tidak banyak, anggota komisi merasa terpanggil untuk melaksanakan program, FP memiliki dedikasi, komisi/lembaga memiliki dana yang  cukup, ada motivasi dari tokoh-tokoh KUB, ada spiritualitas pelayanan.

Refleksi Kritis terhadap Penanganan Isu-Isu Muspas VI

Isu Kitab Suci dan Sakramen

Pencapaian kita dalam bidang “peran Kitab Suci dan sakramen” dinilai sangat dipengaruhi oleh peran pemimpin. Selain berbagai hal positif, seperti hampir semua keluarga memiliki Kitab Suci, adanya program paroki untuk mengadakan dan mendistribusikan Kitab Suci, mayoritas KUB mulai terbiasa membaca Kitab Suci dalam doa/ibadat KUB, namun ditemukan bahwa rendahnya pencapaian di bidang ini, antara lain disebabkan oleh kelemahan-kelemahan di bidang kepemimpinan yang tampak dalam gejala-gejala seperti penghargaan terhadap Kitab Suci dan sakramen masih rendah; aura keteladanan dari para pemimpin lemah dan kurang tampak; dan para pemimpin kurang menyiapkan waktu baik untuk pelayanan maupun untuk berada bersama umat.

Sementara itu, dalam penghayatan hidup sakramental ditengarai semakin berkurangnya kesadaran umat akan pentingnya penerimaan sakramen tobat dan semakin maraknya pasangan yang belum nikah Gereja (kumpul kebo) karena ada kemungkinan umat masa bodoh, tuntutan adat yang sangat ketat dan kurangnya perhatian pastoral dari paroki. Pasangan yang tidak menikah Gereja karena larangan hukum Gereja dan hukum adat, ada gejala pasangan pisah ranjang yang cukup signifikan karena diduga belum mampu mengolah konflik rumah tangga, meningkatnya kasus perceraian sipil dan perkawinan campur (beda agama dan beda gereja).

Menyikapi persoalan penghayatan sakramen tobat dibuat katekese tentang sakramen tobat. Selanjutnya, untuk masalah pekawinan dan hidup keluarga sangat dibutuhkan pastoral keluarga yang berjenjang (KUB-lingkungan-paroki-keuskupan) dan berkesinambungan antara Gereja, pemerintah dan tokoh-tokoh adat.

Isu Fungsionaris Pastoral

Kendati di satu pihak, fungsionaris pastoral (FP) tidak cukup setia dalam melaksanakan renstra, namun di pihak lain, FP juga sudah bekerja keras untuk mencapai visi KAE dengan mewujudkan renstra. Hal ini didukung oleh faktor-faktor: kemampuan (SDM) FP yang rata-rata baik; kesediaan menerima tugas dan berkorban; memiliki aura keteladanan; mekanisme kerja yang baik (koordinasi dan pola pengambilan keputusan yang partisipatif); menerapkan sistem kontrol lewat monitoring dan evaluasi (Monev); dan walaupun kurang konsisten, FP tetap juga berusaha bekerja berdasarkan renstra serta dukungan dana yang ada.

Selain hal-hal positif yang mendukung kinerja FP, ditemukan pula faktor-faktor dominan yang menyebabkan kinerja sebagian FP kurang memuaskan, antara lain inkonsistensi dalam pelaksanaan tugas dan fungsi; keterampilan yang kurang memadai; perangkapan tugas yang menyebabkan para FP sering menghadapi dilema sehingga tidak fokus dalam pelaksanaannya; dan ketidakmampuan dalam melihat tugas FP sebagai panggilan.

Isu Kelompok Strategis

Pencapaian dalam penanganan isu kelompok strategis terkesan sangat rendah. Salah satu temuan penting ialah bahwa partisipasi kaum muda dalam kegiatan-kegiatan rohani juga masih rendah. Orang muda lebih tertarik pada hal-hal yang bersifat aksi daripada hal-hal yang bersifat reflektif. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor: a) fungsionaris pastoral terkesan komitmen dan motivasi kerjanya rendah; jumlah personelnya kurang dan tidak ada upaya regenerasi terencana; penghayatan imannya juga rendah; pemahaman tentang tugas dan fungsinya masih rendah sehingga kurang fokus dalam pelayanan; mantap dalam perencanaan, namun lemah dalam pelaksanaan serta penerapan sistem monitoring dan evaluasi; pola pendekatan yang digunakannya kurang menyentuh kelompok sasar dan kegiatannya tidak didukung oleh dana yang memadai.

Berhubung kelompok strategis ini merupakan masa depan Gereja, maka diperlukan satu revolusi manajemen baik dalam pola pendekatan maupun dalam strategi pendampingannya.

Isu KUB

Kendati pencapaian kita dalam upaya membangun KUB sebagai lokus dan fokus pastoral pembebasan dan pemberdayaan dinilai masih kurang memuaskan, terdapat beberapa faktor posisif baik dalam diri para FP dari tingkat paroki sampai KUB, maupun dalam diri para anggota KUB sebagai organisme. Hal-hal positif itu, antara lain kemauan untuk berubah dan menjadi lebih baik, semangat rela berkorban, semangat kebersamaan sebagai satu komunio, kemauan untuk berkerja sama, komitmen untuk setia, aura keteladanan yang terdapat dalam diri orangtua dan FP KUB, kecenderungan yang semakin sadar untuk bekerja berdasarkan perencanaan dan evaluasi yang partisipatif, kesadaran umat semakin tinggi untuk berpartisipasi khusus dalam hal dana.

Namun, selain hal-hal yang positif ini, tercatat pula situasi dan gejala negatif yang menjadi penghalang bagi terwujudnya cita-cita KUB sebagai satu komunio yang injili, mandiri, solider, dan misioner, yakni  banyak anggota KUB yang mampu memimpin atau melakukan sesuatu, tetapi tidak mau; sikap atau mental bergantung pada figur tertentu, misalnya pemimpin; rasa bosan dan jenuh dengan tugas; enggan melibatkan diri dalam urusan orang lain karena takut dianggap shock hebat; kecenderungan untuk menghindar dari dan tak mau repot dengan urusan orang lain; suasana saling curiga yang menciptakan ketidakharmonisan; dan manajemen keuangan KUB yang lemah dan tidak transparan.

Isu Pastoral Tata Dunia

Terungkap bahwa FP terbaptis (awam) cukup pro aktif dan secara kuantitatif banyak yang telah berkiprah dalam organisasi awam baik rohani maupun sosial kemasyarakatan di berbagai bidang (politik, sosial, ekonomi, dan lain-lain). Namun terasa belum maksimal dalam mempertahankan dan menghidupi spirit dan nilai-nilai kekatolikan. Terasa pula lemahnya militansi awam sehingga menyebabkan nilai-nilai kristiani cenderung kalah dalam benturan dengan sistem yang membelenggu. Masih banyak organisasi profesi awam yang mudah terjebak dalam hal mamon untuk urusan kepentingan tertentu. Pembekalan berlanjut dari komisi atau seksi kerawam tentang spiritualitas keterpanggilan masih kurang.

Disadari pula bahwa jaringan kemitraan di antara Gereja dan pihak-pihak yang berkehendak baik, belum dibangun dan berjalan baik; tanggung jawab para awam (FP) yang berkecimpung dalam ranah tata dunia dinilai rendah, citra dan spiritualitas para fungsionaris pastoral terbaptis, masih kabur.

Berkaitan dengan mekanisme kerja, terdapat sistem yang membelenggu sehingga seringkali terjadi benturan antara persoalan moral/suara hati kristiani di tempat kerja, nilai-nilai kristiani belum meresap dan mempengaruhi dunia sehingga sering kali Gereja bukannya mengubah dunia melainkan dipengaruhi oleh dunia, Gereja KAE terlalu hati-hati melibatkan diri dalam pastoral tata dunia karena masih dipengaruhi oleh anggapan lama bahwa Gereja hanya berurusan dengan hal-hal yang sakral seperti liturgi dan sakramen saja, nilai kristiani belum dipahami dan dihayati secara baik serta konsekuen oleh para pembuat kebijakan publik.

Isu Aset dan Sumber Daya

Mengenai sumber daya, hasil refleksi mengungkapkan bahwa Gereja KAE memiliki umat sebagai sumber daya terbesar (SDM). KAE juga memiliki sumber daya dana yang besar. Para mitra kerja adalah peluang yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber daya potensial yang besar, dan rasa memiliki terhadap Gereja (sense of belonging) juga merupakan satu kekuatan.

Namun demikian, hal-hal negatif di balik kepemilikian sumber daya yang besar itu terbentur pada kenyataan bahwa aset-aset belum dikelola secara baik, banyak yang hanya sebatas motivasi dan animasi, namun belum sampai kepada aksi nyata untuk merealisasikannya, keterampilan dalam pengelolaan keuangan masih kurang danperhatian tehadap potensi usaha bidang tertentu (seperti perikanan), masih sebatas wacana saja.

Refleksi Biblis Teologis

Inspirasi Sabda Allah tentang orang Samaria yang baik hati (Luk. 10:25-37) mengajak para FP menimba butir-butir hikmat dan kebijaksanaan Ilahi agar tergerak mengikuti perintah Yesus “Apa yang kau baca di sana? Dan perbuatlah itu!” mendasarkan hidup dan pelayanan pastoralnya pada Kitab Suci, terpanggil menjadi subyek pastoral yang bersemangat solider-kristiani, terlibat dalam karya pastoral sebagai ekspresi iman yang hidup, serta memiliki hati peduli seperti The Good Samarithan yang peduli serta berani meniti ‘jalan yang sama’ yakni jalan pelayanan pastoral Gereja yang penuh dengan tantangan dan kesulitan.

Selanjutnya, para FP diajak untuk belajar dari Yesus, Sang Guru, untuk selalu ada bersama dengan Sang Guru. Di sini, FP hendaknya bersikap profesional di bidangnya serta memiliki iman dan kedekatan dengan Dia yang mengutusnya: “Barang siapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 5:5).

Kedua,mau bekerja dalam tim. Seperti Yesus melibatkan para murid dalam karya-Nya, maka kita pun diajak untuk bekerja dalam tim yang solid dari tingkat KUB hingga keuskupan dalam semangat saling belajar, menguatkan dan melengkapi serta membangun kerja sama dalam semangat kerekanan seperti Yesus dan para murid-Nya.

Ketiga, menaruh perhatian penuh pada tugas perutusan. Hal ini penting agar komitmen, dedikasi dan pengorbanan kita sebagai pewarta dan pelayan tetap utuh dan tak terbagi. Keempat, memulai aksi pastoral dari “pinggir”. Seperti Yesus yang memulai karya-Nya dari pinggir, para FP pun diajak untuk belajar dari metode karya dan perutusan para murid. Memulai dari “pinggir” menunjukkan keberpihakan Gereja pada kaum kecil dan sederhana dengan menjadikan KUB sebagai subjek, locus dan focus karya pastoral paroki dan keuskupan.

Dan kelima, mau menjadi pelayan bagi sesama. Seperti Yesus yang setia melayani dan memberi diri sehabis-habisnya hingga menderita dan mati di salib, para FP hendaknya selalu mau menjadi pelayan sejati yang berani memberi diri sampai tuntas seperti Yesus. Sebab “Anak manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan memberikan nyawanya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mat 20:28).

Keuskupan Agung Ende sebagai persekutuan umat Allah dalam pelayanannya harus tetap terikat pada semangat Gereja sebagai communio, persatuan dan panggilan Gereja untuk melayani. Pelayanan apapun harus keluar dari hati yang penuh syukur. Inilah pelayanan total yang akan menjadi sangat bermakna ketika pelayanan itu bemuara kepada umat Allah di dalam Komunitas Umat Basis kita. Karena itu, jadilah dirimu sebagai “persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah” (Rm 12:1).

Hasil Yang Ingin Dicapai Dalam Kinerja Lima Tahun Ke Depan

Berdasarkan refleksi kritis atas kinerja pastoral selama tahun kerja 2011-2015, ditemukan sejumlah alasan atau faktor yang berdampak pada keberhasilan dan kegagalan. Dalam refleksi itu  telah dipetakan masalah yang berkaitan dengan kualitas FP/kepemimpinan, pola atau sistem kerja pastoral, pengembangan aset, sarana, dana, materi serta umat.

Selanjutnya telah ditetapkan pula lima kelompok strategis dalam berpastoral lima tahun ke depan, yaitu anak-anak, remaja, OMK, pasutri muda dan FP pada semua jenjang serta pemberdayaan aset dan sumber daya yang mendukung karya pastoral.

Anak-Anak

Keterlibatan anak dalam ekaristi dan kegiatan KS semakin meningkat, meningkatnya pengetahuan dan penghayatan sopan santun, meningkatnya pengetahuan dan penghayatan doa, meningkatnya minat menjadi calon biarawan-biarawati, meningkatnya derajat kesehatan anak-anak, meningkatnya pengetahuan dan rasa cinta akan budaya lokal, meningkatnya rasa cinta anak terhadap pendidikan, terbentuknya wadah pembinaan anak (PAUD, dan lain-lain) di setiap paroki,  meningkatnya jumlah anak yang menjadi anggota Sekami, misdinar, dan lain-lain, tersedianya buku pegangan pendampingan PAUD dan Kober, menurunnya angka kekerasan dan penelantaran anak, berkurangnya perlakuan diskriminatif anak laki-laki dan perempuan, berkurangnya angka DO SD, meningkatnya perhatian dan perlakuan khusus bagi anak-anak difabel.

Remaja

Meningkatnya jumlah remaja yang mencintai ekaristi, KS, doa bersama di KUB; bertambahnya jumlah JPA yang aktif, terlaksananya pastoral remaja di semua sekolah, terbentuknya kelompok SEKAR di setiap paroki, tersedianya pedoman pendampingan remaja, meningkatnya kemampuan menggunakan IT secara benar, berkurangnya angka pelecehan dan perdagangan anak/remaja.

Orang Muda Katolik

Meningkatnya jumlah OMK yang terlibat dalam ekaristi, doa bersama, kegiatan KS dan kegiatan KUB, meningkatnya kemampuan OMK dalam memimpin doa dan membawakan renungan, terselenggaranya kaderisasi OMK di setiap paroki, meningkatnya jumlah OMK yang terlibat dalam ormas, partai politik, dan organisasi sosial lainnya, meningkatnya jumlah OMK yang memiliki pekerjaan/usaha produktif, tersedianya pusat pelatihan keterampilan dan pendidikan wirausaha, berkurangnya angka OMK yang terlibat dalam penyakit dan kejahatan sosial.

Pasutri

Meningkatnya keterlibatan dalam ekaristi, doa/kegiatan KUB, meningkatnya pengetahuan dan keterampilan mengelola keuangan keluarga, meningkatnya kemampuan mendidik anak secara kristiani, terbentuknya divisi konseling keluarga dan terlaksananya konseling di setiap kevikepan, terbentuknya wadah pembinaan pasutri muda di setiap paroki, meningkatnya kinerja wadah-wadah pendamping pasutri seperti ME, KBA, dan lain-lain, berkurangnya angka KDRT  dan kumpul kebo serta masalah perkawinan dan kehidupan keluarga lainnya, meningkatnya jumlah pasutri yang terlibat dalam organisasi rohani dan sosial gerejawi.

Fungsionaris Pastoral

Meningkatnya wawasan tentang teologi pastoral dan KS, meningkatnya kemampuan bekerja sama dan mengolah konflik, tersedianya FP fulltime  yang dibiayai paroki/keuskupan, adanya sekretaris paroki yang profesional, terbentuknya paguyuban/forum katekis di setiap paroki, adanya prodiakon, tersedianya tata laksana karya pastoral bagi FP.

Aset

Semua aset keuskupan memberikan profit, semua tanah disertifikatkan, semua aset bermasalah diselesaikan, ada tim profesional yang mengelola aset-aset.

Pernyataan Keprihatinan Pastoral Muspas VII KAE

Dalam perayaan ekaristi penutupam Muspas VII di Paroki Stella Maris Danga Mbay oleh salah satu SC Theresia Hendrika Muda, dibacakan keprihatinan pastoral Keuskupan Agung Ende di hadapan peserta Muspas dan umat yang hadir pada perayaan penutupan Muspas tersebut dengan isi pernyataan sebagai berikut.

Digerakkan oleh seruan iman dan permohonan Domine, Ut Videam /Tuhan, Semoga Aku Melihat (Mrk 10:51), kami, ke-318 peserta bersama Bapak Uskup Mgr. Vincentius Sensi Potokota berhimpun untuk mengevaluasi dan merefleksikan seluruh karya pastoral selama lima tahun dalam Musyawarah Pastoral VII Keuskupan Agung Ende di Mbay, 7-11 September 2015.

Kami menyadari bahwa Muspas adalah ajang pastoral tertinggi, di mana, kami umat Allah KAE bersama Gembala kami, sejak tahun 1987, telah menyelenggarakan Muspas secara rutin dan berupaya mengatasi pelbagai masalah pastoral di wilayah keuskupan kami.

Kami pun telah menetapkan visi Gereja KAE sebagai persekutuan Komunitas-Komunitas Umat Basis yang injili, mandiri, solider dan misioner, serta menjadikan KUB-KUB di keuskupan kami sebagai fokus, lokus dan subyek pastoral.

Kami menyadari bahwa Muspas VII ini telah dicanangkan oleh Bapak Uskup pada tanggal 1 Maret 2015 dan telah melewati proses evaluasi dengan menggunakan metode survei, katekese umat dan studi dokumentasi.

Dalam pergumulan dan refleksi, kami telah menemukan bahwa kinerja pastoral KAE dalam menangani keenam isu pastoral selama lima tahun ini, telah menunjukkan hal-hal yang menggembirakan, seperti keluarga dan KUB telah berusaha menjadikan Kitab Suci dan sakramen sebagai sumber dan pedoman hidup; terjadi peningkatan spiritualitas, pengetahuan, wawasan, penghayatan nilai-nilai kristiani dan keterampilan para fungsionaris pastoral (FP) dan kelompok strategis; KUB telah menjadi organisme yang hidup dan komunitas perjuangan; memupus sikap dikotomis dalam kerasulan tata dunia; serta penataan secara profesional semua sumber daya dan aset yang mendukung karya pastoral.

Kendati demikian, kami pun telah menyadari bahwa masih terdapat hal-hal yang kurang menggembirakan dan perlu dibenahi lagi, seperti rendahnya motivasi untuk membaca dan merenungkan Kitab Suci dalam keluarga dan KUB; rendahnya partisipasi bapak-bapak dan orang muda dalam perayaan-perayaan sakramen (khususnya sakramen tobat); masih lemahnya kesaksian iman dalam tata dunia; KUB belum dihayati sepenuhnya sebagai organisme yang hidup dan komunitas perjuangan; kurangnya perhatian terhadap kelompok strategis (khususnya pasutri muda dan OMK); dan pengelolaan sumber daya dan aset yang belum optimal.

Sambil memohon, Domine Ut Videam (Tuhan, Supaya Aku Dapat Melihat) dan tergerak oleh inspirasi Sabda Allah tentang orang Samaria yang baik hati (Luk 10:25-37), kami terajak untuk mendasarkan hidup dan pelayanan pastoral pada Sabda Allah, terpanggil menjadi subyek pastoral yang bersemangat solider-kristiani, terlibat dalam karya pastoral sebagai ekspresi iman yang hidup, serta memiliki hati peduli seperti orang Samaria yang peduli serta berani meniti “jalan yang sama”, yakni jalan pelayanan pastoral Gereja yang penuh dengan tantangan dan kesulitan.

Apapun tantangan dan kesulitan yang dihadapi, karya pastoral di keuskupan kami ini ke depan, harus tetap berjalan. Oleh karena itu, bertolak dari refleksi kritis atas kinerja pastoral selama tahun kerja 2011-2015, kami telah menemukan sejumlah alasan atau faktor yang berdampak pada keberhasilan dan kegagalan. Dan untuk itu, kami telah memetakan masalah dengan merefleksikan hal-hal dominan, yaitu kualitas FP/kepemimpinan, pola atau sistem kerja pastoral, pengembangan aset, sarana, dana, dan materi serta umat.

Selanjutnya, kami meyakini bahwa untuk mengoptimalkan faktor-faktor dominan di atas, kami terdorong untuk melakukan sejumlah upaya pastoral, antara lain pelatihan/pendampingan lanjut para FP, memperdalam spiritualitas pelayanan dan etos kerja, meningkatkan koordinasi struktural dan lintas sektor, terutama mulai dari tingkat puspas, kaderisasi dan regenerasi, memperbaiki mekanisme rekrutmen, melakukan monev secara rutin, menyusun pedoman FP dan pedoman pengelolaan keuangan (menetapkan aturan organisasi), mengoptimalkan sumber daya termasuk mengelola keuangan secara profesional, memanfaatkan SDM tamatan Stipar, katekis, dan guru agama, membangun jejaring/kemitraan dengan pihak-pihak yang berkepentingan seperti pemerintah dan tokoh adat.

Lebih lanjut, kami menetapkan pula lima kelompok strategis dalam karya pastoral lima tahun ke depan, yaitu anak-anak, remaja, OMK, pasutri muda, dan FP pada semua jenjang. Sebab kami yakin bahwa dalam kurun waktu lima tahun yang akan datang, kami akan menangani secara sungguh-sungguh pastoral anak-anak dan remaja, pastoral orang muda, pastoral pasutri muda, pemberdayaan dan pendampingan FP untuk semakin berperan optimal serta penanganan dan pengelolaan aset secara lebih efektif, efisien dan profesional.

Akhirnya, kami meyakini bahwa Muspas VII telah sungguh-sungguh terjadi dalam suasana doa dan reflektif. Kami pun telah meminta kepada Tuhan, Domine, ut videam (Tuhan, supaya aku dapat melihat), untuk mencelikkan mata budi dan mata nurani kami sehingga kami sanggup mencermati secara lebih teliti, berbicara dengan lebih jujur, berani dan transparan tentang kinerja pastoral kami selama lima tahun. Dan kami yakin pula, bahwa Tuhan pun telah menjawab permohonan kami, Manete in me – Tinggallah di dalam Aku (Yoh 15:4) sehingga kami mampu berkarya bersama Dia dan bekerja seperti Dia untuk mewujudkan visi Gereja lokal kami, sebagai persekutuan umat basis yang injili, mandiri, solider dan misioner.*** (Flores Pos, 12 dan 14 September 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s