Orang Gila Berteriak “Domine, Ut Videam”

Gila

Orang dengan gangguan jiwa

Oleh Avent Saur

Kapel Stasi Detumbawa, Paroki Roworeke, Keuskupan Agung Ende. Letaknya, sekitar sepuluh kilometer arah timur Kota Ende.

Di dekat kapel itu, ada beberapa rumpun pisang, dan pada salah satu rumpun pisang itu, seorang yang menderita gangguan jiwa atau gila, berdiam. Rumpun pisang itu dijadikannya sebagai rumah, tanpa dinding, tanpa atap. Di sana, ada beberapa kain lusuh dan celana panjang usang, serta sebuah pelupuh bambu – sebagai alas tidur – yang langsung diletakkan di tanah.

Dia adalah seorang Bapak yang tidak menikah, sudah lama gila; dia adalah seorang warga negara Republik Indonesia, seorang umat agama Katolik.

Kalau pada zaman Orde Baru, realitas sosial ini diangkat ke publik, apalagi di media, mendiang Soeharto yang otoriter dan totaliter itu pasti marah. Wartawannya pasti ditangkap, digiring ke penjara. Lebih dari itu, medianya diberedel.

Mengapa? Karena dengan mempublikasikan realitas itu, penguasa negara merasa ditelanjangi, kekurangannya dibongkar. Itu pertanda bahwa mencari solusi atas realitas itu adalah tanggung jawabnya, dan realitas itu terjadi karena kelalaian atas tanggung jawab itu.

Dan sekarang, ketika realitas itu diangkat ke publik, apa reaksi penguasa lokal? Tidak menangkap wartawan, tidak juga memberedel media, tetapi mencari solusi, apakah ya? Mereka pasang badan, menutup mata sekalipun telah melihat, menutup telinga sekalipun sedang mendengar dan menyelubungkan hati serta pikiran sekalipun merasa peduli. Dan realitas itu sudah sangat jelas menunjukkan bahwa ketidakpedulian itu ada, semacam bentuk lain dari perilaku rezim Orde Baru yang sudah belasan tahun ditinggalkan. Keadilan sosial yang selalu diperdengarkan masih jauh dari harapan, belum menyentuh kehidupan Bapak itu.

Itu perihal tanggung jawab negara. Bagaimana tanggung jawab agama, dalam hal ini, Gereja? Sudah sejak sediakala, Gereja ada untuk melayani orang seperti itu. Tugas Gereja ini adalah warisan dari Sang Guru, Yesus. Ketika Gereja sudah melembaga, pelbagai gagasan teologis dituangkan dalam pelbagai ajaran terutama ajaran sosial Gereja, dimulai dari yang paling populer Ensiklik Rerum Novarum tahun 1892, buah tangan Paus Leo XIII. Hingga sekarang pun, pelbagai ajaran sosial Gereja disebarkan, dan oleh para pemimpin Gereja lokal (uskup) melalui surat gembala, pertemuan para uskup dalam wilayah-wilayah dan kawasan negara bahkan benua, pelbagai ajaran serupa dipublikasikan. Dan ajaran-ajaran itu telah disederhanakan dalam bentuk pelbagai program pastoral-misioner.

Tanpa menutup mata terhadap pelbagai pengalaman yang menggembirakan, realitas hidup Bapak itu, dan tentu pelbagai realitas lain yang setara bahkan sama di pelbagai tempat, menunjukkan bahwa wujud nyata dari ajaran sosial Gereja itu belum menyentuh kehidupan Bapak itu. Perjuangan pembebasan – dalam konteks Indonesia, teologi pemerdekaan – sama sekali belum dirasakan sang Bapak itu. Dengan itu, setara dengan tema Musyawarah Pastoral VII Keuskupan Agung Ende di Mbay – Nagekeo yang barusan usai beberapa hari lalu, betapa kita bisa membayangkan, Bapak itu menyerukan dalam diam “Domine, Ut Videam” – Tuhan, semoga aku melihat (Markus 10:51). Ia sedang buta, ia perlu ditolong. Dalam konteks Muspas, para fungsionaris pastoral juga buta, perlu ditahirkan, agar peka dan tajam melihat keprihatinan sesamanya dan bergerak mengatasinya.

Sedikitnya, menggambarkan realitas yang terjadi sekarang, kiranya benar apa yang pernah disinggung Paus Fransiskus: “Satu keprihatinan serius sekarang adalah globalisasi ketidakpedulian yang tentu berkembang dari glokalisasi ketidakpedulian”.

Ketidakpedulian itu juga ada di sekitar kita, di dalam diri kita, di dalam Gereja lokal kita. Saat tidak peduli, sebetulnya, kita sedang buta, dan kita pun sama-sama memohon, “Domine, Ut Videam”.

Lebih dari itu, “semoga aku melihat” tidak cuma dalam bentuk ajaran dan hasil evaluasi serta rangkuman musyawarah pastoral, melainkan memang sungguh sebuah praksis pastoral, salah satunya, menyentuh si Bapak itu.*** (Flores Pos, 15 September 2015)

Baca juga:

Rangkuman Muspas VII Keuskupan Agung Ende

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s