Soliditas Kristiani

Surabaya

Pose bersama sesepuh (ketiga dari kiri) dan umat yang berulang tahun dalam bulan Oktober, di Lingkungan Antonius Padua 4, Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria (Kelsapa) Kepanjen, Keuskupan Surabaya, usai doa rosario bersama.

Oleh Avent Saur

Malam itu, 30 Oktober 2015. Di salah satu rumah umat, di Jalan Kalongan Kecil Nomor 5, Surabaya, duapuluhan umat Katolik berkumpul. Mereka menggelar ibadat rosario. Jumlah itu terhitung lumayan banyak, jika dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya – sekira belasan umat. “Ada mimpi baik mungkin yah,” demikian celetuk seorang bocah. Entahlah.

Riilnya, jumlah umat (jiwa) di Lingkungan Antonius Padua 4 (ada Antonius Padua 1-3), Wilayah Antonius Padua, Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria (Kelsapa) Kepanjen, Keuskupan Surabaya, sekitar 120-an orang dari 50-an kepala keluarga.

Bukan cuma pada Bulan Maria (Mei) dan Bulan Rosario (Oktober), umat di wilayah ini – kemungkinan besar di wilayah lain juga dalam batas paroki itu – menggelar doa yang sama, juga kadang doa peringatan arwah, sekali dalam sepekan; terutama pada bulan-bulan puasa dan Bulan September untuk pendalaman Kitab Suci. Bulan-bulan lainnya, sekali sebulan. Entah hari apa, itu ditentukan secara kolektif. Tidak tetap. Dinamis.

***

Sifat kolektif, kolektivitas – bukan kolektivisme – itu sebetulnya yang mau ditekankan. Dalam rumusan positif lainnya, itu sama artinya solid, kompak, bersatu, kuat, bahkan solider. Atau dalam rumusan negatifnya: tidak retak, tidak terpecah, tidak tercerai-berai, tidak berserakan, tidak lemah, tidak egois atau tidak individual. Yah, tentu semua itu relatif, kurang-lebih, tidak “seobjektif-objektif” sebagaimana mungkin pernah dibayangkan atau disaksikan.

Pertama, soliditas tampak dalam kesepakatan untuk menentukan hari (kapan) berdoa – yang sekalipun dalam banyak kelompok umat di pelbagai daerah di mana saja atau jenis kelompok apa saja, hal ini terbilang biasa dan terlampau kecil nan sederhana.

Namun tentu ada kisah unik. Dalam lingkungan Antonius Padua 4 itu, ada seorang Bapak tua renta, usianya 80-an tahun, yah 89 tahun (itu menurutnya, sedangkan menurut warga di situ 90 tahun, sehingga pada 14 Februari 2015, ia merayakan HUT seturut penghitungan warga itu). Saking besarnya rasa hormat terhadap Bapak itu, yang konon – bukan cuma dalam anggapan melainkan memang nyatanya demikian – sangat berjasa untuk lingkungan bahkan paroki itu, puluhan umat itu bersepakat untuk (sejak dua tahun lalu) menggelar doa bersama di rumah milik Bapak itu, lantaran ia tak bisa berjalan-jalan lagi. Di saat masih sehat, ia tidak bisa tidak terlibat.

Mungkin kata-kata nabi Maleakhi dalam Perjanjian Lama tepat untuk kesaksian kelompok umat ini: “Seorang anak menghormati bapanya, dan seorang hamba menghormati tuannya” (Mal 1:6), yang mana hubungan hamba-tuan itu telah dibarui Yesus dalam Perjanjian Baru menjadi hubungan murid-guru, atau sahabat-sahabat: “Kamu adalah sahabat-Ku. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba” (Yoh 15:14-15).

Entah siapa pun, kenyataan umat seperti ini tentu dinilai sangat mempersaksikan sebuah kolektivitas-soliditas kristiani yang tak mudah patah.

Kedua, jumlah puluhan orang yang hadir dari total seratusan orang tentu bukanlah sebuah jumlah yang terbilang banyak. Tapi berbicara tentang kualitas iman – sekalipun kualitas itu sulit diukur oleh mata dan pikiran manusia – sedikit atau banyaknya jumlah mungkin bisa tidak boleh dijadikan persoalan yang mesti dipertanyakan. Sebaliknya, untuk jumlah puluhan itu, kalau memang mereka menyakinkan, tentu itu harus dibanggakan.

Santo Paulus, rasul para bangsa itu, memang dengan keras berbicara tentang Gereja sebagai tubuh di mana Kristus sebagai kepala, dan umat sebagai anggota-anggota. Dalam cara pandang teologis seperti ini, bukan berapa jumlah anggota Gereja itu yang ditekankan melainkan persatuan anggota-anggota itu dalam satu semangat karena semuanya dibaptis dalam Roh yang sama. “Sebab dalam satu Roh,…. kita semua telah dibaptis menjadi satu tubuh” (1Kor 12:13).

Rasa persatuan (satu tubuh, aneka anggota), tercermin dalam intensi-intensi doa yang terungkap: doa untuk pasangan yang berulang tahun pernikahan dan ulang tahun kelahiran, kesembuhan untuk orang yang sakit, keselamatan jiwa untuk orang yang sudah mendahului, kesuksesan dalam perjuangan di panti pendidikan (termasuk di seminari) dan dalam karya, atau juga memohon solusi atas persoalan rumah tangga.

Tentu semakin terkesan, ketika segelintir orang yang disebutkan dalam doa-doa itu tidak menghadiri perkumpulan doa tersebut, tentu lantaran beragam alasan. Kiranya ini berarti doa-doa itu terucapkan dalam semangat kesatuan yang sama sebagai  anggota persatuan kristiani.

Maka sekali lagi, perkataan Santo Paulus: “supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu, jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita,” (1Kor 12: 25-26) mendapat bentuk riilnya dalam kesaksian iman perkumpulan itu.

Ketiga, dengan demikian, hal yang mesti diakui adalah di sana bertumbuh subur sebuah solidaritas, yang tidak lain – menurut John Sobrino, seorang teolog Amerika Latin –berarti sebuah kesaksian hidup “mengambil bagian” dalam keadaan hidup orang lain, bukan terutama karena ia seiman melainkan terutama karena ia sesama manusia. Mereka merasa saling memiliki satu sama lain, merasa hidup sepenanggungan.

Mereka juga tampak sederhana, dan mengekspresikan sebuah hubungan satu sama lain dalam keadaan yang (c)air; mengalir spontan sebagaimana seorang mistikus secara pribadi merasakan aliran daya Roh Kudus dalam seluruh tubuhnya.

Keempat, dalam banyak negara demokratis, apalagi Indonesia, agama sebagai salah satu identitas sosial sering kali dipolitisasi – dipakai sebagai sarana untuk mendulang uang dan kuasa. Kemungkinannya memang kecil – tapi bukan sama sekali nothing – bahwa sebagai kelompok minoritas, bahaya politisasi yang notabene merusak soliditas dan solidaritas kristiani mewarnai identitas sosial mereka. Semoga tidak.

***

Kurang-lebih, perkumpulan umat di Jalan Kalongan Kecil itu menjadi salah satu bukti soliditas kristiani yang patut dihargai dan diteladani.*** (Flores Pos, 5 November 2015)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE, OPINI and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s