Ini Sudah Cukup

Becak

Tukang becak menunggu penumpang.

Oleh Avent Saur

“Sehari, kamu mendapat berapa penumpang?” tanya pria muda kepada tukang becak dalam suatu perjalanan.

Tukang becak itu, napasnya agak terengah, kalimatnya pun terputus-terputus. Selain karena usianya yang sudah mulai uzur, juga mendayung becak dengan beban 60-an kilogram.

“Sekitar lima orang…. Bisa juga empat…. Yah,,,itu tidak biasa dihitung. Yang penting ada,” jawabnya.

“Kamu tinggal di mana?” Pria itu menanyainya untuk kedua kalinya. Seketika, tukang becak tertawa sambil menjawab, “yah tinggal di sana….”

Terasa kurang jelas, pria itu lanjut bertanya, “Di mana?”.

Ia terdiam. Tenang nan pelan, ia menjawab, “Kampung saya di Lamongan sana. Di sana ada rumah, tapi direbut adik. Adik merasa lebih kuat, saya pun mengalah. Adik lainnya berada di Malaysia. Mereka pulang baru kami kompak melawan adik yang anggap diri kuat itu. Tapi saya tak mau ikut perlawanan itu. Tak usah, tak penting.”

Jawaban tukang becak itu tentu menginformasikan hal lain yang memang terkait, tapi tidak ditanyakan. Tapi pria itu pun berkesimpulan bahwa tukang becak itu tak punya tempat tinggal.

Namun begini pikir pria itu. Entah seperti apa pun kondisinya, seorang anak manusia mesti memiliki tempat tinggal di bumi ini. Kisah tua tentu semua manusia tahu, misalnya. Perihal Anak Manusia asal kampung Nazaret yang mau tidak mau dilahirkan di kandang binatang. Layak atau tidak layak tempatnya, harus ada tempat kelahiran.

“Tapi tempat tinggalmu sekarang di mana?” Lanjut tanya pria itu selain ingin pertanyaannya dijawab secara terang, tapi juga ingin membuyarkan cerita tak sedap keluarganya.

“Ya, di sana. Jauh di sana.”

“Di mana?”

Apakah dia sungkan memberitahukan tempat tinggalnya? Ataukah dia memiliki banyak tempat tinggal sampai-sampai ia tak memberitahukannya secara spontan satu pun? Apakah tempat tinggalnya tak layak diketahui orang?

Sejenak pria terdiam. Tukang becak itu juga terdiam.

“Bukan hanya saya, melainkan juga beberapa teman saya. Kami tidur di sebuah pos satpam. Petugas satpamnya baik sekali. Tapi dia cuma terima kami saja. Yang lain tidak.” Diam kami pecah. Tukang becak itu melanjutkan percakapan.

Katanya lagi. “Malam, kami ke sana. Pagi-pagi buta, kami ke pangkalan becak. Setiap hari begitu. Pagi-pagi buta, supaya bos dari petugas itu tak mendapati kami.”

“Ohhh…sembunyi-sembunyi?”

“Iya!”

“Ah, orang ini tak punya tempat tinggal. Saya tumpang di becaknya, tapi dia tumpang pada rumah orang. Malah bukan rumah, cuma pos jaga.” Begitu kata batin pria itu.

“Bagaimana nanti kalau orang yang tidak punya tempat tinggal ini meninggal? Dia akan disemayamkan di mana? Dia akan dimakamkan di mana? Siapa yang akan mengurusnya?” Kata batinnya berlanjut penuh tanya.

Seketika pria itu heran bukan kepalang. Seolah tukang becak itu mengetahui kata-kata batinnya.

“Hidup ini hanya sementara saja. Apa yang saya miliki, semuanya, terasa sudah cukup. Pergi ke dunia seberang nanti kan tak bawa harta apa-apa. Begitulah keyakinan orang Jawa. Lalu sekian banyak orang menafsir salah keyakinan itu. Kata mereka, karena pergi ke dunia seberang tak bawa harta apa-apa, maka selama hidup sementara di dunia, manusia harus memanfaatkan harta itu sepuas-puasnya, sesenang-senangnya. Manusia harus mendapatkan harta itu sebanyak-banyaknya.”

“Itu keliru. Bukan begitu. Seharusnya, karena tidak bawa harta apa-apa, maka manusia harus memiliki secukupnya, bukan sebanyak-banyaknya; manusia harus memanfaatkan secukupnya, bukan sepuas-puasnya dan sesenang-senangnya. Ada sekian banyak orang yang menghindari keyakinan itu, lalu memenuhi nafsu serakah, bahkan tenggelam di dalamnya sampai-sampai tak lagi peduli orang lain, apalagi dunia seberang itu. Orang sungguh hidup di sini, tenggelam dalam hiruk-pikuk dunia ini.”

***

Ini bukan kisah fiktif: film atau drama, atau juga teater. Ini nyata. Seorang yang tidak berpendidikan, tak berijazah apa pun, sehari-hari bekerja hanya mengayun becak, sungguh memegang hal paling fundamental dari misteri hidup ini. Hal paling fundamental itu adalah praksis yang realistis dalam konteks kini, dan keyakinan eskatologis yang menjanjikan. Dia sungguh menyadari apa itu hidup kini dan di sini, serta nanti, tanpa memikirkan dengan sekuat tenaga soal harta duniawi yang dimilikinya kini.

Sepintas, tukang becak itu adalah seorang yang pesimistis dan terjerembab dalam fatalisme. Namun secara mendalam, sebetulnya ia sedang melawan arus konsumerisme dan hedonisme yang notabene senantiasa mewarnai petualangan hidupnya di tengah-tengah kota terbesar kedua di Tanah Air ini.

Ia tahu betul, dalam keadaannya kini, tidak banyak berbuat apa-apa untuk berubah secara berarti. Tapi ia juga tahu betul apa yang harus ia lakukan. Di pinggir jalan, ia meneguk setetes minuman manis, juga makanan ala kadarnya. Di pos jaga milik orang, ia tidur dengan tenang. Sembari menunggu penumpang datang, yang sepanjang hari cuma empat atau lima orang, ia tertidur pulas di becaknya seusai melahap koran-koran kota dan nasional dari headline news hingga halaman terbelakang.

Rasanya, ia tetap bahagia lantaran itu semua diperolehnya dengan cara halal: hasil keringat sendiri. Bukan harta curian, bukan juga tipuan. Bukan taktik, bukan juga siasat. Bukan hasil omong kosong dan tindakan berpura-pura. Ia pun melawan arus loba dan keserakahan orang-orang berharta dan berkuasa di “Republik sialan” ini.

“Ini sudah cukup” bukan fatalisme. Inilah praksi hidup seorang manusia yang berdamai dengan apa yang ia punyai.*** (Flores Pos, 3 Desember 2015)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE, OPINI and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s