Nurani

Nurani

Wakil rakyat kita. Tidur dan main Hp saat sidang tentang nasib bangsa.

Oleh Avent Saur

Nuraninya tertutup rapat, bahkan hancur, tak utuh lagi. Seperti apa rapat dan hancurnya? Dan apakah mustahil dibuka lagi?

Rapatnya itu sulit dianalogikan sekalipun memang bisa dibayangkan bahwa nurani itu memiliki pintu, atau mungkin juga nurani itu, semuanya adalah pintu. Tapi bagaimana pun rapatnya, oleh sebab adanya kebebasan sebagai sesuatu yang hakiki dalam diri manusia, pintu itu – sekalipun mungkin tidak bisa dibuka lebar – setidaknya ia bisa diperlonggar. Memang tidak semua anggota MKD itu menutup rapat nuraninya. Ada segelintir yang nuraninya terbuka bahkan terbuka lebar seperti yang publik inginkan. Yang diharapkan, semuanya terbuka, atau sekurang-kurangnya mayoritas, sekalipun dengan lebar yang bervariasi dan dinamis.

Mayoritas itulah yang sedang diperjuangkan hingga kini, bukan cuma dalam kasus dan kasak-kusuk serta benang kusut perilaku error SN, melainkan juga dalam semua pergumulan wakil rakyat di senayan nun jauh sana itu. Sebab telah tampak sangat terang benderang, terjadi kehancuran nurani, yang juga menunjukkan betapa tidak mulia dan tidak terhormatnya lagi wakil-wakil kita itu.

Karena tertutup, maka nurani itu juga hancur, tidak utuh, berkeping-keping. Karena tertutup dan hancur, serta dalam ketertutupan dan kehancuran itu, maka pemilik nurani tidak berdaya lagi untuk memindai mana yang baik dan mana yang buruk. Bahkan pemilik nurani sangat condong – dan sungguh faktanya demikian – memandang semua yang buruk sebagai yang baik. Dengan cara apa pun, ia terus memandang secara demikian dan terus membelanya dengan cara pandang “mata nurani yang sudah buta itu”.

***

Siapa pun sudah tahu – entah melalui pembelajaran formal, entah juga alamiah dan kultural – hati nurani adalah pedoman moral, atau seturut filosof Imannuel Kant, adalah piranti moral. Dari dalam nurani itu, dan atas dasar nurani itu pula, manusia mendengar dan mengetahui serta menjalani hidupnya dengan melakukan sesuatu yang baik dan menghindari yang buruk. Orang beragama meyakini bisikan nurani itu sebagai suara pribadi Ilahi yang transenden, dan aksi menyangkalinya terasa sebagai sebuah pembangkangan yang berujung dosa yang terus mengusik kehidupannya.

Hal ini jugalah yang disinggung oleh rohaniwan Benny Susetyo, perwakilan dari Koalisi Masyarakat Bersihkan DPR dalam Talk Show Mata Najwa bertajuk “Sidang Rakyat: Mosi Tidak Percaya” belum lama ini. Bukan cuma Benny, melainkan juga hampir semua rakyat Indonesia meyakini bahkan berani memutuskan bahwa substansi persoalan SN adalah benar adanya, dan itu semua adalah buruk. Dengan itu, secara etik-moral, dan sungguh persidangan yang digelar MKD adalah sidang etik wakil rakyat, itu adalah sebuah pelanggaran yang mesti ditindaklanjuti dengan hukuman. Dan itu pulalah nurani publik, nurani masyarakat, nurani sosial, nurani landasan moral bangsa beradab ini.

Hanya manusia yang nuraninya buta dan hancur, masih mempersoalkan sesuatu yang sudah “nyata-nyata” terjadi menjadi sesuatu yang nyata-nyata “diada-adakan” terjadi. Dan hanya manusia seperti itu juga yang membalikkan yang buruk menjadi yang baik. Tidaklah lain, ini disebut kebiadaban, mencederai keadaban.

***

Dan apa sebab? Kiranya, tidak terlalu sulit bagi kita untuk mencari akar penyebabnya. Yang paling tampak adalah bahwa wakil rakyat kita lebih mementingkan diri sendiri dan kelompok daripada rakyatnya; maka dalam dirinya, ada egoisme, keserakahan (memperalat kekuasaan), dan kesenang-senangan. Ia pun lupa kepentingan publik-rakyatnya.

Di situ, ia sekuat tenaga mempertahankan korps, yang kasat mata, sebetulnya sudah tercemar. Agaknya tentu bagi kita, tidak akan masuk di akal sehat, wakil rakyat kita ingin menjadikan keburukan sebagai kebaikan. Tentu tak akan tercapai, dan itu tak akan terjadi pula, kecuali semua kebenaran dijungkirbalikkan dengan perasaan tanpa ampun sedikit pun. Kalau Burung Garuda itu – yang di dekatnya terdapat lima sila yang mulia itu – hidup dan punya roh, maka ia akan mencuit dan membuang kotorannya ke atas ubun-ubun wakil rakyat kita.

Di manakah kecerdasan-kecerdasan yang dulu katanya mereka miliki? Kecerdasan intelek, misalnya. Seorang anggota MKD bilang, masalah moral adalah seputar benar atau salah. Kalau benar, maka SN dihukum; kalau salah, ya tidak dihukum. Ia lantas kaget, ketika Benny Susetyo bilang, masalah moral itu bukan soal benar atau salah, melainkan soal baik atau buruk. Dengan sendirinya, sekaligus, kecerdasan moral wakil rakyat itu pun ternoda, selain kecerdasan inteleknya.

Demikian juga kecerdasan kewargaan tentunya, yang dalam dasawarsa terakhir sangat dijunjung tinggi oleh Daniel Goleman, seorang ahli yang menggeluti ilmu baru soal hubungan antarmanusia. Kata Daniel Goleman, dalam diri manusia terdapat “naluri belas kasih”, yang juga ada dalam binatang. Kita mudah menduga bahwa dalam diri wakil rakyat kita, naluri belas kasih itu terkikis jadi semakin tipis, sementara “naluri tidak pedulinya” semakin tebal.

Bersama dengan putusan atas perilaku SN ini, wakil rakyat dan kita terus mengarungi samudra untuk mengantar bangsa ini entah ke mana, yang sesungguhnya, harus mengikuti pedoman hati nurani bangsa. Hati kita mesti selalu terbuka dan selalu utuh demi mencapai cita-cita mulai bangsa dan negara Pancasila ini.*** (Flores Pos, 17 Desember 2015)

Nurani2

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s