Bandara Komodo dan Pariwisata Mabar

Labuan Bajo-Bandara Komodo1

Beberapa warga bersendagurau di pintu gerbang masuk Bandara Komodo, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat. Tampak gedung bandara dengan atap yang membentuk lipatan terpal raksasa. Gedung bandara yang bertaraf internasional ini dibangun menjelang perayaan Sail Komodo, September 2013. Gambar diabadikan, Selasa (7/4) pagi.

Oleh Avent Saur

Teramat sederhana omongan Gubernur NTT Frans Lebu Raya perihal tujuan dan alasan renovasi dan pembangunan Bandara Komodo di Labuan Bajo, Manggarai Barat. “Bandara Komodo, awalnya sebagai bandara perintis. Namun pada tahun 2012/2013, direnovasi dalam rangka Sail Komodo supaya pesawat Presiden RI (Susilo Bambang Yudhoyono) saat itu mendarat di Labuan Bajo pada acara puncak Sail Komodo, September 2013” (Flores Pos, 28/12/2015).

Benar bahwa Bandara Komodo dikembangkan menjadi bandara nasional atau juga mungkin lebih tepat disebut sebagai bandara kawasan Nusa Tenggara setelah bertahun-tahun berstatus bandara perintis dengan terminal yang sederhana bergaya rumah adat Manggarai (sekarang bergaya modern seperti mall atau pusat perbelanjaan). Namun tujuannya bukan semata-mata supaya pesawat sang presiden bisa mendarat di bandara Flores Barat tersebut, melainkan tentu sebagaimana diungkapkan Presiden Jokowi, terutama “supaya meningkatkan perekonomian masyarakat yang dikaitkan dengan dunia pariwisata Manggarai Barat”.

Omongan nan sederhana serta tidak visioner itu menggambarkan kerangka berpikir orang nomor satu di provinsi ini (juga pemimpin di Mabar?) perihal rencana pembangunan Mabar seluruhnya, dan pariwisata khususnya. Pertama-tama, misalnya, dana Sail Komodo yang diwarnai korupsi, yang sampai saat ini belum diusut secara jelas oleh kejaksaan setempat (?). Demikian juga kabar penjualan aset provinsi (dan daerah?) seperti Pantai Pede kepada kapitalis. Hal lainnya, soal kondisi Kota Labuan Bajo yang kotor dan potensi-potensi pariwisata di beberapa titik di seantero wilayah Mabar yang belum tersentuh sedikit pun atau sudah tersentuh tapi masih sekadarnya saja.

Sebut saja yang sangat potensial, destinasi wisata Danau Sano Nggoang di Desa Wae Sano, Kecamatan Sano Nggoang; wisata Istana Ular di Desa Galang, Kecamatan Welak; wisata Pantai Nangalili dengan pantai yang luas dan pasir putih yang gampang diterbangkan angin, di Desa Nangalili, Kecamatan Lembor. Tentu ada wisata lain lagi, misalnya, wisata budaya.

Wisata-wisata ini saja tidak diurus dengan baik (dana untuk pembangunannya diendapkan ke kantong pribadi dan keluarga?), apalagi merencanakan wisata kreatif buatan manusia sebagaimana mungkin pernah kita saksikan di wisata Pura Tanah Lot dan wisata Pura-Danau Bedugul di Bali. Kita boleh bermimpi untuk “seperti di Bali ini”, tapi akan lelap dalam mimpi panjang tersebab para pemimpin kita yang berpikir terlampau sederhana – dan itu berarti pragmatis – serta tidak visioner (bukan cuma dalam hal pariwisata).

Kalau begini ceritanya, maka harapan Presiden Jokowi pada saat peresmian terminal Bandara Komodo merupakan harapan yang cukup jauh dari perwujudan. “Semakin banyak wisatawan yang keluar masuk Bandara Komodo, diharapkan penginapan-penginapan rakyat tumbuh subur di daerah ini. Ekonomi kreatif juga diharapkan bertumbuh kembang, usaha mikro dan usaha kecil yang ada di kampung-kampung juga demikian, semakin maju.” Itu harapan Jokowi. Lantas apa yang akan dibuat oleh pemimpin lokal kita: gubernur Frans dan Bupati Mabar yang baru nanti (yang notabene mungkin bupati dengan masih tetap semangat lama?).

Jangan sampai, kita akan tetap bernasib seperti kata penyair lokal dalam puisi berjudul “NTT”. “Sudah sekian lama aku berbalut sepi dan terbenam luka, menanti mimpi yang mengusir sepi dan menutup luka ini. Tapi mimpi tak kunjung datang. Aku pun tenggelam dalam samudra harapan tak bertitik batas.// Ketika napasku hampir usai sudah, mimpi datang dan mengatakan ini: ‘Pada penghujung usiamu ini dan pada mimpi pertama sekaligus terakhir ini, hanya kata-kata ini yang boleh kau miliki, dan silahkan itu kau bawa pergi bersama kepergiaanmu: nasibmu tak tentu, negeriku tukang tidur, nantiku Tuhan tolong, nusaku tenggara timur, NTT.’”*** (Flores Pos, Selasa, 29 Desember 2015)

Baca terkait:

Labuan Bajo, Kota Persoalan

Pantai Pede dan Identitas Masyarakat Lokal

Tolak Privatisasi Pantai Pede

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s