Sebungkus Nasi untuk Orang Gila

Gila

Seorang mama yang mengalami gangguan jiwa ditemui di emperan toko di area pertokoan dekat Pantai Ende, Sabtu (26/12). Seperti kepada teman-teman lainnya, ia diberikan sebungkus nasi, juga sempat bercakap-cakap seadanya. Tuhan menyertaimu, mama. Ada orang-orang baik yang akan menolongmu. Selamat menggembara menuju tanah dan rumah-Nya. Niscaya, mama akan sampai dengan selamat.

Oleh Avent Saur

Sehari usai natal, pada peringatan Martir Stefanus, saya bertandang ke rumah seorang Ibu di Ende. Tidak lama berselang, seorang Ibu lain menyusul bertamu juga di rumah itu. Ada beragam hal yang kami bicarakan. Salah satunya, adalah perihal orang yang mengalami gangguan jiwa, juga menyinggung tanggapan pemerintah dan Gereja terhadap realitas orang-orang malang itu khususnya yang berdiam dan berkeliaran di Kota Ende dan sekitarnya.

Ini pertemuan pertama, setelah sebelumnya berelasi jarak jauh via handphone. Ada pun kisah perihal Ibu itu, terjadi sekitar sebulan lalu, ketika saya masih berada di Surabaya. Beliau berjasa menyediakan fasilitas bahkan mengorbankan tenaga dan kesempatan untuk mengantar seorang perempuan usia 40-an tahun yang mengalami gangguan jiwa ke Panti Rehabilitasi Jiwa Santa Dhymphna di Maumere. Sebut saja, nama orang gila itu, Mama Udis.

Pengorbanan Ibu itu diminta dengan hormat, setelah saya berkali-kali mengontak pihak Dinas Sosial Ende untuk memohon pertolongan perihal yang sama, di mana permohonan itu tidak dikabulkan lantaran SKPD itu sedang sibuk-sibuknya “mempersiapkan perayaan Hari Pahlawan 10 November” (begitu aku mereka).

Sebelum diantar ke panti, Mama Udis dirawat di rumah milik Ibu yang menyusul tadi. Beberapa bulan sebelumnya, oleh Ibu yang menyusul itu, Mama Udis dipungut dari salah satu got di pinggir Kota Ende dengan kondisi yang memprihatinkan. Rasanya, ia agak nyaman tinggal di rumah itu, tapi beberapa hari terakhir menjelang pengantarannya ke panti, Mama Udis kurang betah di rumah, entah kenapa. Bahkan suatu hari, seturut cerita mama penampung itu, ia keluar tanpa pamit dari rumah, lalu ia dicari, kemudian ia ditemukan di salah satu jalan di Kota Ende.

***

Kembali ke pertemuan tadi. Jelang siang, di hari pertemuan itu, kedua Ibu itu mengutarakan niat baik: pergi menemui orang-orang gila yang berkeliaran di Kota Ende dan ingin membagikan sebungkus nasi serta air mineral untuk mereka. Spontan, saya tidak percaya. Tapi ini nyata, lalu ikut serta menemani mereka bersama dua buah hati Ibu tuan rumah itu. Mereka berprinsip apa adanya, “Kalau kita bisa buat, mengapa tidak buat. Buat saja lah”.

Hari itu, ada tujuh orang gila ditemui: lima lelaki, dua perempuan. Semuanya berusia dewasa, Bapak-Ibu. Mereka ditemui di emperan area pertokoan dekat Pantai Ende dan di beberapa jalan utama dalam kota serta di Pasar Wolowona. Dari jauh, mereka tampak menakutkan karena tampang wajah dan gelagat menyeramkan, tentu juga penampilan fisik sungguh memprihatinkan. Namun ketika mendekat, rasa takut itu berkurang bahkan hilang seketika, apalagi ketika kita sudah bercakap-cakap dengan mereka sekalipun – seturut dialek Jawa – sering kali kurang nyambung.

Sekitar tiga jam lebih, kami berkeliling dan menyusuri beberapa jalan, lalu berakhir di Pasar Wolowona. Di pasar, dua orang gila sedang tidur pulas di lapak-lapak penjualan. “Bukan cuma ini, ada lagi di bagian dalam pasar, sekitar 4 orang,” tutur orang-orang yang nongkrong dekat lapak-lapak itu. “Selain empat orang itu, ada juga ini dan itu, biasa berkeliaran di jalan itu. Ada juga yang lain ini dan itu, mereka biasa berjalan-jalan di sana tu,” lanjut mereka sambil menyebut beberapa nama.

“Boleh jadi, seperti pegawai negara, mereka juga berlibur entah ke mana dan di mana. Yah, mungkin lain waktu saja. Kita pulang, dan beristirahat,” ketus salah seorang di antara kami.

Seturut informasi tersebut, di Kota Ende, ada sekian banyak jumlah orang malang itu, sebagaimana pernah disinggung dalam coretan terdahulu: DPRD Ende dan Orang Gila; Orang Gila, Gereja dan Pemerintah; Tuhan bagi Tadeus dan Orang Gila Berteriak “Domine, Ut Videam”, sekalipun tidak didasarkan pada penelitian obyektif; cuma cerita dari mulut ke mulut dan itu bertolak dari apa yang dilihat mata secara spontan.

***

Apa yang mau dimaknai dari kisah Ibu-Ibu pada hari peringatan Martir Stefanus itu? Ini hanyalah perbuatan kecil yang boleh jadi sebagai langkah awal untuk sebuah perbuatan besar, atau juga mungkin ada hal besar dalam perbuatan kecil itu. Atau juga, itu sama sekali kurang bahkan tidak bermanfaat bagi mereka selain merasa kenyang di siang itu saja, sementara sore atau malam di hari itu juga kelaparan dan kehausan sudah sedang menanti mereka. Demikian juga siang dan sore serta malam di hari-hari berikutnya.

Rasanya nasi sebungkus dan dua gelas air mineral di siang itu tak ada gunakannya sama sekali, apalagi untuk membebaskan mereka dari ikatan derita kejiwaan. Namun saya pikir, bukan soal kecil atau besarnya, sedikit atau banyaknya, melainkan inilah perbuatan langka yang hanya ditempuh oleh orang-orang yang berani menanggung malu dan menerobos serta melampaui kebiasaan negatif yang dipertontonkan secara kultural, sosial dan religius, serta politik, semisal ketidakpedulian yang akut.

Kita tentu tahu bahwa orang gila itu, sekalipun menurut saya sebagai orang sakit yang sangat menikmati sakitnya, adalah orang yang teralienasi (tersingkir, terbuang) dari pelbagai aspek seperti yang sudah disebutkan tadi: kultural, sosial, religius dan politik. Oleh karena ragam keanehannya, mereka dirasakan dan dipandang serta dianggap dan diperlakukan bukan lagi sebagai bagian dari budaya, sosial, agama dan dari kebijakan politik kita.

Dengan itu, setidaknya, sekalipun kecil dan mungkin hanya sekali ini saja, membagikan nasi bungkus dan air mineral serta yang terutama bercakap-cakap dengan mereka adalah sebuah pelampauan unik nan berani yang menunjukkan bahwa ada sesamanya yang coba memperhatikan mereka. Sekaligus itu sebagai sentilan untuk para pemangku budaya, tokoh masyarakat, pemimpin agama dan penguasa politik di daerah ini dan di wilayah-wilayah kita untuk segera mengurangi alienasi itu dan selanjutnya mewujudkan kepedulian khusus kepada orang-orang malang ini.

Selain memaknai kisah Ibu-Ibu ini, kiranya kita juga memaknai dan terus berjuang mewujudkan sentilan etis Paus Fransiskus, “Saya lebih bersimpati pada Gereja yang rapuh, terluka dan kotor karena menceburkan diri ke jalan-jalan, ketimbang sebuah Gereja yang sakit lantaran tertutup dan mapan mengurus dirinya sendiri”.

Kira-kira seperti inilah visi iman yang dengan gigih diperjuangkan oleh Martir Stefanus, yang secara berkeping mesti terus coba kita wujudkan dalam keseharian hidup kita. Salah satunya, melalui membagikan sebungkus nasi untuk sesama yang menderita gangguan jiwa.*** (Flores Pos, 31 Desember 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE, OPINI and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s