Gereja dalam Konteks Komunisme di Vietnam

Vietnam1

Para imam baru dan imam konselebrantes berpose bersama Uskup Penahbis Mgr Phaolo Bui Van Doc usai tahbisan di Gereja Katolik Paroki Xu Phu Trung, Keuskupan Agung Kota Ho Chi Minh pada pukul 08.30 pagi.

Oleh Venty de Costa SVD

Pater Venty de Costa SVD

Pater Venty de Costa SVD, Misionaris asal Manggarai Barat, Tinggal di Vietnam

Pada Kamis, 31 Desember 2015,Uskup Keuskupan Agung Kota Ho Chi Minh (Vietnam) Mgr Phaolo Bui Van Doc menahbiskan 22 diakon menjadi imam. Misa tahbisan imam baru tersebut terjadi di Gereja Katolik Paroki Xu Phu Trung, Keuskupan Agung Kota Ho Chi Minh pada pukul 08.30 pagi.

Sejumlah 21 diakon yang ditabiskan itu berasal dari Serikat Sabda Allah (SVD) dan satu lagi dari Serikat Klaris Santo Vincentius. Ke-21 imam baru SVD itu, antara lain Pater Giuse Tran Quang Chinh, Pater Anton Padova Tran Xuan, Pater Phero Tran Hai Ha, Pater Phero Hoang Han, Pater Giuse Nguyen Duc Hoa, Pater Giuse Nguyen Gia Hoang, dan Pater Vinshon Nguyen Duc Khanh.

Yang lainnya lagi, Pater Giuse Tran Minh Kiem, Pater Phero Nguyen Dinh Phung, Pater Anton Padova Do Quang Quoc, Pater Anton Padova Vu Duc So, Pater Giuse Vo Le Thanh Son, Pater Phero Nguyen Tai, Pater Anton Padova Nguyen Van Tao, Pater Gioakim Trinh San Thac, Pater Gioan Baotixita Nguyen Van Thuat, Pater Phero Mai Tinh, Pater Anton Padova Nguyen Van Ton, Pater Giuse Vu Thien Truong, dan Pater Gioan Baotixita Trinh Dinh Tuan. Sedangkan satu imam baru dari Serikat Santo Vincentius adalah Pater Tan.

Dari jumlah itu, sejumlah 14 imam SVD akan berkarya di Amerika Serikat, Spanyol, Afrika, Australia, Filiphina, Madagaskar, Angola, Papua New Gini, Chile, Korea, Thailand dan Brazil. Sedangkan 7 lainnya akan berkarya di Vietnam. Sementara satu imam dari Serikat Klaris Santo Vincensius akan berkarya di Vietnam.

Hadir dalam misa ini, Uskup Keuskupan Bui Cha (Vietnam Utara), Mgr Thomas Hieu, Provinsial SVD Vietnam Pater Giuse Tran Minh Hung SVD, pimpinan tarekat-tarekat religius dari berbagai kongregasi, ratusan imam, suster dan bruder dari berbagai kongregasi yang berasal dari seluruh pelosok Vietnam, keluarga para imam baru dan umat Paroki Xu Phu Trung. Sejumlah 3000-an umat memadati Gereja Paroki Xu Phu Trung.

Hindari Prinsip “Like and Dislike”

Dalam khotbahnya, Mgr Phaolo mengingatkan para imam baru tentang prinsip dasar panggilan menjadi imam. Dia mengatakan bahwa menjadi imam itu bukan sebuah pilihan melainkan sebuah panggilan. Sebagai sebuah panggilan, para imam harus sadar bahwa menjalankan tugas imamat hendaknya berjuang menghindari prinsip like and dislike.

“Jangan tunggu suka baru menjalankan tugas imamat. Pergilah dan jalankan imamat itu dengan sepenuh hati. Di sana anda diutus untuk melayani, dan bukan untuk dilayani,” ujar Mgr Phaolo.

Pada bagian lain khotbahnya, Mgr Phaolo mengapresiasi 22 imam baru tersebut. Menurut Mgr Phaolo, di tengah dunia yang sedang mengalami banyak persoalan di mana Gereja Katolik di Vietnam menghadapi banyak tantangan dan tekanan, mereka memberanikan diri untuk ditahbiskan menjadi imam.

“Ini adalah sebuah keberanian mulia. Sebagai pemimpin Gereja lokal, saya bangga terhadap anda sekalian. Melalui kalian semua, Gereja Katolik Vietnam telah menunjukkan jati dirinya. Kita masih ada dan keberadaan kita itu, tidak hanya untuk kita sendiri tetapi juga untuk dunia di sekitar kita. Saya berterima kasih kepada kalian, kepada Serikat Sabda Allah dan Serikat Santo Vincentius, serikat dari mana anda berasal, yang telah membentuk dan akan mempersembahkan kalian kepada Gereja, baik untuk Gereja lokal maupun Gereja universal di negara-negara lain,” katanya.

Mewakili para imam baru, Pater Anton Padova Do Quang Quoc SVD dalam sambutannya, menyampaikan ucapan terima kasih kepada uskup penahbis dan serikat, keluarga dan para donatur serta semua umat. Pater Anton berharap agar apa yang Tuhan dan Gereja, serikat dan umat harapkan kepada mereka menjadi kekuatan spiritual yang menopang mereka dalam menjalankan pelayanan dengan baik di mana saja mereka diutus.

Perjalanan Menuju Imamat

Proses menuju imammat para imam baru membutuhkan waktu yang cukup lama, kurang lebih 14 tahun. Ada begitu banyak liku-liku perjalanannya. Sebelum mereka bergabung ke biara, mereka terlebih dahulu berkuliah di berbagai universitas. Di sana, mereka belajar selama empat tahun hingga meraih gelar sarjana. Mereka berkuliah berdasarkan bidang minat masing-masing. Sesudah itu, barulah mereka melamar ke biara-biara untuk selanjutnya mengikuti proses pembinaan dan pendidikan khusus untuk menjadi imam.

Masa aspiran ditempuh selama 2 tahun, postulat 2 tahun, belajar filsafat 2 tahun, orientasi pastoral 2 tahun, belajar teologi 4 tahun dan masa diakonat selama 1 atau dua tahun. Waktu normal perjalanan menuju imamat mereka adalah kurang lebih 14 tahun. Kalau dalam perjalanannya, ada halangan, maka waktu untuk sampai kepada imamat itu bisa diperpanjang.

Ada sebagian dari 22 imam baru tersebut yang tahbisannya tertunda beberapa waktu lalu. Tertunda tahbis, bisa jadi karena alasan formasi atau juga karena alasan berkaitan dengan pemerintah. Sebab kontrol negara atas Gereja masih sangat kuat di Vietnam.

Meskipun perjalanan menuju imamat itu begitu panjang dan berliku-liku, semangat anak-anak Vietnam untuk menjadi imam tidak kendur bahkan jumlah imam dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan.

Gereja dalam Komunisme

Kontrol negara atas Gereja masih kuat di Vietnam. Akibatnya, ruang gerak Gereja pun semakin terbatas. Sejauh Partai (tunggal sosialis) Komunis masih berkuasa, kontrol negara atas Gereja mungkin tidak akan berakhir.

Vietnam4

Biarawati dan umat yang menghadiri misa penahbisan 22 imam baru di Gereja Katolik Paroki Xu Phu Trung, Keuskupan Agung Kota Ho Chi Minh pada Kamis, 31 Desember 2015, pukul 08.30 pagi.

Kontrol negara tersebut tidak hanya soal administratif, semisal soal izin bangun tempat ibadah gereja, tetapi juga kontrol berhubungan dengan inti ajaran Gereja. Ajaran Gereja atau sekurang-kurangnya khotbah-khotbah para imam tidak boleh menyimpang dari ideologi negara. Riilnya, Gereja tidak boleh mengkritik pemerintah.

Negara tidak memberi izin kepada Gereja untuk membangun sekolah, entah itu sekolah menengah bawah atau sekolah menengah atas atau pun juga perguruan tinggi atau universitas, misalnya. Semua lembaga pendidikan mulai dari tingkat paling bawah hingga tingkat paling tinggi, semuanya dikelola oleh negera. Kontrol negara tersebut pada gilirannya mempersulit ruang gerak Gereja Katolik Vietnam untuk membangun seminari-seminari atau lembaga pendidikan khusus untuk para calon imam. Negara bahkan mewajibkan semua anak untuk bersekolah di sekolah-sekolah umum milik negara.

Inilah salah satu alasan mengapa formasi dasar panggilan menjadi imam di Vietnam baru dimulai sejak mereka tamat kuliah di universitas-universitas. Sejak tahun 1965, ketika Partai Komunis berhasil menguasai tampuk pemerintah negara Vietnam, kontrol negara atas Gereja begitu kuat.

Sejak saat itu, Partai Komunis menjadi kekuatan politik utama negara dalam memegang dan mengendalikan kekuasaan. Setiap kebijakan politik dikendali oleh Partai Komunis di mana kebijakan politik itu diambil melalui Kongres Partai Komunis dan Majelis Nasionalis.

Pada tahun 1965, pemimpin utara negara Vietnam berhasil merebut wilayah selatan. Sebelum merdeka, wilayah selatan Vietnam merupakan wilayah dengan jumlah umat Katolik yang begitu tinggi, bahkan pemimpin wilayah selatan pada saat itu adalah seorang Katolik. Saat itu, Gereja masih diberi izin oleh negara untuk membangun sekolah-sekolah. Akan tetapi sesudah Partai Komunis menjadi penguasa, sekolah-sekolah tersebut dicaplok menjadi milik negara.

Meskipun demikian, perkembangan Gereja Katolik di Vietnam dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Peningkatan itu, tidak hanya dalam hal jumlah umat, tetapi juga dalam hal-hal lain seperti pembangunan gereja, biara bahkan panggilan menjadi imam, suster dan bruder selalu meningkat. Selain itu, relasi pemerintah dan Gereja juga semakin membaik, misalnya, dengan adanya penerimaan kembali duta besar Vatikan untuk Vietnam di mana pada beberapa tahun sebelumnya pernah ditolak oleh Negara.

Tahbisan imam pada penghujung tahun 2015 itu merupakan kabar sukacita bagi Gereja Vietnam khususnya, dan tentu juga Gereja sejagat. Lebih khusus lagi, peristiwa bersejarah itu sungguh menggembirakan Serikat Sabda Allah Vietnam dan SVD sejagat. Sejauh ini, ada dua misionaris SVD asal Indonesia yang bekerja di Vietnam, antara lain Pater Ignasius Renjaan SVD (mulai tahun 2012) dan saya mulai tahun 2015.*** (Flores Pos, 9 Januari 2016)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA, OPINI and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s