Bunuh Diri, Negara, dan Agama

Bom

Seorang warga berani berfoto selfie dengan pelaku teror Sarinah.

Oleh Avent Saur

Bunuh diri, betapa sulit dipahami. Tapi mau tidak mau, itu harus dipahami dan diterima – sekalipun secara moral tidak dibenarkan – lantaran sudah menjadi fakta tak terbantahkan.

Bunuh diri itu, misalnya, terjadi di Sarinah, Jakarta, Kamis pekan lalu; di Pulau Dewata Bali beberapa tahun silam, juga di beberapa tempat di Jawa Barat dan Sulawesi; apalagi di beberapa negara liga Arab, tak terkecuali di Eropa seperti di Prancis satu bulan jelang akhir tahun 2015. Dan diyakini, itu akan terus terjadi kapan saja, di mana saja, semasih ada kelompok sempalan yang memisahkan diri dari agama mainstream (arus utama), yang memegang erat teologi dan ideologi radikal-ekstrem-fundamentalis.

Itu semua melalui pengeboman diri. Sementara di pelbagai pelosok tanah air, bunuh diri tak terbendung – sekalipun agak jarang – dengan pelbagai kompleksitas sebab. Gantung diri, konsumsi obat over dosis, minum racun, buang diri atau jatuhkan diri, dan mungkin dengan bentuk lainnya lagi; dialami anak muda, dewasa, birokrat, guru, suami, istri.

***

Nah, bagaimana memahami bunuh diri? Dalam konteks terorisme, bom bunuh diri – berikut bentuk lainnya seperti peledakan dan penembakan – merupakan ekspresi dari teologi dan ideologi yang memandang kehidupan sebagai sesuatu yang bisa dihentikan dengan kehendak sendiri dan harus menimbulkan korban pada (sebanyak mungkin) orang lain; lalu melalui kematian, teroris akan sampai pada kebahagiaan abadi di surga yang mereka bangun sendiri – bukan surga yang disediakan Tuhan yang secara mirip diyakini banyak orang dalam banyak agama. Bangunan teologi dan ideologi, demikian juga aktualisasinya, itu dinilai radikal dan ekstrem, karena teroris berani mengambil langkah terakhir dari ziarah entah panjang atau singkat dari kehidupan di dunia ini.

Orang sampai pada teologi dan ideologi radikal ini, dengan melewati proses brainwash (cuci otak) atau radikalisasi. Yang dicuci, itu nilai-nilai moral yang pada umumnya menjunjung kemanusiaan – kecuali diselewengkan demi kepentingan dangkal dan sempit – diperoleh dan ditanamkan di dalam keluarga, masyarakat, budaya, sekolah dan agama mainstream.

Nah, pertanyaan lagi, ini berawal oleh siapa dan di mana? Kristen berawal oleh Yesus dari Nazaret dan Islam didirikan Nabi Muhammad, demikian juga Hindu, Buddha dan Konghucu berawal dari pendirinya masing-masing, setelah mendapatkan pelbagai ilham, petunjuk dan pengutusan yang mereka sendiri pahami, lalu diajarkan, juga oleh penganutnya itu dipelajari.

Bukan demikian dalam kelompok sempalan radikal itu. Itu berawal dari protes yang tak terucap, atau terucap tapi tidak didengarkan oleh pemangku agama mainstream, – konteks kelompok separatisme, suara protes tidak didengarkan oleh elite politik (seperti terjadi di Suriah dan pelbagai negara arab, juga di Filipina dan Papua – dan menemukan jalan buntu dalam menghadapi kokohnya elite agama dan politik. Di jalan buntu itu, orang mencari jalan-jalan lain yang singkat, tidak lagi panjang, dan dalam kesingkatan, orang membangun teologi dan ideologi ekstrem dan berjuang merangkul sebanyak mungkin orang dengan melintasi batas-batas ruang.

Dengan demikian, kiranya benar kalau pelbagai lembaga negara di Indonesia baik yang membidangi khusus soal agama maupun soal pendidikan, kesehatan dan pembangunan lainnya, secara cepat-cepat sadar untuk mengambil makna dari peristiwa Sarinah sebagai momen memantapkan pembangunan yang merata dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Para tokoh agama juga cepat-cepat sadar bahwa pengabdian religius tidak hanya sebatas berwujud sakramental dan doa-doa di rumah-rumah ibadah, melainkan mesti diimbangi dengan kepedulian kasat mata yang langsung menyentuh persoalan konkret umat.

Melalui cara-cara ini, negara dan agama tidak cuma sebatas mengutuk dan menghukum serta bahkan menembak mati teroris. Mungkin baiknya cara-cara ini disebut sebagai proses sivilisasi (pengadaban) dan humanisasi (pemanusiaan) gaya hidup manusia yang berjalan pada jalan etika politik yang benar dan ajaran-ajaran agama yang menghargai kemanusiaan dan mengantar umat kepada kebahagiaan di sini dan kelak. Dalam cara-cara ini, perlahan-lahan, terorisme teoretis dan terorisme realitas, bukan tidak mungkin, akan “terselesaikan”.

***

Itu bunuh diri dalam konteks terorisme. Dalam konteks umum? Istri gantung diri atau konsumsi barang beracun lantaran mengalami tekanan ekonomi dan cinta segitiga yang membuat hubungan tidak harmonis dengan suami atau sebaliknya. Perempuan muda atau lelaki muda menghabiskan nyawanya sendiri lantaran tak mampu menghadapi calon pasangannya, atau tak bertahan dalam memikul sendiri beban hidupnya. Dalam pergumulannya sendiri, mereka mencuci otaknya sendiri (psikologis dan religius), lalu membangun paradigma sendiri tentang hidup, akhirnya mewujudkannya sendiri.

Sepintas itu terjadi karena kecerobohan diri dan kelemahan yang tak terbendung. Tapi pembunuh diri itu adalah rakyat dari sebuah komunitas politik dan umat dari sebuah persekutuan religius. Di manakah para pelayan negara dan pengabdi agama, mana kala rakyat dan umatnya mengalami krisis multidimensi?

Umat dan rakyat memang harus mampu mengurus diri sendiri dengan memanfaatkan pelbagai peluang dan ruang yang tersedia. Tapi mengurusi diri dengan berujung pada pengalaman bunuh diri, bukankah itu korban ketidakpedulian negara dan agama dalam melayani rakyat dan umat yang selalu memiliki kemungkinan untuk jatuh dan jatuh?

Sekurang-kurangnya, negara dan agama dari pucuk teratas sampai akar terbawah, melalui pembagian komunitas politik dan agama dalam lingkup terkecil, arah hidup dan pergumulan persoalan dan keberuntungan rakyat dan umat, bisa diketahui secara lebih baik. Mungkin teramat sederhana untuk mengatakan, negara dan agama menggali lubang (secara tidak langsung) untuk rakyatnya sendiri yang notabene mesti dilindunginya. Dengan itu, bunuh diri (entah dalam bentu teror atau kategori umum) adalah juga sebuah gugatan sosial, politis dan religius.

***

Namun, apa hendak dikata, bukan cuma dalam terorisme, melainkan juga konteks umum, bunuh diri tentu tidak dibenarkan, apalagi membunuh orang lain (seperti bunuh saat berkelahi, aborsi sekalipun di beberapa negara diperbolehkan, dan eutanasia).

Penilaiannya begini. Bagi orang beragama termasuk teroris, hidup adalah pemberian dan tugas. Sebagai pemberian, hidup adalah hak (milik) Tuhan (Pencipta), bukan milik manusia itu sendiri. Itu juga berarti manusia tidak memiliki otoritas atas dimulai dan diselesaikannya hidup ini. Menghabisi diri (atau juga orang lain) tidaklah lain dari pada mengambil alih hak dan otoritas Tuhan tersebut.

Manusia memang diberikan kebebasan, tapi itu bukan diperuntukkan mengambil hak dan otoritas Tuhan. Kebebasan itu diperuntukkan bagi manusia dalam menjalani tugas yang diberikan Tuhan yakni tugas mengembangkan diri seturut potensi-potensi diri yang dimiliki. Mengembangkan diri melalui kerja sendiri atau juga dibantu oleh orang lain (seperti orang tua dan masyarakat), adalah juga sebuah aksi mencintai diri (bukan egois, isolasi diri). Menghabisi diri (atau juga orang lain), tidaklah lain dari pada menghentikan pengembangan diri menuju kesempurnaan, dan berhentinya manusia mencintai diri.

Jadi bunuh diri itu tidak dibenarkan secara moral, tapi juga menjadi gugatan politis, sosial dan religius.*** (Kolom Kutak-Kutik Flores Pos, Kamis, 21 Januari 2016)

 

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s