Kerugian Bencana di Ende

Oleh Avent Saur

Bencana

Wakli Bupati Ende Djafar Achmad berbincang dengan warga korban bencana banjir bandang di Kota Baru, Ende.

Kerugian bencana di wilayah Kabupaten Ende mencapai Rp57,4 miliar. Bencana yang dimaksud, antara lain gagal tanam dan gagal panen serta banjir bandang di Maurole dan Kota Baru. Yang tercakup dalam angka ini baru delapan komoditas utama, antara lain padi sawah dan padi ladang, jagung, ubi kayu, ubi jalar, umbi-umbian, kacang-kacangan dan sorgum. Data ini dirilis Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian (BKP3) Kabupaten Ende pada Jumat (12/2).

Angka ini belum mencakup kerugian rumah dan harta benda lainnya akibat bencana banjir bandang di Kecamatan Maurole dan Kota Baru, 30 Januari lalu. Juga belum termasuk pelbagai fasilitas negara yang rusak, semisal jalan. Belum lagi biaya tanggap darurat lainnya yang digelontorkan oleh Dinas Sosial dan BPBD. Bisa diperkirakan, bantun akan mencapai ratusan miliar.

Kinerja Pemerintah Kabupaten Ende dalam menanggapi bencana-bencana tersebut patut diapresiasi. Selain mengidentifikasi fakta, negara yang terwakil dalam SKPD-SKPD juga memberikan bantuan darurat. Yah, sekalipun bantuan yang “benar-benar purna” baru akan dilakukan usai data kerugian itu dilaporkan kepada bupati dan gubernur, atau usai angka itu benar-benar mewujud dalam bentuk bantuan nyata. Bupati dan wakil bupati juga sudah melihat langsung keadaan bencana dan menjumpai rakyatnya serta memberikan peneguhan terhadap mereka.

Terkait semuanya ini, ada beberapa hal yang patut didalami lebih jauh. Pertama, adalah sebuah kewajiban sosial negara untuk memberikan bantuan kepada rakyat yang membutuhkannya. Tanpa diminta atau dikeluhkan, negara diharuskan memberikan bantuan dalam bentuk apa pun. Bukan cuma ketika rakyat mengalami bencana, melainkan juga dalam situasi-situasi biasa, negara wajib melayani warganya.

Tugas sosial ini dinyatakan sebagai kewajiban (etis) karena negara bukan berada untuk dirinya sendiri (bukan terutama sebagai ladang bagi para pegawainya), melainkan berada untuk (melayani) warganya. Warga memiliki hak untuk memperoleh bantuan itu. Dengan itu, salah satu konsekuensinya, seorang penguasa melawati rakyatnya bukan cuma ketika ada bencana. Adalah sebuah kewajiban penguasa untuk menjumpai rakyatnya dan mengenal keadaan serta pelbagai suka dan duka perjuangan mereka dalam memperoleh kesejahteraan hidup.

Kedua, tanpa bermaksud mengurangi kepercayaan akan validnya data di atas, adalah sebuah keharusan sebuah data pembanding dibutuhkan. Dalam berita perihal rilis data oleh BKP3 tidak dijelaskan bagaimana memperoleh data-data tersebut. Demikian juga perihal narasumber data (orang atau mungkin lembaga independen).

Data pembanding dibutuhkan demi menghindari kecurigaan pelbagai pihak akan ketidakvalidan data (entah pembengkakan atau pun pengurangan). Lebih dari itu, data pembanding juga dibutuhkan untuk mengantisipasi praktik viktimisasi korban. Bukan suatu persoalan baru, di pelbagai tempat, keadaan bencana dan anggaran bantuan untuk korban disalahgunakan (atau juga korupsi).

Ketiga, bencana gagal tanam dan gagal panen serta banjir bandang setidaknya menjadi sebuah “teguran” kepada penguasa untuk secara serius melayani rakyatnya. Keseriusan melayani bukan cuma dalam keadaan luar biasa ini, melainkan juga dalam pelbagai keadaan biasa. Penguasa setidaknya tahu dan sadar bahwa mayoritas rakyat memiliki pelbagai persoalan (bukan cuma dalam hal ekonomi). Betapa persoalan itu semakin terasa berat ketika rakyat menerima persoalan baru lagi yang disebabkan oleh amukan alam.

Atas dasar itu, pelbagai kebiasaan penguasa yang mungkin suka pesta, yang cenderung mempermainkan proyek-proyek pembangunan, yang kongkalingkong (selingkuh elitis), yang lebih memikirkan kesejahteraan keluarga dan kelompok tertentu, kiranya diminimalisasi dan dihindari. Revolusi mental yang selalu terdengar bunyinya, dalam konteks ini, lebih dialamatkan kepada penguasa dan jajarannya.

Diharapkan, kerugian yang tersebab bencana-bencana itu segera ditutupi, kesejahteraan rakyat semakin membaik, mental pelayan negara semakin mantap.*** (Flores Pos, Selasa, 16 Februari 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s