Merayakan Keberagaman

Oleh Avent Saur

Gus Dur

Gus Dur

Kita baru saja menikmati Tahun Baru Cina atau Imlek sebagai hari libur nasional. Di wilayah bangsa kita ini, Imlek dirayakan oleh warga Tionghoa (istilah yang tidak berbeda artinya dengan istilah Cina) atau warga keturunan Tionghoa (orang berasal dari Tiongkok).

Tionghoa itu sendiri lebih sebagai sebuah etnis, bukan agama, sebab warga etnis Tionghoa juga menganut empat agama mainstream (arus utama) di Indonesia: Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu dan Buddha. Karena itu, warga etnis Tionghoa merayakan Imlek bersama warga yang seagama dengan mereka. Khusus warga Tionghoa beragama Kristen Katolik, biasanya Imlek dirayakan juga di gereja dalam sebuah Sakramen Ekaristi.

Namun etnis Tionghoa tidak terlepas dari agama Khonghucu (ada juga tulisan Khong Hu Cu). Ada banyak warga etnis Tionghoa beragama Khonghucu, dan baik soal Tionghoa maupun Khonghucu di Indonesia memiliki cerita panjang dan sangat runyam. Dengan adanya Imlek sebagai sebuah hari libur nasional, cerita runyam itu terhenti. Kualitas penghargaan terhadap keberagaman (atau perbedaan) baik agama maupun etnis pun semakin mantap.

Mengapa kualitas penghargaan keberagaman di Indonesia juga ditentukan oleh adanya Imlek? Dahulu, Imlek tidak boleh dirayakan di tempat umum, sekalipun warga Tionghoa sudah ada di Nusantara ini sejak ratusan tahun silam (menguasai perdagangan), sebelum bangsa Barat (abad 18). Pada masa Orde Lama, Soekarno memang cukup akrab dengan orang-orang cerdas keturunan Tionghoa, hingga beberapa tokoh masuk dalam daftar pembantunya. Soekarno bahkan menerbitkan sebuah peraturan yang mencantumkan daftar hari-hari besar keagamaan di Indonesia, termasuk empat hari keagamaan dalam Khonghucu. Salah satunya adalah Imlek. Tapi saat itu, ada juga diskriminasi: etnis Tionghoa dilarang menjual barang eceran ke (dan di) daerah-daerah.

Pada rezim Orde Baru, pelbagai aktivitas etnik Tionghoa dan religius Khonghucu dilarang (diizikan hanya di tempat tertutup). Larangan oleh Orde Baru tertuang dalam Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967. Ini dipicu oleh gerakan PKI yang dicurigai bahwa PKI dipelopori dan didukung oleh etnis Tionghoa. Pandangan masyarakat bukan Tionghoa pun semakin buruk terhadap mereka. Pelbagai peristiwa rasial (anti Tionghoa) terjadi dari waktu ke waktu sejak tahun 1963 hingga 1998, yang secara kuat mempengaruhi perjalanan politik, sosial dan ekonomi bangsa.

Sekalipun pengalaman krisis itu bisa sedikit dikontrol tahun 1998 saat Soeharto dilengserkan, riak-riak kecil rasial dan konflik antaragama tetap saja muncul. Pandangan dan perilaku diskriminatif terhadap Tionghoa, sekaligus pemberian hal istimewa terhadapnya terjadi pada tahun 2000 ketika Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres Nomor 14/1967. Kemudian Presiden yang dikenal dengan Bapak Toleransi itu mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19 tahun 2001 meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya). Baru pada tahun 2003, Imlek dinyatakan sebagai hari libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri.

Indonesia sudah beragam dalam pelbagai hal, terutama etnik dan agama. Namun pandangan dan sikap kita terhadap keberagaman masih membutuhkan waktu untuk sampai pada suatu titik kedewasaan. Perayaan Imlek, sekurang-kurangnya memberikan pelajaran bagi bangsa ini bahwa betapa indahnya keberagamaan dalam merajut bangsa ini menjadi lebih baik, dan betapa peristiwa dan pandangan destruktif perlu ditinggalkan.*** (Flores Pos, Selasa, 9 Februari 2016)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s