Polisi dan Penjudi

Oleh Avent Saur

Judi

Perjudian

Polisi menangkap warga yang sedang berjudi kartu, di Ruteng, Manggarai. Empat orang ditangkap pada Rabu (13/1), empat lainnya pada Sabtu (23/1). Di antara 8 warga itu, ada 2 perempuan. Profesi mereka bervariasi: PNS, swasta, ibu rumah tangga, dan kontraktor. Barang buktinya, antara lain uang, handphone, kartu, modem, kertas angka. Sementara tempatnya, di rumah salah satu penjudi.

Menurut pengakuan polisi, penangkapan itu dilakukan setelah polisi mendapat informasi dari warga di sekitar lokasi perjudian. Dan seturut hukum pidana, penjudi dijerat Pasal 303 KUHP tentang Perjudian, dengan hukuman kurungan maksimal 10 tahun atau minimal 4 tahun.

Heran saja rasanya, baru kali ini terjadi lagi penangkapan penjudi. Sudah agak lama sepi penangkapan, entah sudah beberapa tahun belakangan ini. Itu karena tak ada laporan dari masyarakat? Ah, masa tunggu laporan dari warga. Itu karena memang tak ada aktivitas perjudian? Ah, masa tak ada. Namanya Manggarai, perjudian sudah ada sejak zaman nenek moyang, bukan cuma di daerah perkotaan melainkan terlebih di kampung.

Yang terekam media, ada dua hal yang mendorong polisi menangkap penjudi. Yang pertama, adanya laporan dari warga. Bahkan beberapa penjudi menjadi incaran polisi hanya karena sudah banyak informasi masuk dari warga kepada polisi perihal penjudi-penjudi itu. Satunya lagi, seturut omongan Kapolres M. Ischaq Said, ada perintah dari Mabes Polri dalam bentuk surat edaran yang berisi pemberantasan perjudian.

Namun, setidaknya, dua alasan itu menunjukkan bahwa polisi belum benar-benar menyadari bahwa perjudian adalah sebuah penyakit sosial. Demikian juga, polisi belum sungguh-sungguh menyadari tanggung jawabnya perihal penegakan Pasal 303 KUHP perihal perjudian. Mereka menegakkan hukum terutama karena laporan warga dan surat edaran yang berbau struktural (bukan terutama etis) itu.

Perihal “belum benar-benar sadar” ini, ada sedikit pertandanya, bahwa ketika pada Rabu (13/1) polisi melakukan penangkapan, seorang penjudi menuturkan kira-kira begini, “Kami telah melakukan pertemuan duluan dengan sejumlah polisi demi keamanan saat perjudian. Ada jaminannya, yakni berupa uang”. Karena alasan itu, ia menolak ketika hendak digiring ke polres, sekalipun kemudian ia turuti saja lantaran polisi penangkap tidak menggubris tuturannya – yang sangat mungkin itu tuturan jujur.

Apa hendak dikata, Kasat Reskrim Okto Selly mengabaikan penuturan perihal jaminan keamanan itu. Kata Okto, “Yang bersangkutan mesti membuktikan omongannya. Masa polisi memberi izin untuk aktivitas perjudian. Jika ada bukti, silahkan proses secara hukum. Minimal 2 alat bukti dan saksi”. Semestinya, justru karena “masa polisi memberi izin untuk aktivitas perjudian”, Okto mesti mengusut hal itu, bukan malah mengabaikannya. Polisi aneh, bukan?

Sekali lagi, ini perihal kesadaran polisi soal hukum dan soal esensi masalah perjudian. Bahwasanya, perjudian itu – entah bagaimana pengertian yuridisnya – merupakan sebuah penyakit sosial, kurang dipahami secara baik. Ia disebut penyakit sosial lantaran melalui perjudian tampaklah dan terdidiklah mental masyarakat instan (tak berdaya juang, tanpa pikir panjang), merusakkan keharmonisan keluarga dan menumbuhkan keserakahan, serta pelbagai penyakit lainnya.

Kesadaran etis moral inilah yang mesti tertanam dalam-dalam pada diri polisi supaya pemberantasan perjudian tidak hanya berdasarkan laporan dari masyarakat dan edaran dari Mabes Polri saja, tetapi juga supaya apa pun isu seputar aktivitas perjudian mesti diusut tuntas, termasuk isu mafia jaminan keamanan tersebut.*** (Flores Pos, Selasa, 26 Januari 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s