Duka Kemanusiaan

orang gila

Yakobus Ari (31) warga Kampung Nabe, Desa Tendambongi, Kecamatan Ende, berada di sel tahanan Mapolsek Ende pada 22 Oktober 2014. Ia ditahan lantaran memukul Kepala Desa, sehari sebelumnya. Dikabarkan, bahwa empat pekan lalu, dia meninggal dalam pasungan.

Oleh Avent Saur

Lama sudah tak terpikirkan. Sedikit pun juga tidak. Perihal kasus 22 Oktober 2014 silam. “Ada seorang tahanan, sejak semalam.” Demikian polisi di Kota Ende, Flores. “Dia dijemput semalam di kampungnya jauh sana, pegunungan, lantaran memukul tanpa sebab kepala desa. Istilah yuridisnya, penganiayaan.” Jelasnya.

Lalu? Melaporkan kepada polisi, apalagi pelaku sudah mengantongi status tahanan bahkan sudah ditingkatkan jadi tersangka, adalah tanda normatif untuk proses hukum. Tapi tidak demikian tahanan ini. Aneh, kata orang-orang di situ. Sinting, kata yang lain lagi. Ya, gila, kata polisi-polisi. Itulah sebabnya, sulit tempuh jalur hukum.

Tahan di sel ini saja, mestinya tak boleh. Sel ini untuk orang waras. Dikeluarkan dari tahanan, entah dibawa ke mana, antara lain pulang lagi ke kampung, adalah solusinya. Atau ke mana lagi, entahlah!

Yakobus Ari namanya. Berusia, 30 tahun. Buah hatinya, sudah dua orang. Tentu istri, seorang. Kerja bertani. Bukan cuma saat itu beliau buat ulah. Kakak serumah, bahkan mamanya pun sudah menjadi korban kebesian tangannya. Mengatai-ngatai sudah seringkali, memukul dan melempari dengan benda keras sudah terjadi sesekali. Ada banyak lagi.

Bagai sebuah litani, sang kakak, juga sang mama mengisahkan ini amat polos. Raut wajahnya memilukan. Berkasihan terhadap anaknya di balik jeruji besi. Kita yang mendengarnya ikut pilu. Pilu terhadap tahanan, juga keluarganya. Kalau lobi Markas Kepolisian Sektor (Mapolsek) Ende itu punya rasa, ia juga ikut-ikutan pilu.

Hanya ayun dua tiga langkah saja, pintu jeruji besi itu coba saya raih. Yakobus tampak berbaring beralaskan tikar lusuh mungkin milik zaman dulu. Entah sudah berapa tahanan merebahkan badan dan bermimpi ria di atasnya. Tak berbaju dan hanya kenakan celana panjang kotor spontan menimbulkan rasa prihatin mendalam. Teganya negara ini. Hanya karena ulah semalam itu, warganya disanksi begini.

Ya, baik-baik saja. Jawab Yakobus ketika ditanya, usai dibangunkan. “Tak sadar sedikit pun. Tak tahu lagi. Orang bilang, telah aniaya Kades. Salah ya itu salah. Tobat. Tapi keluarkan saya dari sini.” Pintanya dengan nada merendah.

Tampaknya memang sehat. Sesekali kumat, ujar anggota-anggota keluarganya. Yang terbaik, ia diantar ke tempat rehabilitasi. Hari itu juga, dibuatlah beberapa rencana. Pertama, mendekati pemerintah bagian sosial. Kedua, antarlah ia untuk sementara kembali ke kampung. Semua proses itu berjalan baik.

Tapi proses itu agak tersendat ketika dari kampung jauh di pegunungan itu, ada kabar baik, Yakobus sudah baik-baik saja. Katakanlah, normal. Gembiralah kita. Tidak ingat juga terhadap dia. Sedikit pun tidak. Mungkin karena kisah tentang dia tidak ada update infonya.

***

Jelang akhir Oktober 2014 itu sudah setahun lebih berlalu. Orang-orang yang kondisinya kurang lebih persis Yakobus sudah banyak disentuh dengan tanganku nan hina ini.

Suatu hari, Jumat, 12 Februari 2016. Dua ibu dan tiga lelaki muda, berkeliling Kota Ende untuk kedua kalinya, menemui 0rang-orang malang yang tak waras itu, untuk membagikan sebungkus nasi dan segelas air mineral. Sekadarnya saja menghalau lapar dan dahaga semata. Tidak lebih.

Di Wolowona, sebuah pasar tradisional pinggir Kota Ende, beberapa dari mereka berkeliaran. Seorang lelaki agak tua, menyeramkan. Dikira kejam, padahal luar biasa ramah. Didekatilah ia, dan bercakap seadanya. Nyambung 1 persen, tidak nyambung 99 persen. Tak apalah.

Obat untuk menenangkan bahkan memulihkan orang-orang seperti itu ada. Sudah beberapa kali, dibeli pada dokter, sepertinya sudah berlangganan. Tapi pasiennya mesti diamankan di dalam rumah, mesti ada orang yang memperhatikan untuk memberi makan dan kasih obat.

Apakah kamu anggota keluarga dari orang malang yang satu ini? Tidak, kata seorang Bapak, penjual sembako tak jauh dari orang malang itu. Lanjutnya, “dari pegunungan sana. Saat hari pasar begini, datang menjual sembako”. Ia menyebut Tendambongi, saat perkenalan singkat itu. Dan Yakobus tadi dari kampung itu juga. Kenal orang itu? Ya kenal, tukasnya. Tapi dia sudah mati, kurang lebih tiga pekan lalu.

Haaaaaaaa? Terperangah memang. Usia semuda itu bisa begitu. Betul matiiiiii?

Ia membuat kegaduhan dengan warga kampung tetangga. Kegaduhan juga dibuatnya di antara keluarganya, di rumah tinggalnya. Lalu atas desakan banyak orang, ia dipasung. Entah dipasung seperti apa dan bagaimana, pada waktunya tubuh muda nan energik itu membujur kaku.

***

Sadis benar dunia ini. Batin ini tak habisnya merontak. Kok bisa. Terhadap kejahatan yang dilakukan orang tak waras, dan terhadap ketidakwarasan itu sendiri, penghuni dunia ini menempuh cara yang paling singkat dan ringan. Memasung, lalu dengan sendirinya membunuh.

Dan yang melakukan itu semuanya adalah orang-orang sadar serta percaya diri sedang sewaras-warasnya seperti para pemikir. Tapi ulah mereka tak amat jauh berbeda dengan orang-orang malang tak waras itu.

Hati siapa tidak berduka? Bahkan seusai tubuh orang tak waras itu membujur kaku, orang-orang waras dari pelbagai kampung yang punya kisah dan tersangkut relasi keturunan, pasti berbondong mendekat merayakan kematian itu dengan tak tahu malu dan jauh dari rasa bersalah. Ada yang mungkin menangis sejadi-jadinya, tapi itu tidaklah lain dari pada air mata duka untuk dirinya sendiri.

Yah, duka kemanusian. Berikut duka sosial, duka budaya. Ya duka agama, dan akhirnya duka Tuhanku. Bukankah demikian?

Mungkin Yakobus akan (bahkan sudah) masuk surga, duduk manis di sebelah kanan Tuannya, sebagaimana kata Sang Guru seturut kisah tua Kitab Suci Kristen. Tapi itu urusan-Nya. Urusan kita: jangan biarkan sesama mati dalam kemalangannya. Titik.*** (Kolom Kutak-Katik Flores Pos, Kamis, 18 Februari 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE, OPINI and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s