Tiga Penembak Itu Ternyata Polisi

KORBAN PENEMBAKAN 3

Korban penembakan, Yohanes Alfridus, Warga Waioti, Maumere ditembak, Senin (15/2) sedang dirawat di RSUD Maumere.

Oleh Avent Saur

AKBP I Made Kusuma Jaya1

Yohanes Alfridus, Warga Waioti, Maumere ditembak, Senin (15/2). Sebutir peluru bersarang di lengan kirinya. Setelah korban dirawat di RSUD Maumere dan dibedah, peluru itu diangkat.

Pelakunya, tiga orang. Korban dan empat temannya yang lagi duduk santai di teras pengisian air galon di kota itu, tidak mengenal mereka. Bukan karena waktu itu malam, sudah pukul 19.00 Wita, melainkan karena memang tidak kenal sama sekali. Pelaku berpakaian preman, masing-masing mengendarai sepeda motor. Dua pegang pistol, lainnya senjata laras panjang. Setelah korban terkapar, seorang pelaku pukul lagi, lalu semua pelaku kabur.

Warga Waioti heboh, sekaligus resah, tidak aman. Warga yang tinggal dekat TKP mendengar bunyi tembak berkali-kali. Ini “betul-betul semacam” aksi teror. Bedanya sasaran cuma seorang. Teman lainnya tidak ditargetkan. Tapi siapa tidak takut bunyi senjata? Luar biasa, kalau warga sipil pegang senjata. Itu pasti untuk cari masalah dan tembak orang. Semua pasti takut: takut senjata, takut mati.

Siapa pun pasti kutuk aksi brutal-preman ini. Yang paling inti, ini melanggar HAM. Selain korban dan keluarganya, PMKRI dan TPDI serta Detektif 857 Sikka juga bersama-sama bersuara. Mereka mendesak polisi untuk mengusut kasus ini: buru pelaku dan berikan hukuman setimpal. Bak gayung bersambut, Kapolres I Made Kusuma Jaya menyatakan siap. Sebuah tim segera dibentuk untuk memburu pelaku, juga lakukan penjagaan korban di RSUD.

Bagai mimpi di siang bolong, “tiga pelaku bersenjata itu ternyata polisi”. Kira-kira begitu inti salah satu berita Flores Pos, Senin (22/2). Kok bisa? Bukankah polisi itu pengayom, pelindung, pengaman masyarakat? Tri Brata dan Catur Prasetya Polri, kata Siflan Angi (Ketua Detektif 857 Swasta Sikka), kok tidak dijunjung tinggi? Detektif 857 Swasta juga sedang mengumpulkan data, selanjutnya melaporkan tiga polisi preman itu kepada Presiden, Kapolri dan BNN. Harus usut tuntas, kata PMKRI Maumere, hukum jangan tumpul ke atas, tajam ke bawah. Apa pun alasannya, tukas Meridian Dewanta Dado (Ketua TPFI NTT), pelaku yang bergaya teroris itu mesti dihukum.

Tiga pelaku itu, antara lain Brigadir AS, Brigda JO dan Bripda SO dibekuk Sabtu (20/2). Sekarang mendekam di sel tahanan. Semuanya anggota Kepolisian Resor Sikka yang sekarang dipimpin oleh I Made Kusuma Jaya.

Nah, apakah desakan-desakan ini akan terpenuhi? Korban dan keluarganya serta kelompok-kelompok advokasi ini mungkin langsung merasa lemas (rasa pesimistis) ketika mengetahui komentar Kapolres Sikka. “Korban sudah jadi target operasi polisi berkaitan dengan sejumlah kasus pidana. Saat itu, polisi hendak membekuk pelaku. Namun saat hendak bekuk, pelaku duga korban mau melarikan diri. Maka dari itu, polisi melepaskan tembakan dengan peluru karet.” Kira-kira begitu inti komentarnya dalam Flores Pos, Senin (22/2).

Komentar ini, rasanya aneh sekali. Sederhana saja logika kita: polisi yang bertugas membekuk pasti ada surat tugasnya. Kalau sudah bekuk, termasuk penembakan kalau keadaan darurat, maka pembekuk membawa tersangka ke markas kepolisian. Pembekuk di Polres Maumere malah kabur, dan tinggalkan orang terbekuk. Aneh bukan?

Sekurang-kurangnya, komentar Kapolres dijadikan tanda untuk membaca bagaimana kasus ini akan diurus ke depan. Dengan itu, sekalipun pesimistis, tanda ini mesti dijadikan kekuatan untuk memacu para pejuang dalam mengawasi proses penyelesaian kasus ini. “Polisi usut polisi” harus diawasi. “Kapolres harus serius,” kata korban dan keluarganya.*** (Kolom Bentara Flores Pos, Selasa, 23 Februari 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s