Polemik LGBT dan Cara Berpikir Fenomenologis

LGBT

Ilustrasi

Oleh Peter Tan

Peter Tan

Peter Tan, Mahasiswa STFK Ledalero, Maumere

Wacana tentang kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender (LGBT) cukup ramai di media-media cetak dan elektronik. Isu LGBT menggelinding cepat di ruang publik, selain karena opini publik, juga terutama karena menyentuh hal paling esensial yaitu eksistensi sekelompok manusia dengan keunikan seksualitasnya.

Isu tersebut memunculkan polemik dan kontroversi dalam cara pandang dan sikap terhadap LGBT. Saya ingin menawarkan model perspektif yang disebut cara berpikir fenomenologis. Artinya, kita berpikir dengan “membiarkan fenomena LGBT menampakkan diri sebagaimana adanya”.

Caranya, kita terlebih dahulu mensuspensi kesadaran religius, prasangka kultural, opini mayoritas yang kita miliki. Dengan itu, fenomena tersebut menampakkan diri sebagai keunikan, atau mengutip Franz Magnis-Suseno, “perbedaan alamiah”.

Pandangan yang Tidak Netral

Menurut Wikipedia.org Bahasa Indonesia, LGBT adalah akronim dari Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender. Istilah ini digunakan sejak tahun 1990-an untuk menggantikan term “komunitas gay”, karena istilah LGBT dianggap lebih mewakili kelompok tersebut. Lebih dari sekadar akronim, istilah LGBT memuat konsep yang lebih pluralis yaitu keanekaragaman budaya dan keunikan individu berdasarkan identitas seksual, gender dan orientasi seksual. Frase “komunitas gay” diganti karena memuat konsep identitas, “satu ukuran cocok untuk semua”, yang didasarkan pada stigma LGBT dalam masyarakat.

Mayoritas masyarakat belum memiliki pandangan plural tersebut terhadap kaum LGBT. Perspektif dominan lebih bersifat diskriminatif dan reduktif. Secara fenomenologis, paradigma diskriminatif tersebut adalah pandangan yang tidak netral. Tidak netral karena pandangan-pandangan diskriminatif sudah terkontaminasi oleh kesadaran religius, prasangka kultural dan tradisi, serta keyakinan mayoritas sebagai produk sosialisasi sejak kecil.

Kesadaran religius memproduksi keyakinan bahwa LGBT adalah bentuk penyimpangan atau orientasi seksual yang abnormal. Status LGBT sebagai “penyimpangan”, “abnormalitas”, bahkan “dosa” muncul dari “standar normalitas” yang tertanam dalam pikiran kita sejak kecil. Standar normalitas tersebut adalah orientasi seksual yang normal, benar dan sehat adalah heteroseksual.

Kelompok radikal agama mendefinisikankaum LGBT sebagai “noda” atau “cemar” bagi agama. Noda dipahami dalam pengertian Paul Ricoeur sebagai kesadaran religius atas kontaminasi atau “infeksi lewat kontak” yang mengakibatkan hilangnya kewibawaan moral agama dan kemurnian etis orang beragama. Di sini terdapat paradoks yang janggal: isu LGBT seperti isu pornografi, pelacuran, dan isu moralitas seksual lainnya, cenderung membuat kaum radikal agama lebih reaktif dibandingkan dengan masalah terorisme atau aksi anarkis berbau religius yang jelas-jelas merusak identitas agama.

Perlakuan diskriminatif terhadap LGBTdalam masyarakat, oleh orang beragama yang berpandangan radikal dilihat sebagai tindakan logis, benar dan normal. Hanya orang-orang di luar penghuni sah wilayah normalitas agama yaitu mereka yang berpikir netral, tanpa asumsi dan prasangka religius radikal, mampu melihat “kekeliruan berpikir” kaum radikal agama tersebut.

Prasangka budaya dan keyakinan mayoritas juga turut membentuk pandangan diksriminatif terhadap eksistensi LGBT. Pandangan bahwa orientasi seksual yang normal adalah heteroseksual sudah muncul setua peradaban manusia. Hampir semua kebudayaan di dunia mengaku pandangan tersebut. Maka prasangka-prasangka kultural dan tradisi sudah sejak awal tertanam dalam keyakinan kita.

Dalam budaya patriarkat, misalnya, peran laki-laki dan perempuan sudah ditentukan bukan saja dalam pekerjaan, melainkan juga dalam kaitan dengan fungsi dan orientasi seksual. Selain prasangka kultural, keyakinan mayoritas juga turut membentuk pandangan diskriminatif.

Bagi mayoritas, LGBT itu tidak masuk akal. Karena mayoritas berorientasi seksual heteroseksual, maka LGBT dianggap devian, abnormal dan menyimpang. Diskrminasi, represi sosial dan stigma terhadap kelompok LGBT dalam komunitas agama, budaya, lingkungan kerja, kampus dan masyarakat dipengaruhi oleh kontaminasi pandangan-pandangan yang tidak netral tersebut.

Berpikir Fenomenologis

LGBT akan tampak sebagai fenomena asli jika kita membatalkan seluruh pandangan tidak netral tersebut. Caranya, berpikir secara fenomenologis. Berpikir fenomenologis berarti kita membiarkan fenomena LGBT menampakkan diri apa adanya. Kita mensuspensi atau menaruh dalam kurungan semua pandangan tidak netral tersebut sehingga LGBT tampak dalam otentisitasnya. Dengan begitu, eksistensi LGBT tetap utuh, tidak direduksi kepada penafsiran agama, penilaian tradisi, prasangka kultural dan opini mayoritas.

Secara fenomenologis, ada beberapa perspektif tentang fenomena LGBT. Pertama, dalam paradigma fenomenologis, tendensi atau orientasi seksual LGBT tidak ditentukan oleh seseorang, institusi atau doktrin tertentu, tetapi bersifat alamiah dan kodrati. Orientasi seksual LGBT bersifat normal, sama normalnya dengan orientasi seksual kaum heteroseksual, karena keduanya menunjuk kepada “keadaan alamiah dan kodrati” dari suatu kecenderungan seksual. Institusi dan hukum mana pun tidak berhak mengubah yang alamiah, meskipun dengan dalih konformitas, keseragaman dan keteraturan.

Dalam hubungan dengan fenomena LGBT sebagai orientasi seksual alamiah, Franz Magnis-Suseno berpendapat, kita tidak bisa mengubah hal alamiah pada seseorang. Kita tidak berhak mendiskriminasi orang karena perbedaan alamiah (Antaranews, 17/2/2016). Pemaksaan mengubah orientasi seksual kaum LGBT adalah kejahatan terhadap kodrat dan kondisi alamiah mereka.

Kedua, orientasi LGBT “pada dirinya” normal dan benar. Frase “pada dirinya” menunjukkan bahwa penilaian diskriminatif terhadap LGBT muncul dari kontaminasi kesadaran religius dan prasangka kultural, bukan dari kenyataan LGBT secara inheren buruk dan jahat. Ini ekuivalen dengan pandangan bahwa dalam masyarakat kita, seks menjadi tema wacana terlarang dan sakral, bukan karena seksualitas jahat dan buruk pada dirinya, melainkan karena prasangka-prasangka kultural yang tertanam dalam diri kita sudah menjadi superego yang mengawasi kita setiap kali hendak berbicara tentang seks.

Demikian juga bagian tertentu dari tubuh kita dianggap sebagai wilayah terlarang dan sakral, bukan karena secara inheren demikian, melainkan karena definisi budaya. Begitu juga LGBT. Orientasi seksual mereka “pada dirinya” tidak bersifat abnormal, defisit dan menyimpang. Kesadaran religius, prasangka budaya dan opini mayoritaslah yang mendefinisikan itu sebagai deviasi, abnormal, penyimpangan bahkan dosa.

Ketiga, perspektif fenomenologis tersebut mendorong kita bertindak lebih manusiawi terhadap kaum LGBT. Karena orientasi seksual mereka secara alamiah dan pada dirinya bersifat normal, maka tidak ada alasan membenarkan diskriminasi atas mereka. Perspektif fenomenologis membantu kita melihat “kemanusiaan” mereka dengan pandangan murni. Artinya, kita menghargai dan mengakui mereka di ruang publik berdasarkan kemanusiaan dan hak mereka, bukan berdasarkan orientasi seksual yang dianggap menyimpang.

Sikap yang benar ialah mengakui dan menghormati mereka sebagai manusia. Pengakuan dan sikap terbuka tidak muncul dari prasangka dan mindset yang keliru, tetapi dari mindset yang benar dan adil.

Keempat, urusan seks dan orientasi seksual adalah urusan privat. Itu berarti negara tidak berhak mengatur wilayah privat tersebut. Negara bertugas menjamin eksistensi dan kebebasan mereka sebab sebagai warga negara, mereka memiliki hak yang sama seperti kaum heteroseksual.

Ada banyak kelompok ekstrem dan radikal agama sekarang ini yang membenci kaum LGBT. Negara memiliki tugas melindungi mereka dari ancaman kelompok-kelompok ekstrem dan radikal tersebut. Negara boleh bertindak tegas terhadap kelompok LGBT jika mereka terbukti merusak masyarakat. Dengan kata lain, negara harus mengintervensi jika orientasi seksual LGBT terbukti merusak orang lain, kehidupan dan tatanan sosial.

Menanggapi maraknya pemberitaan soal LGBT, Paus Fransiskus berkomentar: “Jika seseorang adalah gay, dan ia mencari Tuhan, siapakah aku sehingga menghakimi? Kita tidak harus meminggirkan orang karena ini. Mereka harus diintegrasikan ke dalam masyarakat,” (Tribun Manado, Sabtu, 20/2/2016).

Pendapat Paus Fransiskus kiranya menjadi pandangan kita jugaagar kita tidak mendiskriminasi, menghakimi dan mendiskreditkan sekelompok manusia hanya karena orientasi seksualnya yang dianggap devian dan abnormal.*** (Flores Pos, Rabu, 3 Maret 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Polemik LGBT dan Cara Berpikir Fenomenologis

  1. eto kwuta says:

    Tuang, makasih untuk hal-hal yang ada di dalam blog ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s