Rasa Malu

Gila Simon

Orang dengan gangguan jiwa, Simon, digonceng Pater Avent Saur saat membagikan nasi bungkus kepada orang-orang gila di jalan-jalan Kota Ende dan sekitarnya, Sabtu (27/2) siang.

Oleh Avent Saur

Dua tahun sudah pengabdian ini dijalani, dan sungguh betapa luar biasa nikmatnya. Itu sudah sejak Februari 2014. Ya, masih terkait saudara-saudari kita sebangsa dan se-Tanah Air (tentu juga seagama dan latar belakang lainnya) yang malang itu.

Ada tiga rasa malu yang sempat terekam dalam memori ini, dan masih diingat dengan sangat baik. Rasa malu itu bersumber dari tiga pribadi. Semuanya terkait dengan “orang gila” (kata orang, dalam rasa, ini term kasar. Entahlah!).

Pertama, “Saya malu, saya berbicara tentang keberpihakan terhadap orang gila di media massa, tetapi saya belum berbuat apa-apa terhadap mereka.” Kira-kira begitu rumusan singkat tentang pribadi pertama, ketika ia diminta bersuara.

Konon, suara keberpihakan itu mendesak dibutuhkan lantaran suara itu berasal dari orang berpengaruh yang memiliki “kuasa”, sekaligus mengandung tanggung jawab “lebih” terhadap realitas orang-orang malang. Suara keberpihakan itu mendesak dibutuhkan, terutama lantaran mengandung satu harapan: suara itu akan lebih didengar banyak orang dan terutama oleh seorang yang paling “berkuasa lagi”, demi menyelamatkan satu nyawa yang lagi kritis.

Mungkin kalian masih ingat perihal Anselmus Wara itu, korban pemasungan sadis di salah satu kampung di Ende. Tentang dialah (bukan oleh dia), kata-kata tadi diungkapkan. Itu terjadi pada Mei 2014.

Benar sekali memang, rasa malu timbul pada diri siapa pun, dan tentu tak terbendung. Rasa itu muncul secara spontan. Tetapi perihal apa atau perihal siapa rasa malu itu timbul, – misalnya perihal kasus kemanusiaan dan perihal nyawa kritis – merupakan penentu bagi satu pribadi untuk segera mengambil keputusan kualitatif: keluar dari kerangkeng rasa itu atau tetap berdiam nyaman di dalamnya (?).

Mestinya, tidak boleh tidak, keluar dan harus keluar! Keluar dari rasa itu, setidaknya berarti sekaligus terbebas dari perasaan negatif (itu tergolong malu negatif) dan juga membuka diri terhadap realitas di luar diri – apalagi realitas itu bernaung di bawah tanggung jawab tangan kuasanya. Itu juga berarti ia didesak untuk tidak lebih memikirkan kewibawaan dirinya, sebaliknya lebih memikirkan konkretisasi tanggung jawab kuasanya. Pemimpin-pemimpin (agama, politik, sosial dan budaya) mestinya berkarakter begini.

***

Malu kedua, “Kalau anak saya ini nanti sudah sembuh, bagaimana kata orang banyak? Di media massa, anak saya ditulis sebagai orang gila sekalipun nyatanya memang gila, bagaimana komentar teman-temannya nanti kalau dia sudah sembuh? Bagaimana dia bisa mencari kerja, sementara ia bekas gila? Saya malu! Malu sekali!”

Ini kata seorang Ayah. Rasanya, ini agak lain yah? Anaknya baru jatuh sakit, dan belum seberapa pun upaya untuk menyembuhkannya, tetapi sudah memikirkan bagaimana kalau nanti anaknya sembuh.

Kesembuhan mengandung dua sisi: sebuah harapan yang ingin direngkuh, dan sebuah kekuatan pemicu dalam merengkuh. Dua sisi ini selalu disertakan ketika kita merawat (atau juga mendoakan) si sakit. Salahnya, adalah dua sisi ini justru mengganggu kenyamanan dalam proses merawat dan berharap, apalagi disertai pertanyaan: bisa sembuh ataukah tidak bisa sembuh ya? Apalagi soal sakit jiwa!

Orang-orang yang berada dalam ketidaknyamanan ini pun cepat atau lambat akan jatuh sakit juga lantaran kekuatannya untuk merawat dan mendoakan terkuras memikir-mikirkan itu (?). Sebagaimana soal “orang gila” bahwa dalam rasa, ini term kasar, “entahlah!”, demikian juga soal pertanyaan retoris tersebut, “entahlah!”

Pada orangtua dari anak itu, kesembuhan lebih dipikirkan, bukan diperjuangkan. Kesembuhan mestinya “tidak boleh” dipikir-pikirkan. Mestinya, dirawat. Setiap upaya merawat orang sakit (jenis apa saja), sekali lagi, “mestinya” sekaligus merawat kesembuhan. Kalau pun orang sakit itu (dalam kasus-kasus kritis) dijemput “malaikat pemutus nyawa”, itu terjadi karena kelalaian atau tidak adanya perawatan jauh sebelum itu. Kalau pun kita tidak bisa (atau buntu) memahami ini dengan akal sehat bahkan memprotesnya serta tidak menerima kenyataan “dijemput” itu, teologilah (imanlah) yang memecahkan kebuntuan itu.

Lalu soal malu (kalau nanti sudah sembuh). Masalah penelantaran orang gila bukanlah hal baru. Dari pelbagai sisi, mereka ditelantar: agama, politik, sosial, budaya, ekonomi. Peduli nyata terhadap orang gila yang tentunya adalah sebuah perbuatan baik, lalu memberitahukan perbuatan baik itu kepada publik, bukankah ini sebuah cara mendobrak budaya penelataran itu? Kalau orang itu akan sembuh, lalu itu diberitahukan sekali lagi kepada publik, bukan ini juga sebuah upaya pencerahan yang unggul? Apalagi kalau pelbagai prestasinya kelak dipublikasikan, bukankah sebuah kesaksian yang patut dibanggakan?

Media massa yang bisa menjangkau pelbagai lapisan masyarakat, kiranya selalu dipandang dari sisi hakikatnya, antara lain sebagai sarana mengangkat hal yang mau diubah, sekaligus memberitahukan alternatif perubahan dan dengan demikian mengubah masyarakat. Salah satunya, perubahan pandangan dan perilaku terhadap orang-orang malang itu.

Sungguh susah juga rasanya, ayah dari orang gila itu lebih memikirkan kenyamanan diri sendiri (egoisme), daripada upaya penerahan sosial demi mengubah realitas sosial yang pincang terkait orang gila. Ayah itu sedang dibantu orang lain, tetapi ia tidak secara spontan menyadari bahwa betapa hidup di dunia fana selalu berkaitan dengan kepentingan orang lain.

***

Dan malu terakhir (ketiga), “Saya malu, tersinggung, marah. Ada banyak orang lain lagi yang merasa demikian. Bapa saya disebut gila, kamu tahu dari mana? Dia hanya suka jalan, suka nongkrong, sering omong sendiri, suka berpakaian begitu, pulang makan di rumah. Kami malu, banyak orang membaca media massa ini, dan mereka akan tahu bahwa ini ayah kami. Kami malu, seakan kami tidak bisa beri dia makan. Anak-anaknya, semuanya anggota (polisi, tentara), juga ada wakil bupati. Malu! Harus proses hukum!”

Ini terjadi belum lama ini. Tentang itu, sudah dijelaskan (dipertanggungjawabkan) semuanya. Dipahami tetapi tidak diterima. Ya, sudahlah. Silahkan teruskan apa maumu!

Cuma soal malu yang ini, sempat menguras lebih banyak air mata. Menangis bukan karena jeruji besi menanti, melainkan terutama betapa orang tak mudah memahami sebuah maksud dan perbuatan baik. Pertanyaan berikut pun sempat dilontarkan dengan suara napas sesak nan sunyi dalam diam: “Kau, Tuhan, di manakah Kau? Tidakkah Kau bisa mengubah hal yang tak mudah itu?”

***

Rasa kemanusiaan ini besar, dan harus diwujudkan. Soal malu, itu semua adangan yang mesti dilampaui, sekalipun dengan menguras air mata. Ketiga malu di atas diikuti air mata.

Dan rasa sepi pun selalu ada. Dan beginilah kesepian itu ketika dipuisikan: Duka ngeri/ ketika Tuhan terasa tak ada/ Tak ada ketika diadang/ Itulah sepi// Tapi kan dulu Tuhanku juga sepi/ di padang gurun dan taman Getsemani/ Ketika itu Bapa-Nya terasa tak ada juga.*** (Flores Pos, Kamis, 3 Maret 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE, OPINI and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s