Ngotot Privatisasi Pantai Pede, Ada Apa?

Pantai Pede

Sebuah Karikatur, sumber “http://www.pulaubunga.com

Oleh Avent Saur

Tokoh lintas agama dan tokoh masyarakat Manggarai pernah membuat petisi perihal penolakan privatisasi Pantai Pede, di Labuan Bajo, Manggarai Barat. Petisi itu dimulai Desember 2015, ditandatangani salah satu tokoh lintas agama dari kalangan Katolik, Uskup Hubert Leteng Pr. Dan entah berapa orang telah menandatanganinya.

Beberapa hari ini, ada lagi petisi baru, dimulai oleh Cheluz Pahun, warga Labuan Bajo, juga Bernardus Barat Daya. Petisi itu ditujukan kepada Gubernur Franz Labu Raya, juga Presiden Joko Widodo dan Menteri Dalam Negeri Tjahyo Kumolo.

Petisi-petisi ini adalah reaksi kemudian sekali, menanggapi kegigihan Gubernur Franz Lebu Raya untuk tetap pada kebijakan eksekusi privatisasi Pantai Pede. Reaksi sebelumnya sudah banyak sekali, baik perorangan maupun lembaga, baik melalui tulisan maupun demonstrasi. Awal Maret 2016 ini, pelbagai pihak menemui Pak Gubernur.

Dalam petisi tadi, seorang warga Mabar yang menandatanganinya berkomentar begini: “Sudah lama sekali warga Mabar bersuara perihal niat ‘kurang bagus’ dari Pak Gubernur Frans. Tapi kok kayak gak didengar ya??? Luar biasa, Bapak yang satu ini”.

Sudah lama? Ya, betul, sudah sekitar 4 tahun, sejak 2012. Kala itu, Franz Lebu Raya mengklaim Pantai Pede sebagai milik pemerintah provinsi. Lalu dengan hak dan kuasanya sebagai gubernur, berencana menyerahkan pengelolaan pantai itu kepada pihak ketiga yakni PT Sarana Investama Manggabar (SIM), milik Mantan Ketua DPR RI Setya Novanto. Tujuannya, demi meningkatkan pendapatan daerah dan menunjang kesejahteraan masyarakat.

Selain hak dan kuasa, pada pertemuan dengan pelbagai pihak termasuk tokoh agama awal Maret ini, gubernur kemukakan dua alasan lain: bahwa Pantai Pede itu lahan tidur, dan bahwa gubernur menjalankan perintah undang-undang. Tujuannya seperti tadi.

Hak dan kuasa? Harap Gubernur tidak lupa, semua masyarakat NTT tahu bahwa hak dan kekuasaan yang dimiliki gubernur adalah titipan rakyat. Gubernur kesampingkan ini? Kepada rakyatlah, hak dan kekuasaan itu berorientasi, bukan untuk popularitas, bukan untuk bermafia, bukan untuk memperdagangkan harta masyarakat kepada pihak ketiga, bukan untuk memperkaya pribadi, dan pelbagai hal sempit serta tidak bermoral lainnya.

Dan lahan tidur? Sudah lama sekali, masyarakat Labuan Bajo dan sekitarnya, bahkan dari Ruteng, dan tentu para wisatawan mancanegara, berpiknik di pantai itu. Lahan itu sudah ‘bangun’ sejak dahulu. Kekurangannya adalah pemerintah tidak mengelola tempat publik itu menjadi lebih produktif, tampak tidak teratur, kurang tampak bersih. Tapi bukan karena kondisi itu, lalu pemerintah menyerahkan pengelolaannya kepada investor dan menjadikannya tempat usaha pribadi (hotel berbintang). Bukan!

Demikian juga soal perintah undang-undang. Entah seperti apa perintah undang yang dimaksudkan oleh gubernur. Tapi yang pasti bahwa ada UU Nomor 27 tahun 2017. Salah satu bunyinya kira-kira begini, “Kawasan pantai di Labuan Bajo dan Manggarai Barat dalam area 100 meter dari batas pasang laut bebas dari bangunan, dan menjadi area ekologis serta terbuka seluas-luasnya terhadap akses publik.”

Gubernur bukan orang yang tidak bisa menangkap apa maksud pelbagai kalangan menolak privatisasi Pantai Pede. Juga bukan tidak paham undang-undang tersebut. Ia tangkap, tapi lalu kesampingkan.

Mengapa? Ada apa? Untuk apa? Gubernur bisa menjawabnya. PT SIM juga mungkin bisa menjawabnya. Rakyat Mabar ya bisa menduga-duga jawabannya. Kiranya perjuangan pelbagai pihak menolak privatisasi Pantai Pede akan berhasil.*** (Flores Pos, Selasa, 8 Maret 2016)

Baca juga:

Tolak Privatisasi Pantai Pede

Pantai Pede dan Identitas Masyarakat Lokal

Pantai Pede, Kepentingan Elite dan Perlawanan

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s