Pendefinisian Sastra NTT

  • Sebuah Jawaban Diskusi atas Opini Hans Ebang

Oleh Eto Kwuta

Eto Kewuta

Eto Kwuta, Pengajar di SMAK Santo Ignatius Loyola Labuan Bajo, Manggarai Barat

Flores Pos edisi Kamis, 10 Maret 2016 menurunkan opini Hans Ebang berjudul Pendefinisian Sastra NTT, Mendiskusikan Konsep Sastra NTT Versi Yohanes Sehandi. Sejauh penemuan saya, Hans Ebang menyoal realitas intrinsik dan ekstrinsik sastra NTT terkini. Beliau mengungkapkan pendefinisian sastra NTT versi Sehandi sebagai yang “pincang”, serentak menyuguhkan dua poin penting soal pertalian waktu (history) dari sastra lisan dan sejauh mana sastra dari luar memengaruhi sastra NTT.

Saya pun menemukan dalam pembacaan ini bahwa kedua poin ini sama-sama penting dan sebenarnya inse termaktub dalam pendefinisian versi Sehandi. Pertalian keduanya mendorong Hans Ebang menemukan semacam “ketidaktelitian” Sehandi mengenai patokan, acuan dan definisi. Saya menyebut “ketidaktelitian” karena Hans menemukan kepincangan di dalamnya. Itu berarti ada yang mesti diperbaiki atau yang belum beres perihal kondisi dan keadaannya perlu diperhatikan dan diperbaiki.

Di akhir opini, Hans memberi masukan soal pendefinisian sastra NTT dengan menambahkan kata “modern” dan menyampaikan persoalan “tentang/latar NTT” untuk didiskusikan lebih lanjut. Hemat saya, bukan sebuah kesalahan apabila kata “modern” ditempatkan di belakang sastra NTT, menjadi “sastra NTT modern”, asalkan memiliki pendefinisian yang jelas, padat, dan akurat. Untuk itu, saya masuk pada soal pendefinisian guna menjawab tawaran Hans Ebang mengenai diskusi perihal “tentang/latar NTT” dan selanjutnya menarik benang merah dari tulisan ini.

Pertama, persoalan “tentang/latar NTT” sebenarnya sudah jelas karena merujuk pada sastra warna daerah NTT atau yang berkaitan dengan lokalitas (budaya dan tradisi lisan NTT). Mengenai ini, Sehandi sudah menulis dalam buku kedua berjudul “Sastra Indonesia Warna Daerah NTT”, masih dengan penerbit Universitas Sanata Dharma, prolog ditulis oleh Dr. Marsel Robot (Ketua Progam Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Univeritas Nusa Cendana), dan Yosep Yapi Taum (editor).

Di dalam buku ini, Sehandi menulis bahwa sastra NTT merupakan sastra Indonesia warna daerah (lokal), menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana pengungkapannya (bdk. Sehandi, 2015).

Ini berarti persoalan “tentang/latar NTT” sudah tampak jelas, sehingga bisa dikatakan bahwa lahan intrinsik sastra selalu menjadi garapan para sastrawan NTT (diambil dari dalam warna kedaerahan itu sendiri). Warna kedaerahan ini beragam yang mencakupi bahasa, keberagaman suku, seni-seni budaya, dan lain-lain.

Hans Ebang

Hans Ebang

Lebih jauh, lahan intrinsik sastra, hemat saya merupakan sastra NTT jalur pertama yang diangkat sebagai bahan sastra, kemudian ditulis secara sastrawi, dan menjadi karya-karya yang bermuatan nilai-nilai kedaerahan atau lokalitas.

Dengan berkaca pada pandangan Mursal Esten yang menyebut sastra warna daerah sebagai “sastra Indonesia jalur kedua” (bdk. Sehandi, 2015), maka saya menyebut persoalan “tentang/latar NTT” sebagai locus atau lahan pertama yang menjadi objek kajian sastra NTT.

Artinya, semua tradisi lisan, ritus dan sistem kepercayaan masyarakat mendapat tempat dalam karya yang dihasilkan oleh orang NTT dan inse mendapat pendefinisian pula sebagai sastra NTT. Hanya saja fokus penelitian Sehandi lebih kepada sastra modern saat ini sehingga muncul konsep sastra NTT tanpa menambahkan kata “modern”. Namun, Sehandi sudah menyederhanakan pendefinisian ini dengan menyebut Sastra Indonesia Warna Daerah NTT atau selanjutnya disebut sebagai sastra NTT.

Pendefinisian Sehandi ini bertolak dari pandangan Jakob Soemardjo, Mursal Esten, dan Budi Darma (ibid). Sehandi merumuskan sastra Indonesia warna daerah NTT sebagai karya sastra yang ditulis dalam Bahasa Indonesia, mengandung kultur lokal dan karakter kedaerahan khas NTT seperti tema, aspirasi, amanat, latar, ketokohan, dan lainnya. Di sini, karakter kedaerahan ini mesti bersifat khas NTT. Ini berarti ada muatan warna kedaerahan, misalnya, novel Mata Liku (2014) dan Ndaina (2014) ditulis oleh sastrawan Kristo Ngasi dengan latar Sumba; dan masih banyak lagi.

Kedua, sastra yang dihasilkan oleh orang NTT. Sejauh saya membaca buku terbaru Sehandi yang dikirim pada pertengahan Januari  2016, ide Sehandi tersebut bertolak dari perintis sastra NTT, Gerson Poyk. Beliaulah yang pertama kali menulis dan mempublikasikan karya sastranya kepada masyarakat umum dengan menggunakan sarana Bahasa Indonesia tahun 1961, tiga tahun setelah Provinsi NTT terbentuk tahun 1958. Tentu saja, ide ini berangkat dari penemuan data-data valid, bukan manipulasi, dan berangkat dari sejarah.

Di sini, pendefinisian sastra NTT versi Sehandi bukan tanpa dasar. Beliau memiliki acuan yang jelas bahwa sastra NTT dimulai sejak tahun 1961 sampai sekarang. Artinya, Sehandi sudah merampung mengenai sastra NTT bertolak dari publikasi cerpen Gerson Poyk.

Saya pun berasumsi bahwa pendefinisian versi Sehandi cukup memuaskan karena saya masih melihat unsur intrinsik sastra kedaerahan (lokalitas) dimasukkan dalam konsep sastra NTT. Perlu diketahui bahwa unsur intrinsik sastra atau lokalitas itu bersifat universal, maka berbicara soal lokalitas berarti tidak terlepas dari tadisi lisan sebagi sastra pertama.

Namun, tradisi lisan memiliki cakupan panjang-lebar seperti cerita rakyat, mitos, legenda, dan nyanyian rakyat yang mengandung pesan-pesan moral masing-masing; sehingga studi mengenai sastra lisan bisa dilakukan dengan pendekatan-pendekatan para ilmuwan, misalnya, mitos cerita Raja Siramuduk dan Marga Langobelen (cerita dari desa Lamawara, Kabupaten Lembata) dikaji dengan pendekatan Levi Strauss oleh mahasiswa STFK Ledalero, Maumere (2015). Oleh sebab itu, pendefinisian sastra NTT versi Sehandi sudah menyentuh warna kedaerahan, terlepas dari sastra lisan.

Selanjutnya, saya sangat mengapresiasi Hans Ebang yang menarik kita kembali ke akar tradisi lisan, ritus dan sistem religi tersebut serentak melihat hal yang menguak saat ini, yakni berkenaan dengan pengaruh dari luar kedaerahan. Dinamika ini menyata dalam diri sastrawan di mana mendapat pengaruh dari tokoh-tokoh tertentu, entah itu dari luar Indonesia maupun di Indonesia sendiri. Maka, saya menilai secara wajar kalau Hans menambah kata “modern” di belakang sastra NTT, tetapi mesti diikuti pendefinisian yang jelas dan bukan pendefinisian mirip sebagaimana ditulis Sehandi.

Hal ini membuka pikiran saya bahwa apabila Sehandi membuat pendefinisian dari awal sebagai sastra NTT modern, maka saya yakin pendefinisian sastra NTT versi Sehandi pasti memasukkan juga kata “modern” di dalam pendefinisian tersebut. Akan tetapi, Sehandi menggunakan sastra NTT yang berarti sastra tentang/latar NTT, dihasilkan orang NTT, dan menggunakan bahasa Indonesia.

Ketiga, sastra yang menggunakan media Bahasa Indonesia. Pendefinisian ini hendak menegaskan bahwa sastra NTT (yang menyentil lokalitas) ditulis dengan menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu orang Indonesia. Tujuannya, publik mengerti dan memahami, kemudian mendalami dinamika kesusastraan warna lokal tersebut. Di sini, saya menjawab pertanyaan sejauh mana sastra NTT mendapat pengaruh dari luar?

Sastra NTT mendapat pengaruh dari luar saat masyarakat NTT sudah belajar Bahasa Indonesia, mengerti Bahasa Indonesia, dan mampu berbicara atau berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Indonesia maupun bahasa-bahasa asing. Saya justru mengapresiasi Hans Ebang terkait dua poin penting yang ditawarkan beliau karena kita bisa mendefinisikan sastra NTT dengan memasukkan dua poin ala Hans Ebang tersebut.

Yohanes Sehandi

Yohanes Sehandi

Lebih lanjut, tidak terlepas dari tiga pokok pendefinisian Sastra NTT versi Sehandi ini, saya melihat secara gamblang bahwa “bahasa daerah tidak dimengerti oleh semua orang, sedangkan Bahasa Indonesia dimengerti oleh semua orang Indonesia”, maka gebrakan awal dibuat Gerson Poyk dengan menulis cerpen berjudul “Mutiara di Tengah Sawah” dimuat dalam majalah Sastra (edisi tahun I, Nomor 6, Oktober 1961) dan termasuk cerpen terbaik pada tahun itu (bdk. Sehandi, 2015).

Tentu saja jawaban ini belum pas dan bisa didiskusikan lagi, namun, dengan mengacu pada pengalaman Sastrawan Indonesia W.S. Rendara. Beliau adalah penyair terbesar periode 1950-an yang sangat mengagumi penyair asal Spanyol, Frederico Gracia Lorca. Ada 3 jenis puisi Rendra, yaitu puisi romantik yang memiliki ciri  kembali ke alam (ditulis tahun 1950-1960), puisi protes sosial (Blues untuk Bonnie, 1971; Potret Pembangunan dalam Puisi, 1978; dan Orang-Orang Rangkasbitung, 1996) serta puisi-puisi renungan hidup (Disebabkan karena Angin) (Bdk. Herman J. Waluyo, 2002). Dengan kemampuan berbahasa Indonesia dan berbahasa asing, Rendra membaca karya-karya Lorca dan mempelajari itu sambil menulis puisi.

Hemat saya, pengaruh sastra dari luar NTT maupun mancanegara sudah termasuk dalam pendefinisian sastra NTT versi Sehandi karena pendefinisian tersebut merujuk pada tema umum berupa Sastra dan NTT sebagai pemilik sastra tersebut. Dan sudah jelas, Sehandi menyertakan contoh yang disajikan dalam buku-buku hasil penelitian beliau yang sudah beredar di pelbagai tempat di level lokal dan nasional.

Untuk diketahui, pendefinisian selalu merujuk pada proses, cara, dan aktivitas, maka untuk memperjelas pendefinisian tersebut, sedapat-dapatnya diberikan contoh bahwa ada proses, cara dan aktivitas yang sudah dan sedang berjalan. Tidak mengherankan kalau Sehandi sudah menunjukkan bahwa sastra NTT bergerak dari ketiga poin ini.

Untuk itu, pendefinisian Sastra NTT tidak ditulis begitu saja, tetapi ada patokan maupun sistem acuan yang jelas. Yohanes Sehandi justru merunut pada data-data valid, mengolahnya, dan memperkenalkan pendefinisian sastra NTT sebagai sastra tentang NTT, ditulis oleh orang NTT, dan menggunakan Bahasa Indonesia yang baku. Dengan demikian, pendefinisian sastra NTT versi Sehandi sudah merampung perihal “tentang” atau “latar” sebuah karya tanpa mengabaikan unsur intrinsik sastra.

Begitu juga dengan unsur ekstrinsik sastra yang selalu bergerak dalam proses belajar seperti membaca dan menulis, sebagaimana Rendra mengagumi Lorca, atau Monika R. Arundhati yang mengagumi Arundhati Roy, seorang novelis dan aktivis India di tahun 1997 yang memenangkan Booker Priz.

Buku Sastra

Dengan demikian, pendefinisian sastra NTT versi Sehandi adalah juga merupakan sastra NTT (modern) dengan latar NTT, ditulis oleh orang NTT, dan menggunakan Bahasa Indonesia sebagai sarana pengungkapannya.

Dengan berkaca pada dua poin yang ditawarkan Hans Ebang, maka saya menegaskan bahwa sastra NTT selalu kembali ke akar budaya, tradisi lisan dan tulis, ritus dan kepercayaan dan mendapat pengaruh dari luar NTT dan ini merupakan dinamika. Hanya saja pendekatan yang dipakai ilmuwan selalu berbeda-beda. Sehandi menelaah sastra tulis dengan tidak melepas-pisahkan unsur intrinsik dan ekstrinstik sastra. Di sini, pendefinisian sastra NTT versi Sehandi sudah tampak jelas. Namun, secara temporal bisa digugat karena sastra bersifat bebas tafsir dan ada banyak kemungkinan bahasa yang bisa melengkapi pendefinisian sastra NTT untuk memperkaya sastra NTT dari waktu ke waktu.*** (Flores Pos, Selasa, 15 Maret 2016)

Baca terkait:

Pendefinisian Sastra NTT (oleh Hans Ebang)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s