Mengapa Mereka Dibiarkan?

  • Surat Terbuka kepada Bupati Ende, Ketua DPRD Ende dan Kapolres Ende

Oleh John Dami Mukese, SVD

Pater John Dami Mukese SVD, Warga Kota Ende, Tinggal di Biara St. Yosef Jalan Katedral 5 Ende

Semoga surat ini menemui Bapak-Bapak dalam keadaan sehat dan bahagia menjalankan tugas masing-masing.

Pertama sekali saya ingin memperkenalkan diri saya. Saya adalah Pater John Dami Mukese SVD, seorang pastor yang berdomisili di Biara Santo Yosef Jalan Katedral 5, Ende. Pada tempat kedua, saya memohon maaf apabila kedatangan saya lewat surat ini agak mengganggu bapak-bapak dalam kesibukan memimpin dan membangun masyarakat Ende yang sejahtera. Juga minta maaf apabila cara yang saya gunakan ini dipandang kurang pantas bagi bapak-bapak dalam kapasitas bapak masing-masing. Untuk tidak menyita waktu bapak-bapak yang sangat berharga itu, baiklah saya langsung saja ke tujuan.

Sudah cukup lama Kota Ende tidak lagi sebuah kota yang aman dan nyaman untuk banyak orang. Kehadiran sepeda motor-sepeda motor “balap”, dengan para pengendaranya yang tidak memiliki kepekaan sosial, telah menjadikan kota ini sebuah kota yang bising dan gaduh hampir sepanjang hari. Memperhatikan bagaimana para pengendara ini menggunakan jalan raya di kota dengan “sewenang-wenang” di luar batas-batas toleransi kewajaran orang waras, saya bertanya-tanya: “Mengapa mereka dibiarkan?”

Bapak Bupati, Bapak Ketua DPRD, dan Bapak Kapolres yang terhormat. Setelah mencari jawaban atas pertanyaan tentang apa manfaat dari melarikan sepeda motor dengan kecepatan tinggi di jalan-jalan kota, atau apa manfaat dari melarikan sepeda motor dengan knalpot meraung-raung memecahkan anak telinga dan merobek-robek ketenangan di siang maupun malam hari, serta mengapa para “pembalap” itu begitu nekad tidak memedulikan orang lain sampai tidak menghargai hak-hak warga, akhirnya saya menemukan jawaban-jawaban di bawah ini.

Marsel Petu dan Hery Wadhi

Bupati Ende Marsel Petu dan Ketua DPRD Ende Heri Wadhi

Untuk mengantar bapak-bapak ke sana, izinkan saya bertanya: Tahukah Bapak Bupati, sadarkah Bapak Ketua DPRD, dan pedulikah Bapak Kapolres, apa yang para pembalap itu mau pamerkan?

  1. Kita mulai dari hal-hal yang positif: Ketika dengan arogansi primitif mereka melarikan sepeda motor sambil meraung-raung keliling kota, mereka mau pamerkan bahwa:
  • Kami orang kaya. Orangtua kami punya banyak uang dan berkelebihan. Karena itu mereka beri kami sepeda motor model apa saja yang kami inginkan. Uang kami berkelimpahan, karena itu tidak sulit bagi kami untuk membeli bahan bakar dan knalpot racing beraneka model, termasuk rokok dan lain-lain objek kesenangan kami.
  • Orangtua kami lemah. Apapun yang kami minta, mereka beri saja. Apalagi mereka tidak mau repot urus kami di rumah. Urus diri sendiri saja mereka tidak sanggup, apalagi mau urus kami. Karena itu, maka mereka serahkan kami ke atas punggung sepeda motor. Lantas rumah kami pun ada di jalan-jalan kota, di trotoar dan deker-deker, serta di tikungan-tikungan gelap.
  • Orangtua kami sudah miliki segala-galanya untuk anak-anak mereka. Karena itu, mereka rasa tidak perlu mengajar kami tentang hidup hemat, hidup sederhana, apalagi hidup keras. Mereka serahkan kami kepada kenikmatan berbalap-balap, dan orangtua kami ternyata senang karena dengan berbalap-balap di ruang publik seperti ini kami wartakan citra keluarga kami yang elite dan sejahtera. Maka kami menyulap jalan-jalan kota jadi arena balap. Orangtua kami pun bangga karena kami kreatif dalam menikmati kekayaan mereka dan bisa menghabiskannya dengan sia-sia.
  1. Kita maju ke hal-hal yang lebih positif lagi: Ketika dengan kebanggaan murahan milik seorang pembalap kelas “tempurung”, mereka mau yakinkan satu sama lain bahwa:
  • Untuk menjadi terkenal, kita harus berani masuk dan menerobos ruang-ruang publik. Ganggu ketenangan warga, curi hak-hak privat mereka untuk tidur nyaman. Ancam keamanan mereka di jalan-jalan raya. Langgar aturan lalu lintas dengan jiwa besar. Hanya dengan begitu kita bisa mencuri perhatian mereka dan kita pun akan dikenal, dikagumi, dan disegani.
  • Kalau mau lebih keren, kita pun mesti lakukan hal-hal yang lebih gila lagi. Ganggu ibadat-ibadat warga dengan raungan motor, biar suasana doa mereka lebih asyik. Dalam suasana khusuk dan hening baik di gereja, masjid, maupun di tempat-tempat ibadat kematian, mereka akan lebih menikmati merdunya raungan motor kita.
  • Bagi kita, inilah makna revolusi mental yang sesungguhnya, yakni melatih diri menjadi orang-orang yang memiliki rasa percaya diri atau “pede” dan bermental baja. Tidak peduli orangtua. Tidak takut penguasa. Tidak gentar terhadap polisi. Merasa nyaman hidup tanpa aturan, bangga bisa menyusahkan orang lain, dan puas membuat orangtua tidak berdaya mengendalikan kita.
  1. Akhirnya, Bapak Bupati, Bapak Ketua DPRD, dan Bapak Kapolres yang terhormat, kita sampai pada hal-hal yang paling positif: Ketika dengan gambaran diri yang palsu para pembalap kelas tempurung sirkuit jalan-jalan kota semakin menancap gas, mereka makin yakin mewartakan bahwa:
  • Kami adalah penguasa atas diri kami. Kamilah yang paling berhak menentukan masa depan kami. Orangtua serahkan seluruhnya kepada kami dengan segala fasilitas yang kami perlukan. Di rumah tidak ada aturan dan wewenang yang sanggup membatasi napsu dan kebebasan kami.
  • Karena itu, kapan dan di mana saja, kamilah yang menentukan. Apakah kami mau balapan pagi hari atau siang hari atau sore hari atau bahkan malam hari hingga subuh pun, itu hak kebebasan kami.
  • Buktinya, sampai sejauh ini, tidak ada satu orang pun yang berkuasa menghentikan kami. Tak seorang pun yang berani menegur atau melarang kami. Mengapa? Karena di rumah kami tidak punya aturan, sehingga tidak ada yang berani mengatur kami. Apalagi di luar rumah, termasuk di jalan-jalan kota ini.
  • Kami bebas dan leluasa larikan motor dengan kecepatan yang melampaui kecepatan maksimum dalam kota. Kami boleh berboncengan tanpa SIM dan membalap tanpa helm. Ketemu Polantas, mereka tidak berdaya menegur apalagi mencegat kami. Karena mereka tahu, kami yang lebih berkuasa. Apalagi kebanyakan kami masih di bawah umur; (walaupun ada banyak juga yang sudah dewasa dan bapa-bapa, yang masih senang bernakal-nakal seperti kami). Kami bebas dari semua aturan. Bagi kami, tidak ada istilah “melanggar aturan”. Malah mereka yang mencegat atau menilang kami itulah yang melanggar aturan. Dan Polantas yang baik dan menjalankan tugasnya dengan tertib dan santun, tahu itu. Karena itu, mereka senyum-senyum saja menikmati kenakalan kami.
Johannes Bangun

Kapolres Ende AKBP Johannes Bangun

Terakhir, dan mungkin yang terpenting yang mereka mau wartakan:

  • Kami tahu ada Bupati, bapak kita semua. Tetapi dia hanya berkuasa di kantornya. Kapan dia turun ke Jalan Soekarno atau Jalan Katedral atau Jalan Yos Sudarso malam-malam untuk menonton kebolehan kami? Kami juga tahu ada Ketua DPRD. Tetapi dia terhormat di kantornya saja. Selama ini kami leluasa bolak-balik dari atas ke bawah di Jalan El Tari, tetapi dia tak pernah kami lihat untuk mengagumi kehebatan kami. Juga kami sadar ada Kapolres. Tetapi wewenangnya hanya sebatas Tangsi. Dia tentu sulit datang untuk mengapresiasi kreativitas kami menyulap jalan-jalan jadi arena balap. O, Polantas juga ada. Tapi kami tidak anggap.

Bapak Bupati, Bapak Ketua DPRD, dan Bapak Kapolres yang terhormat. Itulah semua yang para pembalap kota kita ingin pamerkan ketika mereka melarikan motor dengan kecepatan tinggi sambil meraung-raung keliling kota, mengganggu dan mengancam banyak orang. Itulah hal-hal yang mereka hayati sebagai nilai-nilai yang ideal.

Saya tidak tahu, apakah bapak-bapak melihat hal di atas sebagai masalah. Banyak warga kota juga mengeluh, tetapi mereka diam-diam saja. Surat ini tidak atas nama siapa-siapa. Saya menulisnya hanya karena keprihatinan dan rasa tanggung jawab moral saya. Bahwa apabila anak-anak ini dibiarkan terus seperti itu, sama halnya kita menciptakan orang-orang dengan budaya tanpa aturan, karena mereka dibiarkan hidup dan dibesarkan dalam suasana tanpa aturan. Apakah generasi semacam itu yang kita inginkan?

Mungkin bapak-bapak akan menilai bahwa itu semua adalah khayalan atau hasil rekaan saya. Bukan, bapak-bapak! Itu hasil tafsiran saya atas gejala atau fenomena yang ada. Bapak-bapak boleh memiliki tafsiran berbeda atas fenomena yang sama. Tetapi inilah tafsiran saya, dan bukan tanpa dasar. Surat ini hanya sampai di sini. Tujuan utamanya hanya mau bertanya: Mengapa mereka dibiarkan?

Saya mengalamatkan pertanyaan di atas kepada bapak bertiga, karena sepanjang pemahaman saya, hanya bapak bertigalah yang memiliki wewenang legal untuk menangani dan mengatasinya. Lebih dari itu, juga karena saya masih percaya bahwa bapak-bapak tidak sedang membangun kota Ende yang tanpa aturan dan minus etika sosial seperti yang diimpikan oleh anak-anak tersebut. Atas perhatian dan kesediaan meluangkan waktu membaca surat ini, serta kesungguhan bapak-bapak mencari jalan menangani masalah ini, saya ucapkan limpah terima kasih.*** (Flores Pos, Kamis, 17 Maret 2016)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in ASPIRASI, OPINI and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Mengapa Mereka Dibiarkan?

  1. Kandidus L. Tolok says:

    Masukan yang sangat.positif.

  2. SS says:

    Saya puas Romo… pemimpin kita memang harus di ganggu supaya tidak “nyenyak”… generasi muda perlu revolusi mental… melihat generasi muda kita melihat masa depan bangsa.. kalau perilakux seperti itu.. waahhh gawat mau ke mana kita nanti…

  3. sintus smm says:

    saya puas Romo… pemimpin kita memang harus di “ganggu” . sy kira revolusi mental bukan hanya untuk generasi muda tapi juga pemimpin kita…

  4. oscar says:

    JANGANLAH KITA MENUDING,TAPI KENAPA KITA TIDAK BERKACA DULU SEBELUM ITU!!!Thx.

  5. Iya setuju sekali,,, mengganggu sekali para anak ”ngeng” tersebut,, apalagi dengan knalpot racing yg bunyinya sangat mengganggu dan mengendarai motor seperti cacing kepanasan di jalan yg membahayakan pengemudi lainnya,,,,

  6. marni ahmad says:

    Terimakasih pater sudah mau tulis d flores pos supaya polisi dengan pejabat tau juga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s