Toleransi

Yanto

Pastor Yanto bersama Ibunya dan saudari kandungnya, serta kerabat. Berita klik di sini

Oleh Avent Saur

Kalau saya tidak dukung, pasti saya tidak datang. Urusan iman itu berbeda, tidak masalah. Sampai kapan pun kami tetap satu darah. – Sardan (Muslim), Paman dari Pater Yanto SVD

Ketika Franz Magnis-Suseno diberikan penghargaan Bintang Mahaputra Utama oleh Presiden Jokowi pada 13 Agustus lalu, pelbagai media massa melirik jasa terpenting sang filsuf dan teolog asal Jerman itu, yakni sebagai ikon pluralisme.

Pemberian penghargaan itu sebetulnya bukan hanya karena jasa dalam bidang pluralism, melainkan juga pelbagai sumbangan pemikiran Franz Magnis terhadap perjalanan bangsa ini, semisal, kebudayaan dan filsafat sosial-politiknya.

Dalam bidang pluralisme, sosok Franz Magnis sangat menonjol. Padahal basis ilmunya adalah filsafat sosial. Mungkin karena pluralisme selalu muncul dari situasi sosial dan berarus balik memengaruhi situasi sosial itu, maka Franz Magnis mampu mewujudkan bergandanya bidang jasa bagi bangsa ini.

Lebih lagi, itu juga terwujud karena bangsa ini mendasarkan pendiriannya pada Pancasila yang mengandung pelbagai bidang di dalamnya, termasuk agama, politik, budaya dan kemasyarakatan – bidang-bidang yang digeluti Franz Magnis dalam karya-karya dan dialog-dialognya.

***

“Harus diterima bahwa kita adalah minoritas di negara ini, sekalipun dalam Pancasila, rakyat Indonesia tidak dikotakkan demikian. Dan sekalipun juga, pada sedikit daerah di seantero Indonesia, kita adalah mayoritas. Pluralitas religius adalah fakta yang tak terbendung,” tegas Franz Magnis.

Franz Magnis-Suseno

Romo Franz Magnis-Suseno, SJ

Atas dasar realitas sosio-religius itu, menurutnya, pertanyaan yang paling mendesak dijawab adalah sikap praktis apa yang perlu diambil Gereja terhadap agama-agama lain – bukan hanya agama mayoritas? Sikap toleransi, adalah jawaban yang tepat. Apa itu toleransi?

Oleh pelbagai kalangan, toleransi sering kali dipahami sebagai sikap membiarkan orang beragama lain untuk mengekpresikan keyakinan agamanya – untuk beribadah. Arti lainnya, orang beragama lain tidak boleh diganggu ketika sedang mengekspresikan keyakinannya. Dasarnya, adalah kebebasan beragama yang dipadukan dengan kebebasan berekspresi, sehingga semua perasaan canggung dan takut pun menjauh; hidup rukun tercipta.

Namun menurut Franz Magnis, toleransi yang diwujudkan dalam sikap “membiarkan”, sekalipun penting dan urgen, itu hanya bersifat formal. Toleransi sejatinya melampaui toleransi formal, tidak sekadar membiarkan orang lain beribadah tanpa diganggu. Sebab, sikap membiarkan kadang bahkan sering kali lahir dari sikap hati yang merendahkan agama lain dan umatnya.

Toleransi sejati, apa maksudnya? Perbedaan adalah dasar toleransi, bukan kesamaan. Agama-agama itu berbeda satu sama lain baik tokoh, kepercayaan, bahasa religius, pandangan moral maupun teologi dan historisitasnya. Dalam perbedaan, umat beragama mesti saling menerima keberadaan agama-agama itu sebagai realitas di mana umatnya bersama-sama berjuang untuk menciptakan masyarakat yang diidealkan bersama sebagai satu masyarakat berbangsa dan bernegara. Penerimaan itu tidak dilakukan dengan depresi, tetapi kebebasan batin yang mendalam.

Yang diterima, bahkan bukan cuma perbedaan atau keberlainannya, melainkan juga segala sesuatu yang bertentangan, dan bahkan juga segala sesuatu yang saling menegasikan (saling menyangkal). Itu semua harus diterima. “Kita menerima yang lain sebagai yang lain.”

Namun saling menerima, bahkan saling mengakui, tidak membuat umat beragama untuk merelativasi keyakinannya sendiri. Mestinya, justru karena berbeda, umat beragama lebih kritis melihat kekhasan agamanya sendiri, dan harus mengatakan dengan berani “justru karena keyakinan Anda lain dari pada keyakinan saya, maka saya harus tetap berpegang teguh pada keyakinan yang saya miliki, dan kita harus saling menghormati”.

“Toleransi  berarti bahwa meskipun saya tidak meyakini iman-kepercayaan Anda, meskipun iman Anda bukan kebenaran bagi saya. Saya sepenuhnya menerima keberadaan Anda. Saya bergembira bahwa Anda ada. Saya bersedia belajar dari Anda. Saya bersedia bekerja sama dengan Anda” (FMS, 2014:142).

Memang, bukan tidak mungkin, dalam agama-agama terdapat pelbagai nilai moral dan pandangan teologis yang sama, atau juga pengalaman mistik yang mirip. Semua ini harus saling diakui.

Namun toleransi karena kesamaan-kesamaan itu bisa menjadi virus yang mengganggu. Virus itu akan mengarahkan umat beragama menuju relativisme religius, yang sebenarnya harus dihindari kalau kita mau menjadi seorang beragama sejati secara sosial.

Kata Franz Magnis, “Toleransi disalah-pahami kalau dianggap sebagai penyamaan. Misalnya, kita toleran karena ‘semua agama pada hakikatnya sama saja’, atau karena ‘agama-agama hanya jalan yang berbeda ke tujuan yang sama,’ atau juga karena ‘tidak ada agama yang boleh memutlakkan diri’. Mentoleransi pihak lain karena ‘sebenarnya’ pandangannya tidak berbeda dengan kita bukanlah toleransi namanya, melainkan sekadar mengatasi salah paham, di mana dikira kepercayaan kita berbeda, sesudah dilihat dengan lebih teliti ternyata pada hakikatnya sama” (FMS, 2004: 125). Ini mesti dihindari demi toleransi yang tidak semu, pura-pura.

***

Pernyataan Sardan, paman dari Pater Yanto SVD yang ditahbiskan di Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero, Maumere, pada 10 Oktober dua pekan lalu, adalah wujud-nyata dari toleransi sejati. Demikian pula Ibundanya, Siti Asiyah dan kakak sulungnya, Wiwik, semuanya Muslim, yang mendukung Yanto untuk berbeda pilihan dalam hal iman berikut agama (15 tahun lalu) sekalipun sedarah.

Bahkan lebih ekstrem, Yanto menjadi pemimpin-gembala umat, sekalipun Pater Yanto baru memulainya melalui penerimaan sakramen Imamat.

Anggota keluarga ini melampaui toleransi formal. Pada keluarga ini, kita belajar toleransi sejati demi menjaga keutuhan sosio-religius kita. Ketika yang sering terjadi hanya toleransi formal, atau bahkan yang formal itu masih belum banyak diwujudkan – yang ditandai dengan adanya pelbagai tindakan kekerasan bernuansa agama – kita dituntut untuk melakukan pembelajaran ini.

Dan dengan itu, apabila organisasi pluralisme dunia ingin memberikan penghargaan kepada tokoh-tokoh tertentu di Indonesia oleh karena jasanya dalam bidang pluralisme, itu tidak hanya sekadar bersifat politis semata dan memancing kecurigaan serta kritik, melainkan memang terasa bahwa itu layak diberikan.

Yah, bukan seperti penghargaan World Stateman Award kepada (mantan) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono oleh The Appeal of Conscience Foundation (ACF) beberapa waktu lalu, yang juga dikritik keras oleh Franz Magnis-Suseno dan pelbagai kalangan, sekalipun banyak kalangan juga yang mendukung (terutama birokrat).*** (Kolom Kutak-Kutik, Harian Umum Flores Pos, 22 Oktober 2015)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s