Guru Menganiaya Murid

aniaya

Ilustrasi kekerasan anak

  • Kasus di SDI Bea Mes, Manggarai Timur, NTT

Oleh Avent Saur

Ibu Wilda Milu melepaskan baju anaknya, memperlihatkan punggung anaknya kepada wartawan dan polisi untuk diambilkan gambar. Anaknya bernama Paulus Alan, usia 8 tahun (media lain sebut 7 tahun), Kelas II di SDI Bea Mes, Desa Melo, Kecamatan Poco Ranaka, Manggarai Timur (Matim), Flores, NTT.

Wilda Milu bersama suaminya, Goris Jehadi, berada di Mabes Polres Manggarai untuk melaporkan kasus penganiayaan terhadap anaknya itu. Penganiayanya adalah seorang guru, Sebastianus (Suyitno?) namanya, usia 40 tahun.

Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara

Penganiayaan itu persisnya bagaimana? Guru Sebastian memukul Alan dengan menggunakan kayu kopi. Itu terjadi, Selasa, 15 Maret 2016. “Kayu itu cukup besar,” tutur Alan di ruang penyidik reserse pidana khusus Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Manggarai.

Alan dipukul berkali-kali, disaksikan kawan-kawannya. Pada punggung Alan tampak 9 luka lebam hitam nan merah, bengkak nan belur. “Ia meringis kesakitan saat tubuhnya bergerak,” kata wartawan media ini, Albert Harianto, dalam Flores Pos, 21/3).

Saat pengaiayaan itu berlangsung, Alan spontan kencing di celana, bahkan berak. Dua pakaian Alan, saat pelaporan itu (Rabu, 16 Maret 2016), dibawa serta ke Polres sebagai barang bukti. Mungkin karena beberapa bukti ini, selain kondisi korban (apalagi korban anak), penyidik langsung menetapkan guru berkepala 4 itu sebagai tersangka, sekalipun belum dimintai keterangan, bahkan belum dikirimi surat panggilan.

Seturut rekaman beberapa media, ada dua alasan di balik penganiayaan. Pertama, Alan dipukul karena semua hasil pengerjaan PR-nya salah. Tidak ada yang benar. “Ia mengatakan saya ini bodoh dan tidak kerjakan PR,” aku Alan. Lalu spontan terjadi pemukulan.

Kedua, saat dipukul, dan lantaran kesakitan, Alan spontan juga mengeluarkan satu kata kotor terhadap guru itu. Amarahnya menaik, lalu menghujani punggung Alan dengan ayunan kayu petaka itu. Luar biasa! Kejam!

Tahukah kalian? Ternyata di ruang penyidik Polres Manggarai itu, kasus guru Sebastianus dibongkar. Menurut Ibu Wilda Milu, guru Sebastianus itu berulah buruk bukan cuma terhadap anaknya itu. Sebelumnya, sudah ada 4 murid menjadi mangsa guru Sebastianus. Bentuk penganiayaannya persis sama.

Orangtua murid bereaksi memprotes dan mengutuk kasus itu, tetapi hati orangtua luluh sehingga menempuh jalur damai. Damailah mereka, tentu dengan pelbagai janji pembaruan diri. Tetapi rupanya pada diri guru Sebastianus ternyata damai itu juga tak mempan, tak tinggal lama. Kini berulah lagi. Usai menganiaya Alan, guru Sebastianus meninggalkan kelas dan sekolah, entah ke mana.

Reaksi orangtua dan keluarganya Alan terasa sangat keras dan juga cerdas. Keras, mereka tidak mau seperti orangtua dan keluarga dari empat murid lainnya yang memberikan pendidikan salah terhadap guru Sebastianus. Pendidikan itu terbilang salah karena maaf itu ternyata murahan saja harganya, amarah itu sia-sia saja, duduk “lonto leok” (melingkar) seturut adat Manggarai tak ada faedahnya, komitmen perubahan sikap ya juga sia-sia.

“Kami tidak mau dengan jalan yang diambil orangtua siswa lain yang menyelesaikan kasusnya secara kekeluargaan. Anak saya trauma dan takut pergi ke sekolah. Keluarga serahkan kasus ini kepada polisi,” tutur Ibundanya Alan.

Lalu cerdas. Bagi orangtuanya Alan, pengertian pendidikan itu singkat saja. Pendidikan adalah sebuah pembinaan tanpa kekerasan. Dan pemukulan tidaklah lain merupakan sebuah kekerasan, yang dalam bahasa hukum disebut penganiayaan dengan kategori berat dan atau ringan.

Bagi keluarga Alan, kesimpulannya pun singkat, kekerasan itu merusak karakter murid, menodai moral pendidikan dan melanggar undang-undang yang berlaku di negara ini.

Bukan cuma orangtua dan keluarga bocah Alan – sekurang-kurangnya kita berharap – mayoritas warga Indonesia di pelbagai pelosok Nusantara ini, bereaksi keras dan cerdas dalam menghadapi kasus demikian.

Dan kiranya, kita semua bersatu untuk berpesan bahkan mendesak Bupati Matim dan Kadis PPO Matim beserta kepala sekolah SDI Bea Mes, “Jangan memelihara singa di dalam lembaga pendidikan! Jadikan sekolah itu sebagai taman yang menyenangkan, seturut pesan Ki Hadjar Dewantara!” Lebih dari itu, kita berharap kasus ini diusut sungguh.*** (Flores Pos, Selasa, 22 Maret 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Guru Menganiaya Murid

  1. germanus arman abdi says:

    Punisment dan sangsi yg tegas oleh dinas pendidikan.Hukum harus ditegakkan,jgn dibiarkan hanya proses damai.dinas pendidikan hrs meminta maaf kepd korban dan merawat luka korban ,anak kecil dibwh umur di pukul spt binatang tdk tau diri tdk mencerminkan seorg pendidik.utk korban anak momang lekas sembuh e..sy turut prihatin,sy doakan smoga lekas sembuh serta hilang rasa traumamu.imanuel.arman abdi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s