Menyelisik Konflik Tanah Bakal Bandara di Manggarai Timur

bandara

Ilustrasi pembangunan bandara

Oleh Servulus Konseng

Menulis konflik tanah bakal bandara di Manggarai Timur mungkin amat terlambat. Namun rasanya ini masih cukup relevan dan penting selama konflik ini masih bergulir.

Konflik tanah di areal bakal bandara Tenda Rae atau yang lebih lazim dikenal dengan sebutan Tanjung Bendera menghangat seiring rencana pembangunan bandara di Manggarai Timur. Ketika pemekaran Manggarai Timur terjadi pada 2007 silam, masyarakat dihadapkan pada sebuah pilihan bahwa kampung atau daerahnya harus kecipratan kue pembangunan, demikianpun halnya dengan masyarakat Kisol dan sekitarnya. Mereka menghidupkan ilusi yang sama bahwa kue yang selama ini jarang dicicipi mesti dirasakan dengan sungguh-sungguh memanfaatkan peluang dan kesempatan yang ada. Namun sebelum lebih jauh, kita perlu melihat tentang konflik tanah dan kekuasaan yang beroperasi di dalamnya.

Celo Konseng

Servulus Konseng, Putra Kisol, Alumnus Pasca Sarjana Sosiologi UGM, Tinggal di Jakarta

Klaim Legitimasi

Konflik tanah yang terjadi di banyak daerah terutama yang terjadi di Manggarai disinyalir disebabkan oleh perebutan legitimasi hak atas tanah. Perebutan klaim legitimasi bisa terjadi antarsubklan, namun bisa juga terjadi intrasubklan itu sendiri.

Kenyataan ini tentunya terjadi sejak lama. Dalam konteks Manggarai, raha rumbu tana (berkelahi rebut tanah) telah terjadi sebelum kemerdekaan. Namun hal itu semakin sering terjadi pasca kemerdekaan bahkan sampai sekarang, walaupun kini lebih banyak diselesaikan secara adjudikasi (diselesaikan melalui jalur hukum) atau diselesaikan dengan pendekatan keamanan.

Persoalannya, apakah pendekatan ini sudah cukup menyelesaikan masalah? Kenyataannya konflik masih sering terjadi seperti yang terjadi pada 7 subklan pemegang otoritas atas tanah tu di areal lokasi bakal bandara Matim. Konflik terkait ini memang belum pernah pecah, dan semoga saja tidak sampai pada kekerasan. Namun bukan tidak mungkin, hal itu menyimpan potensi konflik sebagaimana terjadi baru-baru ini.

Dalam konteks masyarakat Kisol dan sekitarnya, konflik tanah sebagai akibat dari saling rebut legitimasi atas tanah sesungguhnya bisa dirujuk juga pada sejarah kehadiran pemerintah dalam setiap aktivitas warganya termasuk dalam hal pembagian tanah. Tanah-tanah di kisol dan sekitarnya kerapkali dibagi sebagai bagian dari proyek pemerintah. Misalnya, proyek jambu mete Mbondei, pemerintah turut serta dalam pembagian bahkan menjadi agen yang sangat menentukan. Hal ini selain merusak tatanan yang ada karena unsur-unsur proyek pembangunan, juga melemahkan legitimasi pemangku adat atas tanah. Hal ini juga bisa menghilangkan nilai-nilai lokal karena cerita tentang legitimasi pemangku adat atas tanah ulayat yang diwariskan secara lisan dibelokkan oleh kehadiran otoritas lain bernama pemerintah.

Kisah lisan pun terputus. Walaupun kini ada upaya (pemerintah dan masyarakat) untuk menghidupkan budaya dan membuat rejuvenasi nilai-nilai lokal bersamaan dengan kebutuhan perkembangan zaman sering kali hal itu  mengandung muatan ekonomi politik pariwisata. Selain itu, upaya ini dihadapkan pada kisah yang terputus.

Pola yang sama sepertinya ingin diterapkan pula dalam mendapatkan tanah bakal bandara di Tenda Rae. Pemerintah menawarkan proyek dengan seabrek janji bagi masyarakat di mana masyarakat sekitar lokasi pasti kecipratan susu dan madu pembangunan bandara itu. Masyarakat pun mulai hidup dalam fantasi dan wacana ilusif seperti ini walaupun mereka punya kisah lain dari apa yang namanya proyek yakni tidak sungguh-sungguh sesuai harapan seperti halnya kebanyakan proyek (proyek jambu mete).

Masyarakat telah dibuat lupa bahwa proyek ini tidak berjalan semestinya karena semata-mata proyek musiman dan parsial (tanpa grand desain berupa tempat pemasaran dan bagaimana dipasarkan, dan lain-lain) yang dengan segera berakhir bersama berakhirnya kekuasaan politik kepala daerah.

Dengan demikian, bersamaan dengan upaya untuk menghidupkan kembali (revive) budaya dan nilai-nilainya, pemerintah meluluhlantakkanya. Bisa jadi ini benar, proyek yang satu dan yang lain tidak pernah sinergis malah saling beradu.

Melampaui Pembangunan Fisik

Selama ini, pembangunan selalu identik dengan pembangunan fisik semata seperti pengadaan listrik, air, gedung sekolah, polindes, dan sarana sarana umum lainnya seperti bandara. Hal ini tentunya menjadi pilihan masyarakat yang melihat semuanya itu dalam pandangan ingin mendapatkan tetesan madu kenikmatan dari kue pembangunan.

Pemikiran seperti ini sesungguhnya lebih mirip pandangan trickle down effect. Terkesan bahwa masyarakat lokal memandang pembangunan fisik dalam koridor manfaat bagi masyarakat setempat seperti apa manfaat bandara bagi masyarakat Kisol dan sekitarnya. Di sini, unsur unsur primordial bermain begitu kental yang jika tidak diarahkan secara baik berpotensi konflik bahkan akan terus meluas.

Oleh karena itu, langkah yang elok adalah memikirkan pembangunan yang melampaui pembangunan fisik dengan menempatkan manusia dan kemanusiaan pada titik sentral pembangunan. Manusia dan kemanusiaan mesti mendapatkan porsi “lebih” dengan terus disadarkan dan libatkan dari proses awal hingga akhir.

Sedikit cerita kecil. Dari penelitian terakhir (2014) yang dibuat dalam kerja sama antara Pemda Matim (Bapedda) dengan salah satu lembaga penelitian di UGM di mana saya juga terlibat di dalamnya muncul kesan bahwa Musrenbang tidak berjalan dengan baik. Masyarakat mengamini bahwa prosesnya berlangsung seperti biasa dan terkesan cukup demokratis.

Namun isinya tetap berbeda bahkan jauh panggang dari api. Isinya telah disortir bahkan dianulasi oleh panitia kecil dari tingkat yang lebih tinggi yang pada hemat saya tentu tidak jauh berbeda dengan paket-paket pembangunan yang telah ditentukan dari atas.

Problem ini memang merupakan masalah klasik di banyak tempat, namun tidak berarti hal tersebut dijadikan alibi untuk membenarkan apa yang sedang berlangsung di Matim. Selain itu, masalah lain dari ketidaksesuaian antara kebutuhan masyarakat dengan paket pembangunan yang diturunkan adalah absennya feedback atau evaluasi dalam setiap Musrenbang berikutnya.

Lalu bagaimana hubungannya dengan konflik tanah bakal bandara? Hemat saya ada sebuah nalar yang sama dan bersifat laten yakni manusia dan kemanusiaan tidak pernah digarap sebagai komponen utama pembangunan. Hal ini bisa dilihat pada usaha yang terus menguat agar pembangunan bandara tetap terus dijalankan demi proyek yang telah ditentukan pusat tanpa menyelesaikan persoalan konflik legitimasi dan kepentingan pada lapisan masyarakat bawah.

Masyarakat ditinggalkan pada sisi seberang dan dibiarkan berjalan sendirian untuk menyelesaikan konflik. Pemerintah berada pada sisi yang lain untuk berpikir tentang bagaimana meyakinkan pusat agar proyek ini tetap berjalan. Hasilnya konflik kian memanas.

Dari sini, saya merasa bahwa masyarakat dan pemerintah menghidupi fantasi yang sama akan pembangunan yakni fantasi akan susu dan madu hasil tetesan pembangunan. Kenyataan ini menjadi bahaya laten dari pembangunan karena sesat pikir ini mendepak manusia dan kemanusiaan yang seharusnya menjadi subjek utama pembangunan.

Itu artinya pembangunan bandara jangan sampai mengabaikan konflik yang terus memanas antarmasyarakat atau antarsubklan karena dengannya mengabaikan manusia dan kemanusiaan. Semoga konflik tanah di Tenda Rae bisa dituntaskan dengan hati jernih dan kepala dingin.*** (Kolom Aspirasi, Harian Umum Flores Pos, 2-3 Maret 2016)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in ASPIRASI, OPINI and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s