Ayahku yang Gila, Entah Kapan Pulih?

Gila

Refleksi perihal ayah ini. Gambar ini diambil saat ditemui di trotoar Jalan Soekarno Ende, beberapa waktu lalu, oleh kru KKI.

Oleh Avent Saur

Entah sudah berapa tahun ia berkelana tanpa arah. “Sudah sejak saya masih kecil, kata orang begitu,” ujar seorang anak. Tapi bukan perihal anak akil balik yang baru menamatkan sekolah menengah atas itu, melainkan perkara ayahnya yang menjelajahi kota mungil Ende dari sudut ke sudut setiap hari, dari pagi hingga pagi berikutnya tiba.

“Kadang dia kembali ke rumah, entah malam jam berapa, tak seorang pun tahu. Pada pagi, kelihatan ia pergi lagi,” tutur anak itu.

Ayahnya punya rumah sendiri. Istrinya bersama anak itu punya sendiri.

Rumah ayahnya, rumah lama entah sudah melewati ratusan terjangan angin dan badai, hujan dan panas, beberapa dekade. Rumah itu ambruk, tak berbentuk lagi, kecuali beberapa lembar seng berkarat dan berlubang-lubang masih bertengger pada beberapa balok tua nan lapuk yang tampak enggan ambruk.

Celah ukuran besar pada dinding yang terbentuk oleh pelupuh-pelupuh bambu usang berjarak, dan celah yang sama pada langit-langit yang terbentuk oleh seng-seng berkarat berantakan, seakan-akan mempersilahkan cahaya matahari dan air hujan sang langit menembusi “rumah kemanusiaan” itu.

Di situ, ayahnya tinggal. Kain-kain lusuh dialaskannya pada lantai tanah nan kotor berserakan sampah-sampah, “itu kasur,” katanya. Kain-kain itu basah, bukan cuma lembab, dan sudah sekian lama tak mengering. Busuk baunya, tentu. “Ini aman. Tidak apa-apa, katanya,” begitu ketus anak itu  meniru perkataan ayahnya.

Tega sekali rasanya, juga tak tega membiarkan ayahnya begitu. Mungkin dulu ayahnya berbenturan dengan ibundanya. Dari cekcok, mungkin, lalu rumah diwarnai keributan, kemudian pisah ranjang, dan akhirnya berbeda rumah. Berawal dari situ mungkin, ayahnya jadi begini sekarang.

***

Pada hari itu, Sabtu, salah satu akhir pekan bulan Maret 2016, ayahnya diajak kru Kelompok Kasih Insanis (KKI) Ende untuk menunjuk di mana ayahnya itu tinggal. Yah, sang ayah diajak, saat kru KKI mengelilingi kota Ende untuk mencari dan menemui serta memberi nasi sebungkus dan air segelas kepada orang-orang yang mengalami gangguan jiwa. Salah satunya, ayah itu.

Ia selalu bertopi, lusuh nan kotor. Pada pangkal lengannya, sebuah karung lusuh entah berisi apa, menggantung. Lengan itu ditutupi kameja panjang, kadang kaos pendek. Pada pinggangnya, sebuah kain lusuh produk industri tekstil mengikat longgar, dan menutupi celana bruk pendek yang juga lusuh.

Dari jalan ke jalan di Kota Ende, bahkan lorong demi lorong, ia tempuh dengan langkahnya yang agak panjang seturut postur tubuhnya. Ia tidak menghiraukan panasnya cahaya surya, demikian juga membaranya aspal di kaki telanjangnya. Kotornya udara berasapkan kendaraan tak dihiraukannya,  begitulah juga angin dan dingin malam yang ditembusinya tanpa naluri peduli sedikitpun.

“Eh, kamu ke mana?”

“Mau ke sana.”

“Ke mana?”

“Ah, jalan-jalan saja, ke sana?”

“Setiap hari kamu jalan-jalan terus?”

“Hehehe…iya.”

“Kamu tampak lelah sekali karena jalan-jalan terus.”

“Tak apa-apa, jalan-jalan saja ke sana. Baik, saya jalan dulu.”

“Eh, kamu mau ke mana? Berhenti sedikit, ini ada nasi sebungkus dan air segelas. Istirahatlah, nikmati ini. Kemudian baru jalan-jalan lagi.”

Dan lagi, “coba pikirkan, apa yang kamu cari ketika berjalan-jalan begitu setiap hari tiada henti? Kamu kelihatan ada di mana, jalan dan jalan terus. Sedikit istirahat, lalu jalan lagi.”

“Cuma jalan-jalan, tak cari apa-apa.”

“Di mana rumahmu?”

“Di sana.”

“Di mana?”

“Di sana. Saya ada rumah, sudah ambruk, tapi menyenangkan. Malam kadang saya pulang rumah, lalu jalan-jalan lagi.”

“Boleh kita ke rumahmu.”

“Ah, jangan, tidak usah.”

“Ah, kita ke rumah, mau lihat-lihat saja, dan temui keluargamu.”

“Hehe..ok.”

Bersamanya, beberapa kru KKI menuju rumah ayah sore itu. Begitu kisah mulanya, sampai menemui anak ayah itu dan mendengarkan cerita-cerita anak itu, dan menyaksikan gubuk ambruk itu.

***

Nah, entah sampai kapan, ayah ini hidup begitu? Akhir-akhir ini, ayah itu agak menghindar dari kru KKI lantaran takut kalau-kalau cicin yang menembusi daging salah satu jari tangannya yang menyebabkan tangan itu berluka borok, dipotong sebagai upaya penyembuhan.

“Ini bukan luka biasa,” katanya. “Luka luar biasa, supaya kalian tahu. Kalau kamu potong cincin ini, maka mereka semua di sana akan marah. Dan kamu semua akan dibunuh oleh mereka itu.”

“Mereka itu siapa?”

“Ya, mereka di sana. Pokoknya jangan potong!”

“Tidak apa-apa, kami semua mati karena mereka bunuh kami, tidak jadi masalah. Yang penting cincin ini dipotong.”

“Jangan! Kamu jangan paksa saya! Biarkan cincin ini begini. Ini bukan luka biasa. Luka luar biasa”

Bukan tanpa upaya perihal ayah itu. KKI akan selalu mencoba mendekatinya. Doa kita: mudah-mudahan, Tuhan yang telah menghadirkan dia di dunia ini, lekas menolong untuk membarui keadaannya.

Mungkin juga perjalanannya setiap hari tanpa titik usai adalah sebuah pencarian akan Tuhan yang tersembunyi di dalam dirinya sendiri. Andaikan ia tahu bahwa Tuhan menyelinap di dalam keadaannya yang tak waras itu, dan di dalam nurani yang adalah takhta-Nya serta sanggar suci-Nya, maka ia akan berdiam di rumahnya, berdiam di tengah keluarganya, berdiam di ladang karyanya dulu, dan berdiam di rumah megah Tuhan serta berdialog dengan Tuhannya.

Entah sampai kapan, ayah? Tapi Tuhan tahu keadaanmu, dan Tuhan juga tahu apa maumu. “Kau anakku,” katamu. Dan “kau ayahku,” kataku. Anak menunggumu di rumah. Segera kembali.*** (Kolom Kutak-Kutik, Harian Umum Flores Pos, 21 April 2016. Judul asli: “Ayah dan Anak”)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE, OPINI and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s