Maafkan Kami, Magdalena!

Magdalena

Ilustrasi menangis, pilu tak tertahankan.

  • Sentilan Kemanusiaan untuk Bupati Nagekeo

Oleh Avent Saur

Peristiwa nahas menimpa Magdalena Mimi di Aemali, Kelurahan Nageoga, Kecamatan Boawae, Nagekeo, Minggu (17/4) malam. Magdalena berusia lebih dari setengah abad (52) itu, disambar dengan sepeda mega motor Vixon yang dikendarai pria 19 tahun. Sempat dirawat di Puskesmas Boawae, Magdalena mengembuskan napas terakhirnya, mengakhiri ziarah hidupnya di dunia fana ini.

Magdalena, seberapa penting mengenang sosok ini? Secara detail, entah siapa itu sosok Magdalena, saya tidak tahu sama sekali. Ketika tak sadarkan diri usai tabrakan maut itu atau ketika berada di tangan para perawat puskesmas pun, tak seorang pun mengenalnya.

Ia dikenal sebagai seorang Magdalena, sebagai warga Kecamatan Aesesa Selatan, Desa Tengatiba, Kampung Jawakisa, setelah anggota Polisi Pamong Praja yang diperintahkan Camat Aesesa Selatan, mendatangi Puskesmas itu.

Dalam berita Flores Pos, Rabu (20/4), tercatat bahwa Bupati Nagekeo Elias Djo juga dikontak dan diminta untuk menghubungi para camat sekiranya segera bersama-sama mengidentifikasi insan malang itu. “Ternyata, korban adalah warga Aesesa Selatan yang memang mengalami gangguan jiwa dan sering jalan-jalan sendirian dan menyeberangi jalan saat ada kendaraan lewat,” demikian paragraf penutup berita menyedihkan itu.

Elias Djo

Mengalami gangguan jiwa atau gila dan didentifikasi mula-mula berkat bantuan Bupati Nagekeo Elias Djo, adalah dua benang merah yang sangat penting yang mendorong saya untuk mengenang sosok Mama Magdalena.

Sebaliknya, Magdalena dikenang bukan karena jasanya terhadap negara dan daerah, bukan karena jasanya terhadap kampung halaman atau kampung kelahiran atau tanah tumpah darah, bukan juga karena kualitas diri yang disumbangkan terhadap keluarganya, demikian juga bukan karena pengorbanan dirinya terhadap pelbagai kewajiban keagamaan, bukan juga karena peran sosialnya terhadap masyarakat dan budaya, atau bukan juga karena tingkat pendidikannya.

Ia dikenang semata-mata karena dua hal tadi: gilanya dan bupatinya. Maka kita coba menyelisik dua hal ini.

***

Kita tahu orang gila itu berjenis-jenis rupa, demikian juga tersebab oleh aneka alasan. Mama Magdalena, misalnya, sering jalan-jalan tak kenal arah dan tanpa maksud yang jelas. Boleh jadi, anggota keluarganya pernah mengupayakan pelbagai cara untuk memulihkan kesehatannya, mungkin juga pernah memasungnya, tetapi Mama Magdalena tetaplah seperti saat ia mengalami nasib nahas itu. Boleh jadi juga, selama sakitnya, Mama Magdelana tidak pernah mendapatkan perhatian – apalagi kasih – dari keluarganya.

Dan sesungguhnya, dalam kenyataan, entah di mana saja dan pada siapa saja, orang gila mengalami apa yang kita sebut “ketersingkiran”. Pertama-tama, ia tersingkir dari aspek kesehatan. Kedua, karena upaya kesehatan itu hanya mungkin dilakukan oleh anggota keluarganya yang sehat, maka ketika aspek itu tidak diperhatikan oleh anggota keluarganya (atau masyarakat), orang gila pun mengalami ketersingkiran dalam aspek sosial dan budaya.

Ketiga, bukan cuma aspek kesehatan dan sosial, orang gila juga mengalami ketersingkiran dari aspek agama. Lebih sering, para tokoh agama hanya memperhatikan umatnya yang sehat, mengajak bahkan menuntut umat yang sehat untuk melaksanakan pelbagai kewajiban keagamaan. Orang sakit pun diperhatikan, paling memberikan mereka minyak suci pada saat-saat dalam sakratul maut, atau mendoakan mereka dalam perayaan ekaristi.

Terhadap orang gila? Sering kali, malah justru menertawakan dan mempermainkannya, bukan menaruh kasih sayang atau mengupayakan kesembuhan.

Keempat, ketersingkiran lainnya adalah aspek politik. Dan terkait orang-orang gila di Nagekeo khususnya, Bupati Nagekeo Elias Djo lebih mengetahui bagaimana keadaan kebijakan kepala daerah dan wakil rakyat terhadap orang-orang gila, baik dari sisi aturan maupun sisi anggaran.

***

Maka kita pun sampai pada benang merah yang kedua: Bupati Nagekeo. Adalah sebuah keberuntungan, maut yang menimpa Mama Magdalena diketahui juga oleh Bupatinya, Elias Djo.

Tiga pertanyaan reflektif sekaligus politis, bisa kita ajukan: siapakah yang bertanggung jawab atas orang gangguan jiwa, bukan cuma perihal Mama Magdalena, melainkan juga orang-orang gila lainnya? Siapakah yang bertanggung jawab atas maut yang menimpa Mama Magdalena? Dan siapakah yang bertanggung jawab atas pelbagai aspek ketersingkiran yang dialami oleh orang-orang gila?

Saya lebih cenderung mengalamatkan tanggung jawab itu kepada negara, yang dalam konteks daerah, kepada kepala daerah. Bahwasanya, kepala daerah yang dibantu oleh para pembantunya di SKPD-SKPD terkait, mesti bertanggung jawab terhadap orang gangguan jiwa, terhadap maut yang menimpa mereka, terhadap pelbagai aspek ketersingkiran yang mereka alami.

Tentu ada aneka hal yang mesti kita selisik, tapi satu hal yang mesti selalu dipegang dan disadari oleh seorang kepala daerah adalah “tanggung jawab sosial negara”. Bahwasanya, kepala daerah memiliki tanggung sosial terhadap pelbagai hal – yang tentu memang kompleks – yang menyangkut warganya entah warganya itu meminta (menuntut) tanggung jawab itu atau juga warga tidak menuntutnya, negara diwajibkan melayaninya.

Hampir –  dan memang demikianlah dalam kenyataannya – tidak ada orang gila yang meminta bupatinya untuk memperhatikan mereka, tidak ada orang gila yang menyatakan bahwa dirinya sedang mengalami ketersingkiran dalam pelbagai aspek kehidupan dan kemanusiaannya. Dalam konteks ini, negaralah yang pertama-tama bergerak melangkah untuk mendekati orang gila itu termasuk keluarganya, bahkan pihak agama, untuk secara bersama menyelamatkan orang gila sebagai perwujudan tanggung jawab sosialnya.

Adalah sebuah kesalahan kemanusiaan yang terlampau besar, orang-orang gila meninggalkan dunia ini tanpa merasakan sentuhan tangan kebijakan dan anggaran dari negaranya. Dan apakah ini juga sebuah dosa? Entahlah. Dan siapa yang tanggung? Entahlah.

Dalam konteks maut yang menimpa Mama Magdalena, mungkin kita cuma bisa mengatakan ini: “Maafkan kami, Mama Magdalena! Kami mengenangmu oleh karena pelbagai ketersingkiran yang Mama alami, dan oleh karena martabatmu sebagai manusia yang pernah hadir di bumi fana ini.”

Dan maaf untuk Bapak Bupati Nagekeo, terpaksa, oleh kepedulian saya terhadap nasib orang-orang gila yang mengalami ketersingkiran dalam pelbagai aspek kehidupan, saya menulis catatan dan refleksi ini. Kiranya bermanfaat.*** (Kolom Opini, Harian Umum Flores Pos, 23 April 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s