Menagih Janji Bupati Sikka

Oleh Avent Saur

Bupati Sikka, Yoseph Ansar Rera

Bupati Sikka, Yoseph Ansar Rera

Tidak ada salahnya apabila seseorang mengucapkan janji. Malah orang didorong untuk menyatakan janji, tentu dalam konteks kebaikan (hal-hal yang konstruktif). Namun janji kebaikan itu berubah menjadi sebuah masalah dan kesalahan kalau diingkari – atau lebih luwes – kurang ditepati. Ketika itu, janji pun ditagih, bahkan dituntut, sekaligus komitmen (bahkan integritas) penjanji dipertanyakan.

Sekurang-kurangnya, itulah yang teranyar atau sementara terjadi di Kabupaten Sikka, sebagaimana diberitakan media ini, Sabtu (23/4). Seturut berita itu, dua tahun lalu – entah tepatnya pada bulan berapa – puluhan warga yang rumahnya digusur (kebijakan Bupati Sikka Yoseph Ansar Rera) bersama kuasa hukum mereka serta aktivis dari Perhimpunan Bantuan Hukum Nusa Tenggara (PBH Nusra) Maumere, mendatangi ruang kerja Bupati Sikka. Dari kalangan pemerintah, hadir beberapa pejabat, termasuk orang nomor dua di kabupaten itu.

Pertemuan itu terbilang simpatik – kata kuasa hukum warga, Marianus Gaharpung – lantaran kepada korban penggusuran, Ansar Rera “menyatakan” akan membangun rumah sederhana, dan penyataan itu “sangat meyakinkan”. Ini sebuah “janji”, menurut warga. Durasi waktu untuk merealisasikan janji itu adalah satu tahun ke depan, terhitung sejak penyataan janji.

Kini satu tahun telah berlalu, satu setengah tahun sudah usai, bahkan sudah memasuki tahun yang kedua, janji itu tak kunjung terwujud. Warga korban coba menagih janji itu, bahkan menuntutnya. Lebih dari itu, warga mempertanyakan integritas pembuat janji, sejauh mana pembuat janji berkonsisten terhadap janji.

Lebih dari semua itu, warga melalui kuasa hukumnya itu, coba sedikit membuat penyadaran kepada pembuat janji dengan mendalami apa itu hakikat janji. Bahwasanya, “janji adalah utang”, bukan kata-kata bombastis yang memikat rasa sesaat atau sebagai omongan penghiburan yang mengusir sakit karena kebijakan penggusuran. Sebagai utang, janji mesti dibayar, ditepati. Jika tidak, janji itu akan berubah menjadi sebuah beban yang harus dan terus dipikul selama belum dibayar. Upaya penyadaran ini mesti direspons kalau pembuat janji komit menjaga integritas dirinya baik dalam konteks dirinya sebagai seorang yang bermartabat maupun dalam konteks politik sebagai seorang yang mengepalai sebuah daerah yang di dalamnya terdapat warga yang tidaklah lain menjadi muatan tanggung jawab moral politisnya.

Dari pihak pembuat janji, seturut berita akhir pekan lalu itu, sedikitnya coba merespons penagihan warga itu. Janji itu tidak sama sekali diingkari atau tidak ditepati. Proses realisasi janji sedang berlangsung, antara lain pihaknya sudah mengirimkan proposal kepada Kementerian Pekerjaan Umum, dan beberapa hal administratif lainnya sedang berjalan. Satu tahun memang sudah lewat, bahkan sudah dua tahun ini, tapi merealisasikan semua itu sama sekali tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Benar nian respons ini. Namun cukup mengundang keprihatinan dan mengurangi kredibilitas, karena penjelasan ini diberikan usai penagihan janji. Diandaikan saja, entah kapan penjelasan ini atau entah kapan kabar proses realisasi janji ini diperdengarkan kepada korban penggusuran kalau tidak ada penagihan, padahal janji ini sebenarnya sudah direalisasikan setahun lalu.

Yah tanpa mengurangi penjelasan itu, diharapkan, janji itu sungguh direalisasikan. Dan apa pun bentuk penagihannya dan apa pun bentuk responsnya, janji adalah janji yang tidak boleh tidak dipenuhi.*** (Kolom Bentara, Harian Umum Flores Pos, 25 April 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s