Mencari Keadilan

  • In Memoriam Pater Piet Nong SVD

Oleh Avent Saur

Pater Piet Nong Lewar SVD

Pater Piet Nong Lewar SVD

Umat (warga) di beberapa wilayah pastoral parokial di Keuskupan Larantuka tentu merasa kehilangan dengan kepergian gembala mereka, Pater Petrus Nong Lewar SVD (Pater Piet). Pater Piet menyelesaikan ziarah hidupnya selama 70 tahun di dunia fana ini di RKZ (Roomsch Katholiek Ziekenhuis) Santo Vincentius a Paulo Surabaya pada Kamis (14/4) siang. Besoknya diterbangkan ke Ledalero, Maumere; dan besoknya lagi, dimakamkan di pekuburan Seminari tinggi Santo Paulus Ledalero, Maumere.

Bagaimana tidak, di paroki-paroki (Larantuka, Bama, Belogili, Hokeng, Kolisagu) di mana Pater Piet pernah melayani, ia melukis dan mengukir kebajikan-kebajikan menarik bersama umat. Seturut perkataan Wakil Provinsial SVD Ende, Pater Lukas Jua SVD, dalam misa pemakaman, Sabtu (16/4), “Pater Piet melakukan tiga hal penting antara lain pastoral Kitab Suci dengan analisis sosial atas teks, mengadvokasi orang kecil dan memberdayakan mereka”.

Dengan begitu, menjadi imam tidak semata-mata mendaraskan doa dalam misa dan ibadah lainnya, tetapi juga merayakan misa di tengah realitas hidup sosial-politik-budaya-ekonomi masyarakat serta dengan vokal melawan ketidakadilan.

Perihal pribadi yang sama, Pater John Prior SVD mengatakan begini dalam khotbahnya (kira-kira intinya), “Ia adalah pastor pemberani, berkomitmen dan tanpa kompromi dalam memperjuangkan hak-hak orang kecil, tidak larut dalam kecemasan, belajar dari kearifan umat, berjuang bersama umat Flotim untuk melawan korupsi dan hukuman mati, mencintai tanpa batas, memiliki satu-satunya subyek cinta yakni Yesus Kristus”.

Keadilan, kiranya ini menjadi poin utama yang dicari-cari dengan sepenuh jiwa dan raga oleh Pater Piet. Dalamnya, ia menemukan diri dan mengalami kebahagiaan.

Merasa kehilangan atas kepergian pribadi yang “sosial nan kudus” ini tentu bukan cuma dirasakan umat di paroki-paroki itu. SVD yang ke dalamnya Pater Piet telah mengabdikan hidupnya secara total, dan keluarga serta kenalan lainnya, tentu merasakan hal yang sama. Tetapi di balik kehilangan itu, apa?

Lebih dari alasan tidak adanya lagi sosok seorang Pater Piet, kiranya rasa kehilangan itu menunjukkan bahwa kita mendambakan sosok yang kurang lebih seperti Pater Piet yang dengan berani dan komit mantap bergumul dengan konteks dan menatap ke depan mencari keadilan yang disembunyikan dalam pelbagai praktik ketidakadilan dan retorika politis diwarnai kebohongan.

Kita mesti masuk kepada “yang lebih ini” sebab ketika Pater Piet berbaring di tempat tidur tak berdaya, pulang-pergi ke rumah sakit, sebetulnya kita sudah merasakan kehilangan itu; ia tidak ada lagi di tengah umat sekalipun doa tetap ia panjatkan untuk perjuangan keadilan itu.

Kita tahu, sepanjang ketidakadilan masih terus terjadi, keadilan akan tetap terus dicari. Akhir-akhir ini, ketidakadilan itu dialami oleh keluarga kecil di Maumere, Fransiskus Molo dan istrinya, Maria Nyoritaris, serta kelima anak mereka. Sebelum gubuk mereka digusur paksa oleh pihak berwajib, mereka diduga diperlakukan tidak adil dan dimafiai oleh oknum penegak hukum dan kapitalis perbankan.

Ketidakadilan yang sama diduga dialami juga oleh Helena Sunur yang dalam kenyataan sebagai pembeli tanah milik Fransiskus Molo, bukan seperti dalam dokumen resmi tertulis Helena Sunur sebagai pemenang lelang.

Terhadap korban ketidakadilan ini, pelbagai pihak menaruh kepedulian dan berjuang mengembalikan keadilan yang semestinya mereka dapatkan. Sekurang-kurangnya, kita tahu bahwa pencari keadilan tetap ada dan berharap semakin banyak, sekalipun pada satu sisi, beberapa pejuang keadilan semisal Pater Piet Nong dan Romo Frans Amanue telah pergi dalam beberapa waktu terakhir.*** (Kolom Bentara, Harian Umum Flores Pos, Selasa, 19 April 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE, OPINI and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s