Pondok Kemanusiaan

koin2

Audiensi terbuka antara perwakilan PMKRI Maumere dan Petinggi Bank BRI Maumere pada Rabu (20/04/2016) siang, tampak komunikasi berjalan dengan alot dan sedikit tegang. Baca berita klik di sini

Oleh Avent Saur

Pascapenggusuran dua unit rumah milik keluarga Frans Molo dan Maria Nyoritraris, pelbagai bentuk solidaritas menyerbu. Pertama-tama, solidaritas dan advokasi Pastor Paroki Santo Thomas Morus Maumere Romo Lorens Noi serta Ketua Bidang Politik paroki tersebut John Bala, dan para pastor, juga biarawan-biarawati dan umat, termasuk lembaga Pusat Penelitian (dan advokasi) Candraditya Maumere.

Selain mendalami kompleksnya pelbagai kisah keluarga itu berhadapan dengan “orang raksasa” modal dan kuasa, mereka juga menggelar ibadah dan penyalaan seribu lilin di lokasi penggusuran. Langkah-langkah lainnya juga akan mereka tempuh pada waktu mendatang.

Bukan cuma mereka, PMKRI cabang Maumere juga tergerak untuk melakukan penggalangan dana melalui pengedaran kotak koin kemanusiaan. Yang teranyar, kotak koin solidaritas itu diedarkan oleh pemerihati kemanusiaan Mr. Yie Gae Tjie alias Baba Ice dan Charisnam Kuntani serta pelbagai elemen.

Setidaknya, kisah kepedulian ini mengabarkan satu tanda nyata bahwa tidak ada seorang pun (semestinya) di dunia ini yang berjuang sendirian atas hidupnya (yang notabene berhakikat sementara). Yah, sekalipun orang-orang lainnya menghambat perjuangan itu, semisal, pengalaman tak enak penggusuran dua rumah itu dan pengalaman janggal lainnya sebagaimana dikisahkan debitur Frans dan Maria dalam Flores Pos, edisi Sabtu, 9 April 2016.

Dalam kerangka hakikat sosialnya, orang merasa sepenanggungan, menaruh kepedulian, menangis bersama, menderita bersama: bagi-bagi tanggung jawab (beban) hidup. Tapi bukan karena merasa kasihan (sekalipun rasa itu muncul spontan), melainkan karena kasih tulus yang mendorong untuk rela berkorban-membantu dengan tanpa mengharapkan balasan (atau kepentingan apa pun yang dangkal) dari pihak-pihak yang dibantu. Apa yang disebut sebagai solidaritas, intinya adalah “ini”.

***

Kisah terbaru dari perjuangan hidup keluarga itu, adalah mereka membangun pondok pada salah satu titik di lokasi penggusuran. Sejak penggusuran dua unit rumahnya pada 30 Maret itu, keduanya dan kelima anak mereka berlindung di rumah tetangga (yang solider, Aleksius dan Anastasia Rinta). Frans sakit-sakitan, fisik dan mental, sejak 9 tahun lalu, dan Maria lagi mengandung, 8 bulan.

Dalam situasi seperti itu, tinggal di rumah orang atau tetangga atau juga orang paling dekat atau orang-orang baik lainnya, adalah satu gratia yang patut disyukuri. Tapi perasaannya tentu tak sebaik perasaan jika tinggal di pondok yang dibangun dengan hasil keringat sendiri entah apa pun bentuknya. Dan tentu semestinya hidup harus begitu, militan dalam pelbagai situasi dan dalam melawan pelbagai adangan. Patut diteladani, bukan?

Itulah kira-kira menjadi salah satu alasan mengapa pondok di lokasi penggusuran itu mesti dibangun.

Lebih dari itu, membangun pondok di lokas “bermasalah” adalah tanda nyata bahwa keluarga Frans sungguh berjuang untuk mendapat keadilan dan kebenaran serta membongkar dugaan praktik ketidakadilan dan mafia industri perbankan serta kapitalis lainnya dan lembaga hukum negara. Setidaknya, dalam kondisi sakit, keluarganya tetap tegar, ya tentu ditopang pelbagai pihak yang solider.

Semuanya ini adalah perjuangan kemanusiaan yang tiada henti. Dan dengan itu, Ketua Bidang Politik Paroki Santo Thomas Morus John Bala menamakan pondok itu sebagai pondok kemanusiaan.

Untuk membangun pondok itu, seturut kisah Frans, ia mendatangkan barang mentah (bambu) dari kampungnya, Tanawawo; ditambahkan juga kayu-kayu bekas rumah lamanya yang telah berkeping-keping itu, dan juga sedikit kayu baru. Di bawah naungan pondok itu, mereka memperjuangkan kemanusiaan mereka yang terinjak-injak.

Tentu kita tahu, apa itu kemanusiaan sehingga harus diperjuangkan sedemikian itu. Di dalam kemanusiaan itu terdapat martabat, ya martabat manusia. Martabat itu tidak diadakan oleh siapa-siapa di dunia ini, sebaliknya, ia terberi dari Sang Pencipta dan Penguasa, Tuhan. Dan oleh siapa pun juga, martabat itu harus dihargai, harus dilindungi, dan sebaliknya, tidak boleh diinjak-injak dengan alasan apa pun. Dengan itu juga, pelbagai hal yang berkaitan dengan penunjangan atas martabat itu, termasuk rumah kediaman, misalnya, tidak boleh dihancurkan dengan alasan apa pun.

Kita pun tahu bahwa penggusuran rumah secara paksa itu yang diduga diwarnai pelbagai kejanggalan, adalah sebuah perongrongan terhadap martabat manusia, sekurang-kurangnya, martabat manusia keluarga Frans yang “malang” itu. Dan dalam kerangka “teori pemantulan”, para penggusur dan pelaku ketidakadilan serta praktisi mafia, sebetulnya, selain menginjak martabat keluarga Frans, mereka juga telah menginjak martabat mereka sendiri karena membiarkan kemanusiaan mereka berada di bawah keangkuhan dan kerakusan akan materi yang notabene dapat binasa itu.

Kita patut mengapresiasi perjuangan keluarga Frans dan para pejuang lainnya, dan sebaliknya, kita mengutuk total ketidakadilan sesamanya. Di bawah bumi yang satu ini yang adalah sebuah “pondok kemanusiaan” raksasa, kita semestinya saling menghormati kemanusiaan kita sendiri dan kemanusiaan sesama kita, kita saling bersolider dan saling mendukung dalam menjalani liku-liku hidup terberi yang sementara ini.*** (Kolom Kutak-Kutik, Harian Umum Flores Pos, Kamis, 14 April 2016)

Baca juga terkait:

Koin untuk Korban Penggusuran

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s