Beragama di Dunia Maya

Facebook

Ilustrasi pengguna media sosial Facebook

Oleh Gusty Fahik

Bukan sesuatu yang berlebihan bila dikatakan bahwa tuntutan untuk menjadi religius dan menjadi pemeluk agama tertentu adalah keharusan di Indonesia. Di negeri ini, keyakinan religius dan agama bukan semata-mata menjadi urusan pribadi, melainkan juga urusan negara. Hal ini terlihat dari peran negara lewat Kementerian Agama yang bertugas mengurusi kepentingan agama-agama di Indonesia.

Lebih jauh, agama menjadi salah satu penanda identitas, yang dianggap perlu ditampilkan dalam kartu identitas setiap penduduk. Dengan kata lain, menjadi seorang beragama di Indonesia sama dengan menyerahkan diri untuk diatur tidak saja oleh otoritas agama yang dipeluk, tetapi juga oleh negara. Agama menjadi urusan publik, bukan semata-mata urusan privat.

Keberadaan otoritas ganda yang terlibat dalam mengatur persoalan agama ini tentu saja menjadi sesuatu yang pada titik tertentu justru membebankan warga negara. Ada hal-hal tertentu yang membuat orang justru berjuang untuk mencari saluran lain yang dianggap lebih menjamin kebebasannya dalam mengespresikan hasrat-hasrat spiritual dan religiositas yang ia miliki. Kehadiran internet menjadi semacam saluran aman, yang oleh sebagian orang dimanfaatkan untuk mengungkapkan hasrat-hasrat spiritual yang boleh jadi tidak mungkin disalurkan lewat agama dalam kehidupan nyata (dunia offline).

Massa Dunia Maya dan Keragaman Eskpresi

Situs resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika (kominfo.go.id) mengungkapkan jumlah pengguna internet di Indonesia saat ini, 63 juta orang. Dari jumlah ini, 95 persen memanfaatkan internet untuk mengakses jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, Path, dan sejenisnya. Sementara, secara global, sebagaimana dilansir BBC pada November 2015, jumlah pengguna Facebook telah mencapai angka 1,55 miliar. Dari total ini, Indonesia menduduki peringkat keempat pengguna Facebook terbesar di dunia. Sedangkan untuk pengguna Twitter, Indonesia ada pada urutan kelima terbesar di dunia.

Mengutip data dari Webershandwick, perusahaan public relations dan pemberi layanan jasa komunikasi, Kemenkominfo juga melaporkan bahwa untuk wilayah Indonesia ada sekitar 65 juta pengguna Facebook aktif dengan 33 juta pengguna aktif per harinya, 55 juta pengguna aktif yang memakai perangkat mobile dalam aksesnya per bulan dan sekitar 28 juta pengguna aktif yang memakai perangkat mobile per harinya.

Besarnya jumlah pengguna kedua jenis media sosial ini tentu berdampak pula pada keragaman ekspresi yang ditampilkan di sana. Kaburnya ruang publik dan ruang privat di dunia maya (internet) membuat orang tidak lagi peduli terhadap apa yang harus dan tidak harus ditampilkan di media sosial. Setiap orang seolah punya hak untuk mengekspresikan tidak hanya isi pikiran, tetapi juga gejolak perasaan yang sedang dialaminya. Juga, setiap orang bisa memberi respons beragam terhadap aneka persoalan, mulai politik, ekonomi, sosial budaya, hingga isu keagamaan yang dialami di dunia nyata.

Lebih jauh, segala sesuatu yang dianggap tidak bisa diekspresikan di dunia nyata bisa dilampiaskan di dunia maya. Di dunia maya, kebebasan dirayakan seolah tanpa batas, seiring kaburnya nilai-nilai yang sebelumnya ada di dunia nyata. Agama dan aneka persoalan yang melingkupinya, termasuk bentuk-bentuk ekpresi keberagamaan pun bisa dengan gamblang ditampilkan di dunia maya. Sebuah penampakan yang hampir pasti terbuka terhadap berbagai bentuk respons, entah positif atau negatif.

Sebagai misal dapat dilihat berbagai ekspresi keberagamaan yang dimunculkan oleh para pengguna media sosial online seperti Facebook atau Twitter. Ekspresi-ekspresi keberagamaan seperti doa atau kutipan Kitab Suci adalah sesuatu yang cukup lazim ditemui dalam status yang ditulis para pengguna Facebook atau kicauan para pemilik akun Twitter. Tidak lupa, foto kehadiran dalam ritus-ritus agama tertentu juga turut ditampilkan, seolah ingin menunjukkan kadar penghayatan agama, atau mempertontonkan kadar keaktifan menjalankan ritus keagamaan.

Tidak ada yang salah dengan ekspresi-ekspresi keberagamaan di dunia maya ini. Namun, sebagai fenomena yang punya hubungan dengan apa yang terjadi di dunia nyata, hal-hal di atas dapat didekati dan dilihat perbedaannya dalam beberapa aspek.

Ekspresi Keberagamaan di Dunia Maya

Bila dicermati secara lebih dekat, ekspresi keberagamaan di dunia nyata dan dunia maya dapat diringkaskan sebagai berikut. Pertama, bila dalam dunia nyata ekspresi hasrat spiritual biasa dilakukan secara bersama-sama (dalam komunitas agama atau keyakinan tertentu), dan menurut kaidah-kaidah yang telah ditetapkan dalam komunitas bersangkutan, maka dalam dunia maya, ekspresi spiritual ini bisa menjadi sangat pribadi dan kadang terlepas dari kaidah-kaidah normatif yang ditetapkan oleh otoritas agama dan negara. Orang dapat saja menulis status di Facebook atau kicauan di Twitter yang berisi gugatan terhadap sosok-sosok spiritual (Tuhan, malaikat atau nabi), mempertanyakan kebijakan para pemimpin spiritual, juga mempersoalkan ajaran-ajaran Kitab Suci atau tradisi-tradisi spiritual yang biasa dihidupi dalam dunia nyata. Hal-hal ini tentu saja tidak mungkin dilakukan di dunia nyata, bisa jadi karena tidak ada ruang yang diberikan di sana.

Kedua, ekspresi spiritual yang dituangkan di dunia maya terbuka terhadap tanggapan atau komentar dari pihak-pihak lain, entah yang setuju maupun yang kontra terhadap bentuk ekspresi yang ditunjukkan. Bahkan dalam dunia maya, doa pun bisa ditanggapi oleh orang lain. Bandingkan dengan dunia nyata, di mana doa menjadi ungkapan isi hati yang tidak harus diketahui orang lain. Ketika doa atau ajaran-ajaran Kitab Suci, misalnya, diungkapkan lewat media sosial di dunia maya, semuanya menjadi terbuka bagi berbagai jenis tanggapan, yang tidak jarang menimbulkan perdebatan panjang.

Ketiga, bukanlah hal yang mudah untuk menemukan kesesuaian antara apa yang ditampilkan di dunia maya dengan apa yang sesungguhnya dijalani di dunia nyata. Di dunia maya, ekspresi keberagamaan yang ditampilkan seseorang belum tentu merujuk secara tepat atau sepenuhnya sesuai dengan apa yang ia lakoni di dunia nyata. Orang bisa saja menulis berbagai macam doa, atau menaruh sebanyak mungkin ayat Kitab Suci dalam akun media sosialnya tanpa harus menjadi sosok yang rajin beribadah atau tekun menjalankan perintah agamanya di dunia nyata.

Aspek lain yang juga menarik dari ekspresi keberagamaan di dunia maya ini adalah kebebasan untuk memberi kritik atas praktik-praktik keagamaan yang dianggap salah di dunia nyata, atau mengungkapkan secara terbuka kekesalan terhadap otoritas spiritual yang biasanya tidak bisa bahkan tidak boleh dikritik di dunia nyata. Tidak ada batas jelas antara yang boleh dan yang tabu dalam dunia maya, termasuk untuk hal-hal yang berkaitan langsung dengan agama sekalipun.

Kejujuran di Dunia Maya

Terlepas dari kecenderungan untuk menjadikan dunia maya sebagai tempat untuk berkomunikasi, atau berbagi dengan mereka yang terpisah oleh jarak dan waktu, apa yang terjadi di dunia maya – bila dilihat lebih jauh – justru dapat mengungkapkan apa yang menjadi hasrat tersembunyi seseorang, sebagaimana saya paparkan dalam beberapa aspek di atas. Ruang kebebasan yang tersedia di dunia maya bisa membuat orang secara tidak sadar mengungkapkan apa yang tidak mungkin diungkapkan di dunia nyata karena dibatasi aneka aturan dan norma yang jelas dan ketat, apalagi yang berkaitan dengan agama dan segala perangkatnya.

Dunia nyata dan dunia maya memiliki kekhasan dan dinamikanya sendiri berhubungan dengan ungkapan atau ekspresi hasrat-hasrat spiritual. Karena itu, standar-standar yang dipakai untuk melihat ekpresi spiritual di dua dunia ini juga perlu dibedakan. Orang bisa menjadi sosok yang demikian saleh di dunia nyata, tetapi menampilkan diri secara amat berbeda di dunia maya. Demikian juga sebaliknya, orang bisa menjadi sosok yang tidak bisa dikatakan saleh di dunia nyata, tetapi justru menampilkan diri secara amat santun dan penuh kesalehan di dunia maya.

Bukan hal yang mudah untuk menilai kejujuran orang di dunia maya, sebagaimana tidak gampang juga mengungkapkan kemunafikan yang dipraktikkan di dunia nyata. Terkait ini, dunia maya bisa dilihat sebagai sebuah medan kontestasi baru, di mana banyak nilai dan norma yang berlaku dan dianggap mengungkung kebebasan berekspresi di dunia nyata bisa ditinggalkan begitu saja. Hal ini tentu saja berlaku juga untuk berbagai ekspresi lain yang ditampilkan di dunia maya, sebagai ruang publik baru yang mengasyikkan meski penuh anomali.*** (Kolom Opini Harian Umum Flores Pos, 25 April 2016)

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s