Mari Bersama Peduli Orang Gila

Anselmus, Minggu, 13 April 2014

Anselmus tak bedaya disuap oleh Pater Avent saat berkunjung pada Minggu, 13 April 2014

  • Sekilas Profil tentang Kelompok Kasih Insanis (KKI) Ende

Kelompok Kasih Insanis atau disingkat KKI dibentuk pada 25 Februari 2016. Kelompok ini secara khusus menaruh kepedulian terhadap orang-orang yang mengalami gangguan jiwa atau orang gila.

Pada saat pembentukan KKI Ende, di Jalan Anggrek simpang durian, tepatnya di Mebel Wara Group, hadir 11 orang terdiri ibu-ibu dan anak-anak muda baik yang sudah bekerja (wiraswasta) dan PNS serta biarawan, maupun yang masih bergelut di bangku kuliah. Beberapa orang tidak sempat hadir karena berhalangan; mereka adalah orang-orang yang beberapa hari sebelumnya ingin bergabung ke dalam kelompok itu.

Setelah KKI Ende diberitakan di media massa Flores Pos dan media sosial Facebook, serta siaran on air di RRI Ende Pro 2 dalam acara hot issue (7 April 2016), ada banyak orang yang mau bergabung baik yang berada di Kota Ende maupun di luar Kota Ende (Bajawa, Ruteng, Maumere, Larantuka, Lembata). Beberapa orang di Ibu Kota Provinsi NTT (Kupang) juga sudah bergabung, serta kawan-kawan di Surabaya, Kalimantan dan Jakarta.

KKI

Para pemerhati orang gila berkumpul untuk membentuk Kelompok Kasih Insanis di Ende pada Kamis (25/2) malam.

Bahkan beberapa kawan lain yang berada di luar negeri juga ikut bergabung, seperti Hong Kong, Taiwan, Thailand, Jepang, Australia, Italia, Brazil dan Amerika Serikat. Kawan-kawan di luar negeri ini adalah para TKI atau TKW, dan para biarawan-biarawati asal Indonesia yang sedang menjalankan misi di luar negeri. Kini (per April 2016), anggota KKI Ende berjumlah sekitar 70-an orang.

AWAL KISAH

KKI Ende dibentuk berdasarkan inisiatif Pater Avent Saur SVD yang sekarang bekerja di media massa Flores Pos dan tinggal di Biara Bruder Santo Konradus (BBK) Ende. Kalau jarum jam dan kalender kita diputar ke belakang, maka diingat dengan baik bahwa perjuangan peduli terhadap orang-orang gila sebetulnya bukan baru dijalankan setelah KKI Ende itu dibentuk, melainkan sudah terjadi jauh sebelumnya yakni pada Februari 2014.

Kisah Bertemu Anselmus

Pada bulan Februari itu, Pater Avent mulai berjuang untuk melepaskan warga yang menderita gangguan jiwa asal Kampung Kurumboro, Desa Tiwu Tewa, Kecamatan Ende Timur, Kabupaten Ende, bernama Anselmus Wara (31 tahun), yang saat itu sudah terpasung sejak November 2013 (sudah 4 bulan).

Kedua kaki Anselmus merentang kaku di lubang kayu pasungan. Kedua kakinya itu sudah termakan luka yang sudah mulai memborok, bahkan ulat-ulat sudah menggerogoti daging kakinya yang mulai membusuk. Bau busuk mengengat di dalam rumahnya, apalagi di dalam kamar di mana ia terpasung, rasanya sungguh tak tertahankan.

Semakin hari, penderitaannya semakin mengerikan. Luka-lukanya semakin memborok dan membusuk serta semakin berulat. Hanya tangisan yang menemaninya setiap hari, juga tak mandi, kurang makan, dan tidak ada upaya menyembuhkan luka-lukanya itu.

Anselmus hanya ditemani Ayahnya bernama Rafael Wanda (60-an tahun) yang saat itu juga sakit-sakitan dan kurusan (asma dan batuk-batuk). Mamanya sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Adik-adiknya merantau ke Malaysia dan juga tinggal di kampung lain di sekitar Kurumboro. (Dalam perjalanan waktu, Bapa Rafael Wanda meninggal pada Mei 2015 lalu di RSUD Ende).

Sejak Februari 2014 itu, Pater Avent mengunjungi Anselmus sekali dalam sepekan, untuk sekadar memberikan peneguhan dan berdoa serta memberikan makanan nasi bungkus secukupnya. Kadang dua kali sepekan Pater Avent mengunjunginya setelah Pater Avent melayani misa hari Minggu di gereja atau kapel-kapel stasi dan lingkungan di wilayah Paroki Santo Martinus Roworeke, Keuskupan Agung Ende.

Luka Borok

Keadaan Anselmus April 2014 ditemani ayahnya, Rafael Wanda.

Pada Mei 2014, penderitaan Anselmus semakin mengerikan, keadaannya semakin kritis. Rasanya, mau mati saja. Hari-hari Anselmus serasa seperti berada dalam sakratul maut.

Dalam salah satu status di media sosial Facebook, Pater Avent pernah menulis begini:

Maaf, kalau boleh, aku membanding-bandingkan

Deritanya (Ansel) melebihi derita-Nya (Yesus)/ Kalau tubuh-Mu terluka/ Kalau tangan-kaki-Mu ditembusi paku di kayu salib/ Hanya beberapa jam kemudian, Engkau wafat

Tapi yang satu ini, tidaklah demikian/ Anselmus, kakinya di lubang kayu pasungan/ Sudah berluka, lukanya berborok, berulat/ Lalat hinggap hingga kekenyangan

Bagian pantatnya juga berluka, berborok, juga punggung/ Ia hanya berbaring lesu menanti maut menjemput/ Kini sudah memasuki bulan ke-6

Yesus Kristus dan Anselmus Wara/ Derita Ansel melebihi derita Yesus, Sang Guru itu?

Entahlah!

Perihal keadaan Anselmus sejak Februari hingga Mei itu, Pater Avent menulis beberapa artikel berita dan mempublikasikannya di media massa, dan tampaknya berita itu cukup heboh serta mendapat banyak tanggapan masyarakat pembaca. Namun bagi Anselmus, dirinya tak membutuhkan publikasi itu dan tak membutuhkan entah apa saja bentuk tanggapan masyarakat pembaca. Anselmus juga tidak membutuhkan lagi nasi bungkus yang dibawa oleh Pater Avent setiap kali berkunjung. Doa, Ansel juga tidak membutuhkan itu. Demikian juga kata-kata peneguhan baik psikologis maupun spiritual, Anselmus sama sekali tidak membutuhkannya lagi.

Lalu apa yang ia butuhkan. “Pater, tolonglah saya! Lepaskan saya dari pasungan ini! Rasanya, sedikit lagi saya mati!” katanya dengan suara isak tangis mengundang pilu.

Kisah Melepaskan Anselmus

Melepaskan Anselmus dari pasungan? Kisahnya panjang dan rumit, tetapi kira-kira bisa diringkas begini. Anselmus dipasung oleh seluruh warga kampung. Untuk melepaskannya, harus berkomunikasi atau bernegosiasi dengan seluruh warga kampung itu: setuju atau tidak.

Mengapa? Anselmus dipasung “supaya” (tujuan) warga kampung itu merasa aman dari gangguan Anselmus. Anselmus dipasung “karena” (alasan) warga merasa terganggu dan terancam.

Konon, Anselmus sering mengancam warga kampung itu: membakar rumah, memperkosa, dan bahkan ancam membunuh. Warga diliputi rasa takut yang mengerikan.

Peristiwa puncaknya, adalah Anselmus membunuh Bapak Leodarnus Langi (77 tahun), pada 7 Oktober 2013. Mengerikan! Keluarga korban mengalami duka mendalam. Warga kampung semakin merasa tidak nyaman. Takut dan takut, kalau-kalau Anselmus menghabisi nyawa warga lain lagi.

Polisi dan tentara pun terjun ke kampung itu dan menangkap Anselmus dan membawanya ke Mapolres Ende. Tetapi karena Anselmus mengalami gangguan jiwa, maka ia dipulangkan ke kampung dan tidak diproses secara hukum. Kayu pasungan menunggu Anselmus, dan ia pun dipasung.

Dipasung, ya terpasung, “karena” warga merasa terganggu dan “supaya” warga merasa aman. Upaya untuk menyembuhkan sakit jiwanya, tidak ada sama sekali. Ketika sudah beberapa bulan di pasungan dan ketika kakinya luka memborok mengerikan, sedikit pun pengobatan sama sekali tidak ada. Membiarkan Anselmus mati di pasungan, kira-kira itulah “maksud” inti dari pemasungan itu. Ini juga mengerikan! Anselmus membunuh seorang warga di kampung itu, dan semua warga kampung itu membunuh Anselmus dengan cara pemasungan itu. Fakta inilah yang kurang disadari oleh orang-orang yang sadar seperti kita.

“Persoalan ini tidak boleh dibiarkan,” demikian kata Pater Avent. Hukum balas dendam (lex talionis) sudah lama berlalu. Begini kata Yesus, “Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Matius 5:38-39). Hukum balas dendam itu sudah diganti dengan hukum cinta kasih. Kata-Nya, “Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu” (Lukas 6:27).

Atau kata-Nya lagi, “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawa-Nya untuk sahabat-sahabat-Nya. Kamu adalah sahabat-Ku jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu” (Yohanes 15:12-14).

Namun untuk melepaskan Anselmus, Pater Avent tidak memiliki kuasa. Ada dua lembaga atau orang yang memiliki kuasa untuk membebaskan Anselmus. Pertama, karena Anselmus adalah seorang umat Katolik, maka pemimpin Gereja lokal yakni Pastor Paroki Roworeke atau Uskup Keuskupan Agung Ende-lah yang memiliki kuasa untuk itu. Kedua, karena Anselmus adalah seorang warga negara, maka Kepala Daerah Kabupaten Ende yakni Bupati-lah yang memiliki kuasa untuk itu.

Maka Pater Avent coba menemui Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentinus Sensi Potokota, di rumah keuskupan di Ndona; lalu berikutnya, menemui Bupati Ende, Marsel Y.W. Petu di rumah jabatannya. Alhasil, atas perintah Bupati Marsel, di bawah pimpinan Plt. Sekda Ende, Sebastianus Doa Sukadamai, Dinas Sosial dan Dinkes Ende, serta Camat Ende Timur dan para polisi; tiga hari setelah Pater Avent menemui Bupati Ende, Anselmus dibebaskan dari pasungan dan dievakuasi untuk diantar ke RSUD Ende. Syukur alhamdulilah, tentunya.

Ansel Telah Diselamatkan

Anselmus ditemani para perawat di IGD RSUD Ende

Berikut adalah kutipan sebagian berita yang ditulis oleh Pater Avent soal evakuasi Anselmus yang dimuat Flores Pos, Sabtu, 17 Mei 2014.

“Setelah melalui perjuangan yang panjang dan menantang, Anselmus Wara, warga Kampung Kurumboro, Desa Tiwu Tewa, Ende Timur, yang dipasung sejak November 2013 lalu, akhirnya telah dievakuasi pada Jumat (16/5) sekitar pukul 13.30 Wita. Kini, Anselmus sedang dirawat di ruang bedah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ende.

Disaksikan Flores Pos di ruang gawat darurat, Anselmus tampak tenang, kadang merintih kesakitan. Kedua kakinya yang berluka borok itu dibalut.

Evakuasi ini dipimpin oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Sekda Ende Sebastianus Doa Sukadamai. Hadir dalam tim evakuasi, Camat Ende Timur Karolus Jemada, Kapolsek Wolowona Yohanis Djawo dan para anggotanya, Babinsa Ende Timur, dokter dan perawat dari Puskesmas Reworangga.

Sebastianus yang ditemui di RSUD Ende mengatakan, penderitaan Anselmus sangat sadis dan tidak manusiawi sehingga harus dilepaskan dari pasungan, dan segera dirawat oleh tim medis. Anselmus tergolong pasien khusus sehingga harus ditempatkan di kamar khusus, dan perawatan selanjutnya terutama terkait masalah psikis (kejiwaan) akan diatur kemudian oleh pemerintah.

“Entah sampai kapan ia dirawat, dokter tentu akan lebih tahu pemulihan kesehatannya nanti. Ia berada di bawah tanggung jawab pemerintah,” katanya.

Sebast menambahkan, “Evakuasi Anselmus tentu bukan tanpa tantangan. Sebenarnya, pada Rabu (14/5), kami pergi ke Kurumboro untuk mengevakuasi Anselmus, tapi evakuasi tidak bisa dilakukan karena warga Kurumboro tidak mengizinkannya. Tapi saya mengajak warga untuk bersepakatan mengadakan musyawarah, selain demi menyelamatkan nyawa Anselmus, tapi juga demi menjaga situasi kondusif di Kampung Kurumboro.

“Ajakan itu diterima dengan baik oleh warga Kurumboro, dan setelah mengadakan musyarawah yang dipimpin oleh Kepala Desa Tiwu Tewa Petrus Pape, akhirnya, Anselmus bisa dievakuasi dan dirawat serta diperlakukan secara manusiawi,” katanya.”

Peduli Bersama

Anselmus dirawat di RSUD Ende sejak 16 Mei 2014 hingga 18 Oktober 2015. Ya, kurang lebih selama 5 bulan. Selama Anselmus dirawat, Pater Avent mengunjunginya setiap sehari (pagi atau malam), bersama orang-orang yang dia ajak yang merelakan waktu dan tenaga untuk menghibur dan berada bersama Anselmus.

Yang diajak itu, biasanya para bruder muda dari Biara Bruder Santo Konradus (BBK) Ende di mana Pater Avent berdomisili, juga para anak muda anggota Komunitas Sastra Rakyat Ende (Sare) yang dalamnya Pater Avent menjadi pendamping komunitas. Ya selain ayah dari Anselmus yakni Rafael Wanda yang sepanjang waktu berada bersama Anselmus di Ruang Melati, khusus perawatan bedah.

Sejak 18 Oktober 2014, Ansel diantar ke Panti Rehabilitasi Renceng Mose milik Bruder-Bruder Caritas, terletak di Manggarai, Flores, tepatnya di pinggir Kota Ruteng. Ansel dirawat hingga sembuh total, dan diantar kembali ke Ende pada 13 Februari 2016.

Selanjutnya, pada 14 Februari 2016, difasilitasi oleh Dinas Sosial Kabupaten Ende, Ansel diantar ke Panti Sosial Bina Laras (PSBL) Phala Martha Sukabumi, Jawa Barat, untuk menjalani pelatihan keahlian tertentu kurang lebih selama dua tahun. Kita berharap dia akan kembali ke Ende nanti dalam keadaan sangat sehat, dan dengan keahliannya bisa mencari nafkah atas hidupnya.

Orang Gila Semakin Banyak

Sejak mengurus Anselmus, Pater Avent dihubungi dan ditemui oleh orang-orang yang anggota keluarganya mengalami gangguan jiwa. Berkat kerja sama dengan keluarganya dan dengan bantuan Dinas Sosial Ende, beberapa orang gangguan jiwa bisa diantar ke Panti Rehabilitasi baik di Panti Renceng Mose di Ruteng, maupun di Panti Santa Dymphna di Maumere, panti milik Suster-suster CIJ (Congregatio Imitationis Jesu).

Remigius

Remigius disuap di ruang perawatan bedah RSUD Ende

Dan urusan yang agak rumit persis seperti urusan terhadap Anselmus, adalah terkait seorang gangguan jiwa bernama Remigius Puji (40-an tahun), korban pembakaran oleh seorang anak muda. Kejadian itu terjadi pada 1 Januari 2015 di Simpang Lima Kota Ende. Remigius disirami dengan minyak tanah lalu dibakar hingga seluruh tubuhnya terkena luka bakar. Dengan perjuangan seadanya, Remigius dirawat di RSUD Ende sejak 1 Januari 2015 itu hingga 1 April 2015. Selanjutnya, Remigius dipulangkan ke Kampung Seulako, Desa Ngguwa, Kecamatan Ndona Timur, dengan menggunakan mobil milik Dinas Sosial Ende.

Dalam perjalanan waktu, mengurus puluhan orang gila dengan seorang diri atau kadang dibantu orang-orang yang diajak secara spontan, tentu sungguh melelahkan. Memang, ada beberapa orang yang menaruh kepedulian terhadap orang gila dengan menyisihkan satu dua sen untuk sekadar membantu pembelian obat dan perawatan di panti. Tetapi itu tidaklah cukup.

Membutuhkan sekian banyak orang untuk secara bersama berpikir dan melakukan aksi, rasanya sungguh mendesak. Karena itulah, Pater Avent coba mengajak beberapa orang untuk bersatu, menyatukan pikiran dan hati serta kekuatan untuk bersama-sama peduli terhadap orang-orang malang itu. Maka terjadilah pembentukan Kelompok Kasih Insanis (KKI) itu pada 25 Februari itu.

Di sekitar kita, entah keluarga di rumah kita sendiri atau keluarga tetangga kita, atau juga di jalan-jalan umum, tentu ada orang gila dengan pelbagai gejala sakitnya. Perhatian terhadap mereka juga sangat kurang bahkan nihil, tidak ada, kosong. Mereka tersingkir dari pelbagai aspek kehidupan, baik aspek kesehatan, sosial, budaya, agama maupun aspek politik. Semua aspek yah tersingkir dari ziarah hidup orang gila, sekalipun kita tetap mengakui perhatian beberapa keluarga ala kadarnya terhadap mereka.

Pembentukan wadah KKI kiranya bisa mengembalikan orang-orang gila dari ketersingkiran itu. Untuk itu, kerja kelompok ini, tidak cuma memperhatikan orang gila, tidak cuma memberikan mereka obat-obatan, tidak hanya mengantar mereka ke tempat rehabilitasi, tetapi yang terutama adalah mengubah pandangan pelbagai kalangan masyarakat ke arah positif dan konstruktif terhadap orang gila. Mari peduli bersama, adalah salah satu ajakan yang utama.

Karena sebuah wadah sosial, KKI coba menyusun visi dan misi sebagai refleksi dasar bagi keberadaan dan aksinya terhadap orang gila.

VISI DAN MISI KKI

Visi

Sekurang-kurangnya, ada tiga visi yang adalah pandangan dan spiritualitas dasar bagi pembentukan KKI.

  1. Manusia memiliki martabat (hak) terberi yang harus dilindungi
  2. Manusia adalah makhluk sosial yang harus saling memberi diri satu sama lain
  3. Yang Ilahi tersembunyi tetapi tampak dalam diri sesama ciptaan-Nya

Misi

Dan bertolak dari visi itu, misi KKI bisa dirumuskan dalam empat poin.

  1. Menghargai dan melindungi martabat sesama manusia terutama yang mengalami derita gangguan jiwa
  2. Mewujudkan aspek sosial manusia kepada sesama yang mengalami derita gangguan jiwa
  3. Mengabdi pada sesama yang mengalami derita gangguan jiwa sebagai doa kepada Tuhan yang tersembunyi
  4. Menanggapi kepincangan sosial, ekonomi, politik, budaya dan agama, dengan memberikan solusi yang berpihak pada orang-orang yang menderita gangguan jiwa

PROGRAM-PROGRAM KKI

Didasari oleh visi dan misi di atas, KKI menyusun sekurang-kurangnya delapan program.

  1. Melakukan visitasi kepada penderita gangguan jiwa di jalan-jalan umum sekali sepekan (hari Sabtu)
  2. Melakukan visitasi kepada penderitaan gangguan jiwa di rumah-rumah
  3. Memberi makanan, minuman, obat-obatan dan pakaian kepada penderita gangguan jiwa
  4. Mengantar penderita gangguan jiwa ke panti rehabilitasi jiwa di Ruteng dan Maumere (dan juga tempat lain yang terjangkau)
  5. Menghasilkan karya-karya bernilai jual sebagai media penggalangan dana, misalnya, lukisan, album lagu, buku, tulisan media massa, kerajinan tangan, dan lain-lain
  6. Mendapatkan orang-orang sukarela yang berkeahlian khusus atau berbakat yang bisa menghasilkan karya-karya bernilai jual
  7. Menjalin relasi dengan pihak-pihak ketiga, antara lain panti rehabilitasi jiwa, pemimpin agama, dan pemerintah atau SKPD terkait (Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial)
  8. Menyelenggarakan iven-iven khusus sebagai kesempatan mengubah pandangan sosial, budaya, religius dan politis terkait penderita gangguan jiwa, misalnya, melalui kegiatan malam puisi, seminar, pementasan teater, dan lain-lain yang terjangkau

Semenjak KKI terbentuk, pada 25 Februari itu, ada beberapa program yang telah dijalankan. Misalnya, melakukan visitasi (kunjungan) kepada orang-orang gangguan jiwa yang berkeliaran di jalan-jalan umum, sekali sepekan (hari Sabtu). Area yang biasa dikunjungi adalah Pasar Wolowona, Pasar Ende, area pertokoan, dan di pelbagai jalan utama di mana orang-orang gangguan jiwa biasa berjalan-jalan atau beristirahat.

Demikian juga, visitasi kepada orang-orang gangguan jiwa yang tinggal di rumah-rumah keluarganya, entah yang terpasung, entah juga yang hanya tinggal diam di rumah. Kepada mereka, kru KKI berbincang-bincang seadanya, dan memberikan obat-obatan kepada mereka.

Program lainnya adalah menjalin relasi dengan Dinas Sosial Kabupaten Ende untuk membangun kesamaan pandangan dan aksi terhadap orang-orang gangguan jiwa.

DATA ORANG GILA

Semenjak Pater Avent bergerak peduli terhadap orang gila dan ditambah lagi dengan terbentuknya KKI hingga sekarang, sudah terdata sejumlah 75 orang gangguan jiwa. Enam orang (5 laki-laki, 1 perempuan) diantar ke Panti Rehabilitasi Renceng Mose di Ruteng (Manggarai, Flores, NTT), dan 5 orang (semuanya perempuan) diantar ke Panti Rehabilitasi Santa Dymphna di Maumere, Flores, NTT. Ada juga dua orang yang diantar oleh pihak Dinas Sosial Ende ke Panti Sosial di Sukabumi.

Tiga orang yang dirawat di Ruteng itu sudah sembuh dan sudah kembali ke keluarga mereka, kecuali Ansel yang sekarang sedang mengikuti pelatihan di Sukabumi. Sementara yang dirawat di Maumere, masih menjalani perawatan. Semoga mereka segera pulih.

Seorang Mama dan Kru KKI

Seorang Mama yang mengalami gangguan jiwa ditemui Kru KKI dalam salah satu kegiatan kunjungan (visitasi) ke jalan-jalan Kota Ende.

Sementara yang lainnya tinggal di rumah mereka masing-masing, ada juga yang berkeliaran di jalan-jalan umum, dan ada yang terpasung. Sekitar bulan Februari lalu, ada satu orang dipasung dan mati di pasungan (asal Desa Tendambongi, Kecamatan Ende). Satu orang lain lagi sudah sembuh, sekalipun hanya dirawat di rumah, ditunjang dengan obat-obatan.

Mereka yang berkeliaran di jalan-jalan umum, ada yang belum kita kenal nama dan kampung asal mereka, apalagi keluarga mereka. Kita tetap berusaha mencari tahu data lengkap mereka, sekalipun foto-foto mereka sudah diambil saat kru KKI menemui mereka dan memberikan nasi bungkus serta pakaian kepada mereka.

KEANGGOTAAN

Diawali dengan 11 orang saat pembentukan, kini KKI memiliki 60 anggota. Mereka berasal dari Ende dan luar Ende, bukan saja di Flores atau NTT, melainkan juga di Jawa dan Kalimantan, serta di luar negeri. Di grup facebook, KKI beranggotakan 108 orang.

Susunan Kepengurusan

  • Ketua                   : Pater Avent Saur SVD
  • Wakil Ketua        : Ibu Monika
  • Sekretaris            : Bruder Pio Hayon SVD
  • Bendahara           : Pater Avent Saur SVD

Seksi-Seksi

  • Seksi Medis         : Ibu Nina
  • Seksi Humas, Publikasi dan Dokumentasi : Robert Nanga Noo
  • Seksi Logistik      : Min Anggo

AJAKAN PEDULI ORANG GILA

Kita berharap semakin banyak orang yang peduli terhadap orang-orang gangguan jiwa yang bisa diwujudkan dalam pelbagai bentuk yang nyata (bukan hanya sekadar perasaan prihatin dan rasa kasihan, bukan hanya sekadar kemauan atau kehendak, bukan hanya sekadar omongan belaka dan pikiran tak berwujud atau cita-cita yang hanya menjadi imajinasi dan khayalan).

Kita berharap juga semoga pemerintah dan para tokoh agama serta tokoh masyarakat, serta kita sekalian bersama-sama menolong orang-orang gangguan jiwa. Dengan cara ini, stigma miring tentang orang gangguan jiwa dan perlakuan tak sedap terhadap mereka akan perlahan diubah.

Marilah kita bergabung ke dalam KKI untuk secara bersama mewujudkan kepedulian terhadap sesama kita.***

Alamat Kontak

  • Handphone: 085238960323 (Pater Avent Saur)
  • Email: aventsaur@yahoo.co.id
  • Grup Facebook: Kelompok Kasih Insanis (KKI Peduli Orang Gila)
  • Grup messenger: KKI Peduli Orang Gila
Kru KKI Ende

Kru KKI Ende beristirahat di trotoar Jalan Soekarno usai melakukan visitasi terhadap orang-orang sakit jiwa di jalan-jalan umum di Kota Ende dan sekitarnya.

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s