Pendidikan Berwawasan Wirausaha

Oleh Juan de Dios, SVD

Pater Porsi Nusa

Juan de Dios SVD, Peminat Masalah Sosial, Tinggal di Mangulewa, Ngada, Flores

Dunia pendidikan Indonesia dewasa ini masih berhadapan dengan tantangan berat, karena di satu pihak mendidik anak-anak untuk memperoleh pengetahuan yang luas, dan di pihak lain membentuk seorang tamatan yang siap bekerja dan berkarya. Tidak bisa disangkal bahwa semua orang, keluarga dan bangsa, menghendaki supaya para tamatan suatu jenjang atau model pendidikan bisa memperoleh pekerjaan dan bisa bekerja membangun hidup ekonominya atau masa depannya. Namun, dalam kenyataan sangat banyak tamatan “sekolah panjang” (sarjana) dan terlebih tamatan “sekolah pendek” (kejuruan-diploma) yang “menganggur”. Kenyataan  ini sungguh meresahkan semua pihak.

Apapun yang terjadi, fenomena “menganggur” perlu diamati dan dianalisa dengan teliti untuk mencari tahu penyebab dan jalan keluarnya. Ada banyak penyebab, namun perlu dicari penyebab akarnya. Paling kurang ada dua yang bisa dibahas di sini, yaitu aspek mental dan  aspek enterpreneurship.

Mental Pribadi

Penyebab pengangguran perlu dicari dan diidentifikasi mulai dari dalam diri  sendiri. Terlepas dari aspek psikologis atau persoalan kejiwaan seseorang yang bersifat kompleks dan ruwet, boleh dikatakan bahwa di dalam diri para peserta didik (juga masyarakat umumnya) terdapat satu kebutuhan psikologis “klasik” yang hingga kini masih bertumbuh subur, yaitu menjadi pegawai negeri sipil (PNS).

Perlu sekali membedakan antara “kebutuhan psikologis” dan “motivasi”. Motivasi adalah unsur yang menggerakkan (kurang lebih arti dari kata motivasi-Latin) dan menjiwai seseorang melakukan dan mengatakan sesuatu demi kebaikan dan kebenaran. Sedangkan kebutuhan psikologis adalah sesuatu yang muncul, yang “mendorong” seseorang untuk mencapai “keinginan pribadi,” entah itu baik-benar atau tidak. Motivasi itu murni karena membawa seseorang kepada kebaikan dan kebenaran yang sesuai dengan agama, moral, etika dan budaya. Sedangkan “kebutuhan psikologis” bersifat subyektif, dan bisa saja menjadi rintangan untuk mencapai kebaikan dan kebenaran yang sesungguhnya.

“Menjadi pegawai negeri sipil” (PNS) itu baik, tetapi dalam kenyataan, tidak mungkin pemerintah menjadikan semua lulusan atau tamatan perguruan tinggi di Indonesia dari angkatan ke angkatan sebagai pegawai negeri sipil. Sebagian kecil yang bisa “dipilih”. Persoalannya adalah bahwa yang sebagian besar tidak terpilih “merasa” diri “penganggur” dan masih enggan memilih cara lain “mengabdi masyarakat” dan membangun ekonominya.

Keadaan “menganggur” ini mesti bisa diatasi pertama-tama dengan mengubah pemahaman yang keliru tentang tujuan pendidikan. Kekeliruan ini sebenarnya terjadi bersamaan dengan timbulnya “kebutuhan psikologis” itu. Atau dengan kata lain, peserta didik perlu menanam dalam dirinya motivasi murni dan luhur, yang tidak dipengaruhi oleh “kebutuhan psikologis”  (menjadi PNS). Menjadi pegawai negeri sipil, karena itu, dapat dilihat hanya sebagai salah satu dari puluhan, ratusan bahkan ribuan peluang. Bahkan sampai pada kondisi di mana seseorang melihat bahwa bidang lain jauh lebih menguntungkan daripada menjadi pegawai negeri sipil.

Robert Kiyosaki secara sangat sederhana mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah mengasah pikiran seseorang supaya bisa bekerja mendapatkan uang dan menjadikan uang bekerja untuk dirinya (The Rich Father, The Poor Father). Apa yang dikatakan Robert Kiyosaki ini bisa dijadikan filosofi kritis. Orang yang membiarkan pikiran “diasah” dapat membuka wawasannya dan sanggup melihat potensi dan peluang lain yang mungkin bisa jauh lebih besar secara ekonomis (ketimbang PNS).

Dalam hal ini mengubah pandangan atau mengubah mindset sangat penting bagi masyarakat dan terutama para peserta didik. Tidak mudah melakukannya karena menjadi pegawai negeri sipil sudah menjadi tujuan pendidikan yang sudah “berurat dan berakar”. Benar kata Presiden kita, Jokowi, perlu revolusi mental dalam hal ini.

Pendidikan Berbasis Wirausaha

Penyebab lain dari pengangguran adalah ketiadaan jiwa wirausaha dalam diri tamatan pendidikan. Maka alangkah baiknya, kalau kurikulum pendidikan di Indonesia mengandung unsur yang mengaktifkan keterampilan berusaha atau enterpreneurship. Enterpreneurship secara sederhana bisa diartikan sebagai kemampuan menemukan dan menciptakan peluang ekonomi baru. Kalau menyetir filosofi pendidikan Robert Kiyosaki, maka dalam diri anak-anak didik perlu diaktifkan inteligensi emosional-intuitifnya.

Ahli Psikologi Inteligensi Emosional Daniel Golemann dan Malcolm Gladwell (penulis buku Blink. The Power of Thinking Without Thinking), hampir bersamaan berpendapat bahwa orang yang “baik” dari segi emosional dan intuisi pasti “baik” dalam bidang bisnis, sedangkan yang “baik” dalam bidang akal budi, belum tentu “baik” juga dalam bidang bisnis-ekonomis.

Pendidikan berbasis wirausaha dimulai dari proses mengaktifkan inteligensi emosional-intuitif, dan selanjutnya dilengkapi dengan teori-teori serta kegiatan-kegiatan praktis yang memberi pembelajaran berwirausaha bagi peserta didik. Hal ini penting dipikirkan dan dilaksanakan, karena negara, dalam hal ini pemerintah Indonesia, belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat akan lapangan pekerjaan. Berbeda dengan negara maju seperti Jerman yang menyediakan lapangan pekerjaan bagi tamatan pendidikan setiap tahun.

Ada satu kenyataan yang mesti diperhatikan dengan sangat serius adalah keberadaan dan tujuan dari sekolah menengah kejuruan (SMK.) Sekarang ini sekolah kejuruan, kesannya, sama saja dengan sekolah menengah umum (SMU). Yang ada dalam pikiran tamatan sekolah kejuruan adalah menjadi pegawai negeri sipil. Untuk itu, mereka melanjutkan kuliah, karena untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS) harus memiliki ijazah sarjana atau diploma. Sedangkan yang tidak memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, merasa diri “penganggur”, karena mereka tidak tahu harus berbuat apa; padahal mereka sudah dibekali dengan keterampilan tertentu. Mereka sebenarnya tidak perlu melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, karena dengan keterampilan yang dimiliki mereka bisa bekerja dan membangun ekonominya.

Potensi, Peluang dan Produk

Sudah jelas bahwa ada paling kurang dua kesulitan yang dialami oleh tamatan pendidikan yaitu ketidakmampuan untuk beralih pikiran dari keinginan menjadi pegawai negeri sipil ke usaha dan pekerjaan lain, dan ketidakmampuan emosional-intuitif untuk melihat potensi dan menciptakan peluang ekonomis baru. Peralihan itu mesti mulai dari jiwa atau mental pribadi (revolusi mental). Selanjutnya, semua mesti yakin bahwa setiap daerah adalah “tanah terjanji”; selain memiliki kekurangan tetapi juga kelebihan atau lebih tepatnya potensi dan kekuatan ekonomis.

Ada banyak potensi dan kekuatan. Dengan potensi dan kekuatan yang ada, orang bisa menciptakan peluang ekonomi baru yang jauh lebih dahsyat dan memperoleh lebih banyak keuntungan. Potensi dan kekuatan itu perlu dijadikan “produk” yang siap “dijual” atau “diuangkan”.

Alangkah baiknya kalau di sekolah-sekolah (dasar, menengah dan tinggi) diberikan juga materi tentang wirausaha secara periodik. Pendidikan wirausaha dapat membuka pikiran dan intuisi para peserta didik untuk melihat dan menemukan potensi atau kekuatan ekonomis, dan pandai menciptakan peluang ekonomis di luar menjadi pegawai negeri sipil.

Pendidikan wirausaha yang menarik dapat juga mengatasi dan menghilangkan mental “instan” anak-anak zaman sekarang ini. Mental instan tercipta dari “keputusasaan” dan “tanpa harapan” setelah melihat tidak ada peluang lain selain menjadi pegawai negeri sipil. Semoga dengan pendidikan wirausaha, kaum muda terbantu mengadakan revolusi mental, dan bisa menciptakan peluang ekonomis baru untuk dirinya dan orang lain.*** (Kolom Opini Harian Umum Flores Pos, 20 April 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s