Pergi untuk Kembali

  • Mengenang Pater Piet Nong dan Romo Frans Amanue

Oleh Redem Kono

Redem Kono

Redem Kono, Mahasiswa Pascasarjana STF Driyarkara, Jakarta

Pada 14 April 2016, saya mendapat sebuah kabar duka: Pater Piet Nong SVD meninggal di RKZ Surabaya. Ketika mendengar kabar tersebut, secara otomatis ingatan saya terhubung dengan kematian Romo Frans Amanue Pr pada 26 Maret 2016.

Ingatan saya tidak tanpa alasan. Pertama, pada 2006, saya ingat perjuangan kedua imam ini menentang vonis hukuman mati atas Fabianus Tibo, cs. Keduanya memimpin solidaritas dan protes kritis umat Keuskupan Larantuka terhadap hukuman mati. Saat itu, kesaksian profetik kedua imam itu menuai apresiasi dari teman-teman seperjuangan sebagai calon imam.

Kedua, saya bertemu secara langsung dua imam ini, pada waktu yang berdekatan, ketika berada di Pusat Penelitian Candraditya Maumere selama enam bulan, pada 2013-2014. Pertemuan saya dengan Romo Frans Amanue terjadi ketika almarhum berniat menerbitkan sebuah buku refleksi tentang perjalanan hidupnya sebagai calon imam. Oleh Pater Eman Embu SVD, saya diberikan kesempatan untuk memberikan perbaikan gramatikal atas teks calon buku tersebut. Saya akhirnya mendapat kesempatan untuk bertemu empat mata bersama Romo Frans. Sedangkan pertemuan saya dengan Pater Piet Nong berlangsung karena almarhum sering mengunjungi Pusat Penelitian Candraditya.

Imam yang Terlibat

Kesan-kesan saya ketika bertemu mereka yang pernah bekerja di Keuskupan Larantuka adalah dua imam ini sungguh terlibat. Keduanya dapat menjadi teladan dalam memperjuangkan nasib orang-orang kecil dan terpinggirkan. Dalam cerita-ceritanya kepada saya dan juga saya alami, Romo Frans, misalnya, selalu menekankan dan memperjuangkan pentingnya praksis keterlibatan sosial dari seorang imam. Romo Frans menceritakan mengapa dan bagaimana ia tak pernah gentar untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Dalam kritiknya terhadap Bupati Felix Fernandes, Bupati Larantuka saat itu, ia tidak pernah gentar ketika memperjuangkan keadilan.

Pater Piet Nong Lewar SVD

Pater Piet Nong Lewar SVD

Pater Piet Nong sangat memegang teguh prinsip, tetapi tidak tanpa alasan. Ia bertanggung jawab atas keputusannya, terutama keterlibatannya untuk membela orang kecil.

Keterlibatan dua imam ini hadir secara konsisten dalam perjalanan pelayanan mereka sebagai imam. Konsistensi keterlibatan dua imam ini, hemat saya, berakar dalam komitmen teladan keberpihakan Allah yang solider. Meminjam pemikiran teolog John Baptis Metz, keduanya sangat menekankan ciri politis dari iman mereka kepada Allah yang memanggil. Iman yang dirayakan keduanya adalah iman yang menggabungkan diri dalam kehadiran Allah di dalam sejarah hidup manusia. Berhadapan dengan dunia konket, iman itu akan menghadirkan resonansi suara Allah yang membongkar dominasi dunia teknis-ekonomis, ketidakadilan, dan pelbagai dekadensi moral dalam dunia kehidupan.

Romo Frans Amanue Pr

Romo Frans Amanue Pr

Ciri politis iman menyingkap tanggung jawab mereka sebagai imam terhadap panggilan Allah yang terlibat dalam hidup manusia, dan tanggung jawab itu diungkapkan melalui keterlibatan kritis untuk mempertahankan dan memperjuangkan martabat manusia dalam hidup dan pelayanan mereka setiap hari.

Inspirasi dari keberpihakan Allah itu memantik komitmen dua imam ini pada panggilan solidaritas. Mereka terpanggil untuk memperjuangkan nasib mereka yang miskin. Romo Frans Amanue tidak pernah segan-segan mengkritik kebijakan para pengambil kebijakan seperti mengkritik pembelian kapal feri cepat Mitra Andhika, pembelian beberapa bidang tanah, pengadaan traffic lights, pengadaan air bersih yang cenderung diselewengkan. Pater Piet Nong aktif di Truk-F, mengkritik para pejabat yang melakukan korupsi, memberdayakan orang melalui kegiatan sosial, dan juga advokasi. Melalui kesaksian hidup, dua imam  ini menampilkan solidaritas Allah: Allah memihak kaum miskin, tertindas, dan orang-orang kecil sebagai korban.

Allah mendekati manusia, keluar dari diri-Nya, dan menyertai manusia untuk keluar dari penderitaannya. Allah memberikan jaminan bahwa penderitaan, ketidakadilan, kekejaman manusia punya batas, dan karena itu, manusia perlu terlibat bersama Allah untuk menimba kekuatan, mendapatkan inspirasi, dan memberikan tanggung jawab sosial, kritis, dan transformatif atas sejarah hidup manusia. Inilah yang telah disingkap melalui pelayanan kedua almarhum di tengah umat, terutama sebagai pembela kebenaran dan keadilan.

Pergi untuk Kembali

Hemat saya, dua imam ini mewariskan beberapa pelajaran berharga yang dapat ditarik dari kesaksian hidup mereka. Pertama, bahwa pastoral imam di tengah umat harus memberikan porsi sangat besar kepada akar-akar persoalan yang membangkitkan penderitaan di tengah umat. Terhadap  ini, saya teringat oleh tawaran model pastoral yang dianjurkan oleh George Junus Aditjondro: “Pastoral palang pintu” daripada “pastoral palang merah”. Gereja dapat mengambil jarak terhadap para penyebab ketidakadilan, para penyebab kemiskinan, dan lain-lain. Gereja tidak hanya bertanya bagaimana dan mengapa penderitaan itu terjadi tetapi apa yang harus dilakukan untuk mencegah penderitaan ini dapat ada.

Pastoral dengan cara demikian akan berusaha mencabut realitas-realitas patologis itu secara radikal. Dalam konteks ini, Gereja harus berani berbeda: menjadi suara-suara kritis bagi pemerintah, pengusaha, supaya penyebab-penyebab itu dapat dihilangkan.

Teladan ini sudah ditunjukkan kedua imam ini: menentang penguasa yang korup, hidup bersama orang kecil dan tertindas, corong kebenaran di zamannya. Pastoral ini dapat menjadi pastoral kritis: suara raja atau pengusaha yang adil perlu disanggah, dan bukan disembah. Kedua almarhum memilih tidak berkompromi atas kejahatan: keberanian ini sebagai komitmen militansi untuk menyatakan “lawan” terhadap siapa pun dan apa pun yang menyalahkan yang benar dan atau mengadilkan yang salah.

Kedua, dengan menjadi “sahabat kritis”, Gereja dapat berpartisipasi di dalam ruang publik. Gereja dapat menerjemahkan kontribusi-kontribusi religiusnya ke dalam ruang publik. Hal ini penting untuk dilaksanakan karena ruang publik saat ini mengalami kekeringan solidaritas, ketika kapitalisme ke neokapitalisme, kosmopolitanisme dan politik global sedang dikuasai oleh hasrat egoistik, kecenderungan narsistik, dan juga napsu kekuasaan. Gereja dapat menjadi “perigi moral” tempat orang menimba kekayaan iman, harta keutamaan-keutamaan yang perlu dalam hubungannya dengan masyarakat luas.

Dua imam ini telah sedikit banyak menunjukkan keteladanan itu, bahwa menjadi seorang beriman (dan imam) tidak hanya cukup berbicara di atas altar, tetapi juga turun ke pasar sehingga dapat mengidentifikasi persoalan, kemudian menawarkan keutamaan-keutamaan yang mendampingi upaya transformasi radikal dari akar persoalan dan persoalan masyarakat itu.

Ketiga, pada akhirnya pastoral kritis tersebut harus sampai pada pemberdayaan. Umat atau pun masyarakat harus diberdayakan untuk secara mandiri bersikap kritis terhadap akar-akar patologi dalam masyarakat. Sikap kritis yang disertai oleh teladan keutamaan-keutamaan moral tersebut dapat sangat membantu upaya untuk mencari solusi-solusi praktis yang tepat guna. Gereja tidak hanya menangis bersama umat, tetapi juga Gereja tetap mendampingi umat (atau masyarakat) sebagai sahabat untuk pada saatnya bergembira sebagai umat Allah yang telah keluar dari persoalan-persoalan tersebut.

Pater Piet Nong dan Romo Frans Amanue boleh pergi menghadap Tuhan. Namun, kenangan akan keteladanan kedua almarhum yakni “konsistensi pada kebenaran, berpihak pada rakyat yang miskin dan terpinggirkan, pastoral profetik, dan lain-lain,” selalu kembali mengunjungi kita. Pater Silvester Ule, seorang misionaris SVD di Kongo, Afrika yang pernah tinggal bersama Pater Piet Nong menulis di status facebook-nya: “Selamat Jalan P. Pit Nong SVD. Orang tua yang bijak, sahabat yang baik, imam yang setia, pribadi yang berkomitmen. Sedemikian cepat waktu berlalu, dan hidup ibarat kabut pagi di lembah Hokeng, yang sekejap berlalu bersama angin. Hidup dan panggilanmu telah jadi sedekah. Doakan kami dari surga.”*** (Kolom Opini Harian Umum Flores Pos, 22 April 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s