Stadion Golo Dukal, Riwayatmu Kini

Stadion Golodukal

Tampak kondisi bagian depan stadion dan wisma atlet Stadion Golo Dukal, di pinggir Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai, yang ditumbuhi tanaman liar sensus dan belukar. Gambar diambil pada Kamis (28/4).

Oleh Felixianus Usdialan Lagur

Felixianus Usdialan Lagur

Felixianus Usdialan Lagur, Mahasiswa STKIP Santo Paulus Ruteng, Manggarai

Dalam konteks sepak bola Eropa, stadion adalah bagian terpenting yang menjadi ikon dan ciri khas suatu wilayah. Selain sebagai tempat pertandingan sepak bola (atau pun keperluan lainnya), stadion juga merupakan identitas yang menggambarkan keberadaan suatu wilayah.

Stadion tidak hanya dipandang sebagai sebuah tempat para bintang lapangan hijau beradu taktik, tetapi juga lebih jauh dari itu, stadion adalah simbol kemegahan dan kebesaran peradaban sebuah wilayah. Bahkan di Brazil yang dikenal sebagai negara sepak bola, stadion dipandang sebagai gereja yang sakral dan mistis.

Berbicara mengenai industri dan berbagai tetek bengeknya dunia sepak bola, stadion adalah asal mula segala cerita dan kebesaran. Dari tempat bernama “stadion” ini, kita mengenal nama-nama mahsyur, semisal Maradona, Ronaldhino, Beckham, Messi, Gerrard, Ronaldo dan lain sebagainya. Stadion adalah sebuah panggung pertunjukan seni sepak bola yang menjadi hidup dan penghidupan bagi para pegiat si kulit bundar.

Dunia sepak bola adalah dunia yang cukup menyerap banyak tenaga kerja dan bertalian dengan beraneka industri lainnya. Lihat saja para penjaga stadion, perusahaan sepatu bola, majalah sepak bola, siaran/chanel sepak bola, pakaian sepak bola dan sekolah sepak bola adalah sedikit dari sekian banyak contoh yang menggambarkan sepak bola tidak hanya sebagai sebuah permainan atau pun hiburan tetapi juga sebagai sebuah industri.

Keseluruhan industri ini kemudian dipentaskan pada satu panggung utama yakni stadion. Karena keberadaannya yang begitu esensial, tidaklah mengherankan bila klub-klub sepak bola tanah Britania maupun di negara-negara Eropa lainnya berlomba-lomba dan rela menggelontorkan dana fantastis demi mempercantik stadion mereka.

***

Stadion Golo Dukal yang terletak di Kelurahan Bangka Leda, Kecamatan Ruteng, merupakan salah satu karya arsitektur yang (pernah) menjadi kebanggaan masyarakat Manggarai. Stadion berkapasitas kurang lebih 10.000 penonton ini dibangun pada masa kepemimpinan Kapten Anton Bagul. Kecintaan beliau pada dunia sepak bola membuatnya nekat “menghamburkan” dana fantastis demi terwujudnya proyek stadion ini.

Tujuannya jelas, menghidupkan dunia sepak bola di Manggarai, juga sebagai sebuah tempat hiburan bagi masyarakat Manggarai. Pemilihan lokasinya pun bukan tanpa pertimbangan: untuk memperbaiki ekonomi masyarakat di sekitar jalur masuk stadion.

Selain itu, dengan stadion semegah ini diharapkan kompetisi lokal dapat berjalan dengan sehat, generasi muda dapat mewujudkan mimpinya, barangkali juga akan ditemukan bibit yang kemudian tercatat sebagai Keraeng Manggarai pertama yang mengenakan kostum Timnas. Mimpi akan stadio pun terealisasi, bahkan stadion ini digadang-gadang sebagai stadion terbaik di NTT. Ajang besar semacam Pordafta bahkan pernah diselenggarakan di stadion ini.

Tapi apa hendak dikata, nama dan kebesarannya kini hanya meninggalkan cerita. Gemuruh dan sorak sorai penonton seakan tenggelam di balik keheningan hutan hijau, barangkali hanya akan menyisahkan foklore bagi mereka yang datang di kemudian hari.

Jika kita menelusuri stadion ini, sebetulnya tempat ini lebih layak disebut sebagai bangunan tua, seperti sebuah peninggalan berusia ratusan tahun padahal usianya tidak tua-tua amat. Wisma atlet yang bersanding di sampingnya pun (ikut) menjadi bangunan mubazir. Keduanya kini hanya bisa menjadi wallpaper dunia maya anak muda.

Pada bagian halaman masuknya, kita akan akrab dengan pemandangan rumput liar, kerikil-kerikil, debu dan beberapa hewan ternak warga. Botol-botol sisa miras dapat dengan mudah ditemukan di lokasi ini.

Jika melangkah lebih jauh, hampir-hampir tak ada daun pintu maupun kaca jendela yang tersisa. Aroma dan bau tak sedap mulai tercium.  Catnya mulai terkelupas dan berganti lumut, kini tak ada lagi kesan eksotis pada perwajahannya.

Pada dinding-dinding ruang masuk dan bilik ganti pemain, terpahat kreasi tangan-tangan seniman picisan. Tulisan dan gambar-gambar berbau rasis, pornografi, caci maki dan aneka kreasi unik nan aneh lainnya menjadi pemandangan akrab.

Terkadang saya menduga mungkin ini ekspresi kekesalan anak muda terhadap matinya dunia sepak bola Manggarai padahal infrastruktur semahal ini sudah dibangun.

Situasi lain akan ditemukan pada panggung utama stadion. Rumputnya tak lagi terurus. Area utama stadion kini dijadikan lahan gestrek anak muda. Tidak sedikit yang menjadikannya sebagai lahan berlatih motor.

Kondisi stadion semacam ini menggambarkan “kemalas-tahuan” pemerintah akan sesuatu yang telah dibangunnya dengan susah payah. Pemerintah menutup mata, massa pun masa bodoh dan tak punya rasa memiliki.

Logika yang benar adalah manusia akan sangat begitu mencintai sesuatu yang didapatkannya dengan susah payah. Manusia akan cenderung memanfaatkan apa yang dibelinya dengan bayaran “waow” dengan sebaik mungkin.

Sayangnya, hal semacam ini tidak terjadi pada stadion kesayangan kita. Sepak bola yang dulunya akrab dengan masyarakat kini menjelma menjadi sesuatu yang asing. Imbasnya, nama Persim ikut menciut.

Jujur, sewaktu kecil saya sedikit mengenal beberapa nama penggawa Persim, semisal Walter Mbaut, Asril Yanto, Fabi Kasidi, dan lain sebagainya. Tapi kini, hampir tak ada nama yang dikenal masyarakat.

Untunglah sesekali kerinduan masyarakat sedikit terobati dengan kehadiran turnamen-turnamen lokal masa HUT RI, natal dan paskah. Naif bila menyalahkan PSSI, toh manajemen kita yang bobrok, dunia kulit bundar kita telah lama menduka jauh sebelum PSSI keok. Jangan harap nama Persim dapat kembali bergaung selama stadion dan kompetesi diabaikan. Kesuksesan terlahir dari pembiasaan. Jangan mengharapkan pemain-pemain instan, pemain-pemain berkualitas terlahir dari sebuah kompetesi.

***

Ayolah Keraeng penguasa, perintahkan sersan-sersanmu dan benahi situasi ini. Buat mereka olah raga otak dan fisik, biar tidak cuma pangku tangan dan terima jatah bulanan.

Selain itu, apa salahnya juga mempekerjakan lima atau enam orang sebagai perawatnya? Hitung-hitung untuk mengurangi lima orang kepala keluarga yang pengangguran di tanah Manggarai. Kalau saja dari dulu sudah ada sekian orang yang menjadi perawatnya, tentu kondisi miris pada stadion ini  tak akan terjadi.

Daripada uang kita harus (kembali) terbuang percuma seperti halnya pada peruntukan mobil-mobil dinas yang tak lama lagi akan diprivatisasi, ada baiknya bila digunakan lebih bijak untuk hal-hal semacam ini. Yah, saya percaya imbas dan efek dominonya akan lebih luas, akan menyentuh sektor-sektor yang lebih jauh.

Kalau nama si kulit bundar Manggarai tak lagi menjadi sesuatu yang akrab dan terhapus dari bahan cerita warung kopi, hendaknya 11 miliar masih tetap berdiri kokoh dalam rupa Stadion Golo Dukal. Perbaiki, rawat dan cintailah stadion kita. Barangkali kompetesi akan kembali bergulir. Kita merindukan semarak dan identitasnya terus terjaga.*** (Flores Pos, 18-19 April 2016)

Stadion Golo Dukal

Inilah Stadion Golo Dukal, arah selatan Kota Ruteng yang dibangun tahun 2005 pada masa pemerintahan Bupati Anton Bagul Dagur. Kini stadion yang menelan dana Rp11 miliar dan menampung 10.000 penonton ini tampak tidak terurus. Kata warga sekitar, stadion ini seringkali digunakan untuk bermesum, latihan mengendarai (mobil dan motor) dan menjadi tempat penggembalaan ternak. Gambar diambil, Rabu (30/7/2014) siang.

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in ASPIRASI, OPINI and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s