Mempertahankan Idealisme

Wisuda STFK Ledalero

Sebagian peserta wisuda STFK Ledalero berpose bersama

  • Konteks Wisuda STFK Ledalero, Maumere, Flores

Oleh Avent Saur

Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere, mewisuda 152 sarjana filsafat dan 42 pascasarjana teologi kontekstual pada Sabtu (30/4) akhir pekan lalu. Dibandingkan dengan wisudawan di pelbagai perguruan tinggi lain, jumlah ini mungkin terbilang sedikit. Namun kualitas, itulah yang diutamakan.

Kualitas itu, antara lain tentu wisudawan peroleh di ruang kuliah melalui pengajaran oleh dosen-dosen yang andal dan berwawasan luas serta berpengabdian tinggi. Lebih dari itu, kualitas itu didapatkan wisudawan melalui pembelajaran autodidak, baik atas dorongan para dosen maupun atas niat pribadi. Pembelajaran autodidak itu dilakukan bukan hanya dalam kaitan dengan pengerjaan tugas-tugas penulisan yang diberikan para dosen, melainkan juga atas dasar kemandirian pribadi untuk memperkaya diri dengan pelbagai ilmu pengetahuan baik moral, teologi, filsafat maupun agama, HAM, sosial, dan budaya, baik dengan membaca, menulis maupun diskusi.

“Selalu mencari dan mencari, bahkan semakin mencari semakin merasa diri miskin akan pengetahuan, adalah salah satu hakikat manusia,” demikian salah satu intisari filsafat manusia.

Bermodalkan semua itu, maka di dalam dirinya terbangun sebuah idealisme akan aktualisasi dirinya sendiri, idealisme akan sebuah masyarakat dan dunia yang menyenangkan, idealisme akan terselesainya pelbagai persoalan yang mungkin bakal dihadapi.

Lebih dalam dari itu, Ketua STFK Ledalero Pater Bernard Raho SVD coba menyelisik idealisme itu. Bahwasanya, ketika menjadi mahasiswa, wisudawan memiliki pribadi yang berintegritas, peka terhadap masalah sosial, memperjuangkan perubahan nasib orang kecil atau memperjuangkan keadilan sosial. Idealisme ini hendaknya dipertahankan, tidak hilang, ketika wisudawan memasuki lapangan (dunia) yang keras bahkan kasar. Bahwasanya, di lapangan, wisudawan akan berjumpa dengan realitas, antara lain akumulasi kekayaan, manipulasi kebenaran, persaingan tidak sehat, merengkuh tujuan dengan menghalalkan segala cara.

Memang dengan mempertahankan idealisme, wisudawan tidak akan serta merta mengusir dan menyelesaikan persoalan-persoalan itu. Namun setidaknya, dengan sebuah kesaksian hidup yang ditampilkan dalam kerangka daya penuh perjuangan, wisudawan bisa sedikit demi sedikit membawa perubahan atas keadaan.

Namun juga, karena wisudawan memasuki dunia seakan-akan tak ada jarak lagi, boleh jadi justru dunia yang keras bahkan kasar itu akan memengaruhi bahkan meruntuhkan idealisme itu. Karena itulah, ajakan mempertahankan idealisme di dunia yang keras harus diinternalisasi agar dengan spontan bisa diwujudkan secara nyata.

Tentu patut diakui juga bahwa selain sebagai pesan untuk wisudawan, ajakan itu diperdengarkan dalam ruang wisuda itu sebagai pemberitahuan bahwa realitas lemahnya atau kalahnya atau juga tak kuatnya orang dalam mempertahankan idealisme sudah sering dan sedang terjadi di lapangan. Bahkan justru mereka menjadi pelaku keras dan kasarnya dunia. Idealisme itu tentu masih ada, atau paling kurang masih membekas, atau juga tampak buram, tetapi oleh pelbagai desakan yang tak mampu dibendung, idealisme itu tak kunjung mewujud “nyata”.

franz magnis suseno

Franz Magnis-Suseno

Namun sekalipun demikian, lonceng bergemakan idealisme itu mesti selalu berdentang dan didentangkan dalam “baik atau tidak baik” keadaannya atau waktunya. “Filsafat harus mengkritik jawaban-jawaban yang tidak memadai. Dan filsafat juga harus ikut mencari jawaban yang benar,” tegas filsuf Franz Magnis-Suseno. “Teologi kontekstual dilaksanakan ketika pengalaman masa lampau dipandang dalam konteks masa kini demi merengkuh perubahan sosial,” ujar teolog Stephen B. Bevans. Selamat mewujudkan pesan filosofis dan teologis ini.*** (Kolom Bentara, Harian Umum Flores Pos, 3 Mei 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s