Mengawasi Bantuan Karitatif-Produktif

Dana Desa

Oleh Avent Saur

Kesenjangan ekonomi (juga aspek lain) tak bisa disangkal. Salah satu bahaya baru dari kesenjangan itu adalah mental orang miskin dipengaruhi oleh mental orang kaya. Mental konsumtif, misalnya, sekalipun memiliki banyak kekurangan sana-sini dalam pelbagai hal, orang miskin tampak boros. Mereka menggunakan uang untuk kebutuhan yang kurang urgen (mendesak) dan kurang penting, berfoya-foya dengan waktu untuk melakukan sesuatu yang tidak produktif, membuang-buang energi untuk hal-hal yang tak mendatangkan apa-apa yang baik bagi hidupnya.

Mental korupsi menerpa orang-orang miskin dalam pelbagai bentuk, demikian juga kolusi dan nepotisme serta mental santai dan instan. Daya juang hilang. Lihat saja, praktik KKN sudah sampai ke pelosok-pelosok Nusantara, menyangkuti para pelaku pemerintahan paling bawah.

Pemerintahan sebelum pemerintah yang sekarang, sekalipun masih ada juga sisa-sisanya, memupuk mental-mental itu dengan memberikan bantuan langsung tunai kepada rakyat. Pemerintah tentu bermaksud mengatasi kekurangan pada rakyat untuk digunakan memenuhi kebutuhan pangan, dan rakyat bersukacita betapa baiknya pemerintah yang penuh belaskasihan, sekalipun nilainya tak seberapa.

Namun pemerintah hanya sampai pada “anggapan” saja bahwa rakyat akan memanfaatkan “kasih” itu secara tepat guna, tanpa mengecek kebenaran anggapan itu. Justru apa yang terjadi? Ada rakyat yang menggunakan uang itu untuk membeli rokok sang suami yang pemadat, membeli jajan anak-anak, bahkan menjadikan uang itu sebagai modal berjudi. Bumerang kan? Bermaksud membantu, justru pemerintah menambahkan pada dirinya daftar rakyat bermental santai.

Dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat dan mengatasi kesenjangan (sekalipun pasti tidak akan tuntas) serta mengamalkan tanggung jawab sosialnya, pemerintah terus melakukan pelbagai terobosan. Salah satunya adalah menggelontorkan dana desa dan dana alokasi desa. Jumlahnya bukan main. Setiap desa mendapat alokasi dana desa dengan kisaran tak sedikit, Rp350 juta hingga Rp750 juta untuk tahun 2015 lalu yang mana total dana APBN-nya Rp20,7 triliun untuk 73.000-an desa di seluruh Indonesia. Pada tahun 2016, anggaran itu dinaikkan menjadi Rp46,9 triliun dengan alokasi per desa Rp750 juta hingga Rp1,5 miliar. Sementara tahun 2018, sejumlah Rp80,2 triliun dengan alokasi per desa berkisar Rp1,5 miliar ke atas.

Dengan pelbagai keruwetan administrasinya yang disandingkan dengan rendahnya sumber daya manusia aparat desa, disinyalir bahwa dana itu akan banyak diselewengkan. Entahlah. Namun yang pasti, dana itu diperuntukkan bagi pembangunan pelbagai bidang di desa itu. Yang melakukan pembangunan itu adalah warga desa itu sendiri, termasuk dari dana itu, warga akan mendapat satu dua rupiah sebagai upah dari keringatnya. “Kerja dulu baru dapatkan uang,” tukas Johny G. Plate (FP, 9/5).

Itu berarti maju atau mundurnya pembangunan sebuah desa sangat bergantung pada warga desa itu sendiri. Jika warga desa mengerjakan pembangunan proyek air minum, misalnya, dengan berkualitas, maka kondisi desa itu akan semakin maju sekalipun mungkin tak berpengaruh terhadap masalah kesenjangan secara nasional, apalagi mondial. Sebaliknya, kalau warga desa mengerjakannya secara “ala kadarnya” dengan pertimbangan semakin banyak kerja proyek semakin banyak mendapat uang (harian), maka kondisi itu juga akan berjalan di tempat, bahkan akan muncul persoalan baru.

Itu juga berarti bahwa apa pun bentuk bantuan dari pemerintah termasuk bantuan karitatif-produktif atau apa pun nama dan modelnya, perlu diawasi. Tentu diandaikan juga bahwa pengawas mesti memiliki integritas, tidak gampang dibujuk untuk berkompromi busuk. Jika tidak, tentu kita tahu akibatnya, buruk.*** (Kolom Bentara, Harian Umum Flores Pos, 10 Mei 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s