Widow-wati Kreatif

Bazar Widow-wati

Bupati Ende Marsel Y.W. Petu (kedua kanan) dan Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Flores Flori Gadi Djou (pertama kanan) saat berkunjung dalam bazar yang diadakan oleh Kelompok Widow-wati Ende di kompleks rumah almarhum Ema Gadi Djou, Woloweku, Ende, Kamis (21/4).

Oleh Avent Saur

Kisah ini datang dari Kota Ende. Berawal dari kumpul-kumpul beberapa ibu sebagai sahabat, Widow-wati dibentuk pada 9 September 2014. Widow-wati itu nama sebuah kelompok ibu-ibu janda: widow (bahasa Inggris) berarti janda, dan wati adalah tambahan bernuansa Indonesia pada kata bahasa asing itu.

Sudah satu setengah tahun berjalan, anggota Widow-wati berjumlah 28 orang. Sebenarnya, anggota Widow-wati lebih dari jumlah itu. Entah dalam kerangka teori pemikir siapa di dunia ini, Ibu-Ibu widow senang berkumpul bersama sahabat-sahabatnya atau senang mencari sahabat, tapi Widow-wati coba membatasi usia anggota, 55 tahun ke atas. Usia tertua sekarang, 75 tahun. Yah, widow sekaligus lansia.

***

Widow-wati, apa yang unik? Sebagai sebuah perkumpulan kreatif, Ibu-Ibu berkisah perihal pergumulan hidupnya. Latar belakang mereka tentu berbeda, dan demikian jugalah warna kisah-kisah mereka. Karena itu, makna-makna kisah itu pun bervariasi.

Dua hal kiranya yang mereka peroleh dari kisah-kisah ini. Apa? Pertama, ini tentu menambah inspirasi bagi hidup mereka pada usia yang semakin hari semakin uzur; ada saling dukung dan saling meneguhkan, ada saling membuka diri dan saling mengisi. Dalam teologi misi Kristen, berkisah adalah bermisi. Widow-wati bermisi internal (ad intra) satu sama lain.

Tentu yang kedua, adalah dengan berkisah, mereka saling membagi beban rasa. Perjalanan hidup di dunia fana ini, sesukses-suksesnya orang, seriang-riangnya orang, pasti diwarnai rasa-rasa pilu dan kesendirian, sekalipun kita juga tetap yakin bahwa Sang Mahaada itu selalu menyertai kita sampai akhir hayat.

Berada bersama – apalagi dalam bentuk sebuah wadah kreatif – merupakan sebuah jalan kualitatif untuk meretas bersama jalan yang mungkin terhalang atau bahkan buntu. Namun ini dilakukan bukan semata-mata karena beban rasa melainkan sebagai wujud dari hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Ini yang membuat wadah ini kokoh sekalipun usianya baru seumur jagung.

***

“Wujud dari hakikat manusia sebagai makhluk sosial” kira-kira itulah pesan inti kelompok ibu-ibu ini. Sejak terbentuk pada September 2014 itu, kegiatan rutin yang mereka lakukan adalah berkumpul untuk berarisan duit setiap bulan. Namun arisan bukanlah satu-satunya. Berkisah dan saling mengisahkan bukanlah juga satu-satunya. Mereka coba keluar dari diri, menerobosi batas kelompok itu, dan menjangkau orang-orang yang kurang beruntung. Sifat misioner dari kisah itu pun, ad extra (keluar).

Ketika dijumpai pada Selasa, 26 April 2016, mereka berkisah begini: “Selama ini, selain berarisan, kami coba melakukan pelbagai kegiatan sosial. Kami coba salurkan bantuan kecil kepada orang-orang kecil. Biar sedikit, yang penting berguna bagi orang-orang kecil itu. Kami juga belajar keterampilan memasak, dan mengajari orang tentang memasak. Setidaknya, ini bermanfaat bagi orang-orang muda agar lebih kreatif.”

Tahu kah kalian, kegiatan sosial Widow-wati semakin menjadi-jadi, sekalipun baru awal. Memperingati Hari Kartini, 21 April 2016 pekan lalu, mereka coba membuat bazar di kompleks rumah Ketua Widow-wati, Mama Mia Gadi Djou, Woloweku, Ende. Dalam bazar yang dihadiri Bupati Ende Marsel Y.W. Petu itu, banyak barang dijual dan terjual. Hasil penjualan itu, sedikitnya disisihkan untuk orang-orang kecil.

Sehari sebelum hari H itu, mereka juga menggelar pelatihan tata rias kecantikan bagi para ibu; diampuh oleh ahli kecantikan yang mereka undang dari daerah lain.

***

Ada satu terobosan yang mereka tempuh: mencetak dan menerbitkan buku berbentuk booklet berjudul “Aku Perempuan”. Dalam buku ini, dimuat pelbagai artikel karya Ibu-Ibu itu perihal resep masakan, kisah-kisah inspiratif, filosofi tanaman, profil Malala Yousafzai seorang perempuan pemenang hadiah Nobel Perdamaian 2015 dari Pakistan dan profil Kelompok Kasih Insanis (KKI) Ende yang khusus peduli terhadap orang gangguan jiwa.

Dalam pengantar buku itu, mereka menulis begini: “Buku ini bukanlah wujud dari keinginan kami untuk dikenal oleh lebih banyak orang melainkan untuk satu tujuan mulia membantu saudara-saudari kita yang kurang beruntung yaitu orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Sesungguhnya, ODGJ bukanlah tanggung jawab salah satu orang saja melainkan tanggung jawab kita bersama.”

Lanjutnya, “Buku ini memang bukan buku sekelas tulisan Dan Brown atau Sidney Sheldon. Namun lewat buku dengan isi sederhana ini, kami mengajak Anda sekalian untuk turut membantu ODGJ demi hidup yang lebih baik. Setidaknya masih ada kita, saudara-saudari mereka, yang mau mengulurkan tangan.”

Dari perkataan ini, kita bisa tahu apa pandangan mereka terhadap orang kecil, terutama orang dengan gangguan jiwa; dan bagaimana besarnya rasa peduli mereka terhadap orang-orang kecil itu.

Tua

Dalam kegiatan bazar itu, Mama Gadi Djou (Ketua Widow-wati, pemilik Yayasan Perguruan Tinggi Flores), mengatakan begini dalam kata sambutannya: “Bertolak dari data KKI Ende, ada begitu banyak orang gila di Ende. Betapa tidak, kebutuhan akan sebuah rumah penampungan untuk mereka adalah sesuatu yang mendesak. Kelompok-kelompok kreatif mungkin bisa akan membantu perjuangan itu, tetapi pihak yang paling utama memprakarsai itu adalah negara, dalam hal ini pemerintah daerah.”

Perkataan ini benar nian adanya. Toh dalam kehidupan kita setiap hari, kita  menyaksikan bahwa orang gila adalah golongan orang kecil yang kurang bahkan tidak disentuh oleh pemerintah. Bahkan, mereka tersingkir bukan saja secara politis, melainkan juga secara sosial dan religius, tentu juga budaya dan ekonomi serta kesehatan. Betapa diharapkan persoalan ini segera dientas dan diretas oleh negara yang tentu saja memiliki tanggung sosial-moral yang besar dan utama.

***

Pandangan dan kegiatan Widow-wati tampak sederhana, namun sangat fundamental (mendasar). Tentu ini membanggakan dan patut diapresiasi serta didukung.

Kira-kira ini pesannya untuk kita; sekalipun baru dimulai, dalam buku “Aku Perempuan” itu, mereka mengatakan hal-hal sosial dan prinsipiil ini: “Di usia yang telah lanjut ini, kami berharap masih dapat melakukan kegiatan-kegiatan positif, dan menjadi contoh yang baik bagi kaum muda. Usia boleh tua, namun semangat harus tetap muda.”*** (Flores Pos, 28 April 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE, OPINI and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s