Kelompok Kritis-Konstruktif

Demo PMKRI2

Kelompok kritis PMKRI berdemontrasi beberapa waktu lalu.

Oleh Avent Saur

Kelompok kritis betapa dibutuhkan di wilayah politis mana pun. Orang yang tergabung di dalamnya dengan kerangka kekompakan dalam satu visi-misi serta dengan komitmen kuat “mengganggu” kenyamanan semu dan pelbagai ketimpangan para penguasa, para “pelayan publik”, pembangunan sosial, pembuatan regulasi dan perselingkuhan politis, serta aneka kenyamanan semu atau ketimpangan lainnya.

Memang dalam setiap batas wilayah politik selalu ada lembaga politik khusus yang berperan sebagai pengontrol, penjaga dan pengawas, bahkan perawat. Tetapi sekian sering, antara pengontrol dan yang dikontrol justru membangun kekuatan baru untuk berkongkalikong dan bersikap permisif: membiarkan kesalahan terjadi, membiarkan kesalahan disembunyikan, membiarkan roda penyelenggaraan negara atau daerah berputar terseok-seok. Lantas mereka menutup mata terhadap kepentingan pembangunan publik serta menjadikan peran publiknya sebagai sarana demi pemerkayaan ekonomi pribadi dan penjagaan moral buruk pribadi tanpa rasa sesal sedikit pun apalagi laku tobat.

Dan justru dalam konteks kongkalikong ini, kelompok kritis semakin terasa dibutuhkan demi mencapai cita-cita politis bangsa atau daerah, dan demi merengkuh ideal-ideal sosial yang oleh lembaga negara sering kali diabaikan.

Di hadapan tembok penguasa berpakaian kenyamanan semu dan berhiaskan ketimpangan tersebut, salah satu bekal kebajikan kelompok kritis adalah keberanian. Mereka bersama-sama satu suara, satu sikap dan satu tekad berjuang menerobos batas, atau menyetir ucapan filsuf sosial Franz Magnis-Suseno, “menggonggong”, membongkar persembunyian, mengacaukan kenyamanan semu, melucuti topeng. Semacam praksis “dekonstruksi” (perombakan) ala filsuf Prancis Jacques Derrida, demi melakukan pembangunan kembali (rekonstruksi), dan tentu lebih dari itu, demi merengkuh idealisme (konstruksi baru) yang sebetulnya “tidak ideal-ideal amat” atau masih pada tataran realistis.

Tentu kita tahu, apa yang disebut perombakan, sakit rasanya, perih nan sedih bahkan. Dan para penguasa (serta laku hidup politisnya) yang dirombak itu harus merasakan kesakitan ini. Demikian juga para pengkritik, kurang atau lebih tidak luput dari rasa sakit itu, bahkan justru karena rasa sakit itu, maka perombakan mau tidak mau harus dilakukan. Kalau boleh, kita ingat ucapan kritikus sosial (monolog) Butet Kartaredjasa, “Dikritik memang sakit tapi lebih sakit jika kritik tidak didengarkan”.

Karena itu, kalau penguasa menggunakan militer sebagai alat untuk mengusir bahkan “mencekik” massa kelompok kritis, misalnya, itu tidaklah lain dari pada ekspresi rasa sakit kekuasaan politis dan bahkan jeritan derita pribadi. Demikian juga pengalaman “dicekik” saat melakukan praksis dekonstruksi adalah sakit di atas sakit, yang tidaklah lain dari pada konsekuensi perwujudan peran pengkritik. Bedanya, mencekik itu “melawan” hukum yang tentu harus dikutuk, sementara praksis dekonstruksi itu “searah” hukum.

Sekian sering gangguan kelompok kritis dipandang sebagai “pengganggu murni” roda penyelenggaran politik, dan dengan itu, bersifat destruktif. Bukan. Penggangguan kelompok kritis adalah ekspresi hak perlawanan yang sangat dijunjung tinggi dalam etika politik, kecuali etika politik negara komunis, otoriter dan totaliter. Lebih dari hak ekspresi perlawanan, penggangguan itu adalah sebuah wujud tanggung jawab moral sosial publik yang kalau tidak dilakukan justru akan membiarkan ketimpangan terjadi dari waktu ke waktu.

Kita patut mengapresiasi perjuangan aktivis Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) yang mengusung semboyan pro patria et ecclesia yang dengan gigih nan berani bukan cuma mengabdi pada agama yang mereka anut, melainkan juga negara yang kemerdekaannya adalah anugerah Sang Ada.

Demikian juga kelompok kritis di mana pun, semisal, Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) Wilayah NTT khususnya, dan Tim Relawan Kemanusiaan Flores (Truk-F) yang “tak pernah tenang” apabila membiarkan penguasa tinggal dalam kenyamanan semu, apabila massa rakyat ditipu dengan pembangunan sekadar jadi, apabila ketimpangan semakin tak terbendung, apabila mafia selalu menggerogoti keadilan sosial, apabila martabat manusia selalu dirongrong. Itulah kelompok kritis yang konstruktif.*** (Kolom Bentara Harian Umum Flores Pos, 17 Mei 2016)

Demo PMRI3

Aktivis PMKRI, korban pemukulan oleh polisi dalam sebuah aksi demonstrasi beberapa waktu lalu.

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s