Massa Rotasi Desak Penegak Hukum Tuntaskan Kasus Lorens Wadu

Lorens Wadu

Adegan reka ulang kasus pembunuhan Laurens Wadu. Tampak, tersangka Marsel Welan (sekarang terpidana), sedang mencekik korban yang di perankan oleh seorang anggota polisi. sementara, Bence Ruing, tersangka lainnya, memeluk korban dari belakang. (Foto FBC/Yogi Making) – (Foto dan komentar diambil dari sini klik)

Oleh Maxi Gantung

Lewoleba, Flores Pos — Penanganan kasus pembunuhan Lorens Wadu hingga kini tidak jelas. Penegak hukum justru lebih serius memroses orang atau saksi dengan tuduhan pemiftnahan.

Lorens Wadu2

Almarhum Lorens Wadu

Eleman Masyarakat yang tergabung dalam Front Lembata Bersih (Rotasi) mendesak agar pihak Polres Lembata dan Kejaksaan Negeri Lewoleba segera tuntaskan kasus Lorens Wadu yang diduga sarat dengan rekayasa ini.

Pada hari kedua, Selasa (24/5), aksi demonstrasi yang dilakukan massa Rotasi bersasar pada Kantor Kejaksaan Negeri Lewoleba dan Polres Lembata. Massa yang terdiri dari berbagai eleman atau organisasi melakukan orasi di Kantor Kejaksaan Negeri Lewoleba yang dijaga ketat oleh aparat Polres Lembata dan Pol PP.  Beberapa utusan dari Rotasi diperkenankan untuk dialog dengan jaksa di Aula Kejaksaan Negeri Lewoleba.

Dalam dialog tersebut, utusan Rotasi diterima oleh Kasie Pidus I Nengah  Ardika, Kasie Intel Abdul Haris, Jaksa Dedy Fajar Nugroho dan Jaksa Widia Purnama Nugraha. Dalam dialog tersebut, Pater Vande Raring, Simon Odel, Gaby Raring dan Alex Murin mengangkat sejumlah  kasus yang ditangani oleh polisi dan jaksa yang hingga kini masih menjadi pertanyaan besar rakyat Lembata.

Pater Vande mengatakan, kasus kematian bocah tak berdosa, Alfons Sita, di kubang Waira, yang merupakan proyek kesenangan Bupati Lembata, penyidik Polres Lembata telah menetapkan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lembata sebagai tersangka. Namun tidak lama kemudian, kasus ini telah di SP3-kan (Surat Pemberitahuan Penghentian Penyidikan).

Menurut Pater Vande, seseorang ditetapkan tersangka kalau memenuhi dua alat bukti yang cukup. Namun begitu mudah kasus ini dihentikan. Ingat, kata Pater Vande, “meinawa” yang merupakan kepercayaan orang Lembata akan terus mencari. “Darah Alfon Sita yang mati tak wajar itu terus mencari.”

Hal yang kedua, lanjut Pater Vande, kasus pemerasan terhadap kontraktor, Paulus Lembata oleh Bupati Lembata yang sudah dilaporkan di Polres Lembata dan Kejaksaan Negeri Lewoleba hingga kini didiamkan. Kalau kasus lain begitu cepat diproses, tapi kalau kasus yang melibatkan bupati, penanganan tidak berjalan.

“Apakah bupati itu malaikat? Apakah bupati itu kebal hukum sehingga apara penegak hukum tidak berani menyentuhnya?” tanya Pater Vande.

Kasus Dipimpong

Begitu juga dengan kasus pembunuhan Lorens Wadu yang sampai saat ini tidak jelas. Simon Odel mengatakan, kasus pembunuhan Lorens Wadu terkesan sedang dipimpong oleh dua intitusi penegak hukum, Polres Lembata dan Kejaksaan Negeri Lewoleba.

Menurutnya, kasus Lorens Wadu itu sebenarnya mudah. Namun anehnya penegak hukum di Lembata kalau kasus yang rumit dan melibatkan orang kecil cepat ditangani tapi kasus Lorens Wadu yang sudah beberapa tahun ini belum juga tuntas. Para tersangka dibiarkan berkeliaran di masyarakat.

Tersangka Berkeliaran

Sementara itu, Alex Murin mengatakan, dalam kasus pembunuhan Lorens Wadu, empat orang sudah dihukum. Namun masih banyak tersangka yang sampai saat ini belum diproses.

Dalam gelar perkara di Kejaksaan Tinggi yang dihadiri Kapolda NTT, Kapolres Lembata, Kasat Reskrim Polres Lembata, Kajati NTT dan Kajari Lembata, penegak hukum telah menetapkan tiga tersangka yakni Dion Wadu, Tolis Ruing dan  Bence Ruing. Sementara sebelumnya penyidik Polres Lembata menetapkan lima tersangka lain yang diduga kuat terlibat dalam kasus pembunuhan Lorens Wadu. Namun berkas perkara tiga tersangka itu (Dion Wadu, Tolis Ruing dan Bence Ruing) belum dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan Negeri Lewoleba.

Alex menambahkan, berdasarkan pengakuan terpidana, Marsel Welan, Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur terlibat dalam kasus pembunuhan Lorens Wadu. Bukti rekaman pengakuan Marsel Welan tersebut sudah diserahkan ke Polda NTT. Namun lagi-lagi kasus ini didiamkan.

Menurut Simon Odel, saksi Uga Uran yang menonton video rekaman pembunuhan di rumah jabatan Bupati Lembata justru ditetapkan sebagai tersangka dengan pasal pencemaran nama baik. Semestinya, berdasarkan kesaksiannya, polisi menggali lebih dalam keterangan Uga Uran, tapi polisi tidak lakukan itu.

Polisi dan jaksa mesti menggali keterangan Uga Uran dan orang di dalam rekaman tersebut sehingga kasus pembunuhan Lorens Wadu ini menjadi terang benderang.

SP3 Bukan Kewenangan Jaksa

Kasie Pidsus, I Nengah Kartika, mengatakan, soal kewenangan SP3 itu bukan kewenangan jaksa melainkan kewenangan penyidik. Namun SP3, kata Nengah, tidak berarti kasus tersebut tidak bisa dibuka kembali.

“Kalau ada bukti baru, maka kasus tersebut bisa dibuka kembali,” katanya.

Terkiat kasus pembunuhan Lorens Wadu, kata Nengah, berkas perkaranya dikembalikan kepada penyidik untuk dilengkapi.

Menanggapi itu, Alex Murin mengatakan, berdasarkan pengakuan Marsel Welan, petunjuk yang diberikan oleh jaksa sudah dilakukan oleh penyidik Polres Lembata dengan melakukan pemeriksaan tambahan terhadap Marsel Welan dan kawan-kawannya. Namun sampai sekarang kasus ini belum juga selesai.*** (Flores Pos, 25 Mei 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in BERITA and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s