Jejak Kunjungan Paus Fransiskus di Meksiko (2)

Paus Fransiskus6

Paus Fransiskus berarak menuju altar saat kunjungan ke Meksiko pada Februari 2016.

Oleh Herman Barung

Hari Pertama

Pada Sabtu (13/2), hari kedua kunjungan El Papa, meliputi tiga agenda. Pertama, beliau bertemu dengan Presiden di Palacio Nacional. Di hadapan Presiden Henrique Pena Nieto dan jajarannya, Paus menyampaikan kesannya tentang Meksiko. Dengan bahasa Spanyol yang sempurna, Paus menekankan wajah muda Meksiko. Komposisi penduduk Meksiko lebih dari setengah adalah generasi muda.

Hal ini seharusnya mendorong semua pihak, baik pemerintah maupun Gereja untuk berpikir tentang masa depan penuh harapan, penuh daya transformatif, sebuah undangan positif untuk memandang masa depan secara lebih baik. Di akhir pertemuan, Presiden Henrique memperkenalkan para menteri kabinetnya. Paus menyalami mereka secara pribadi, meminta agar menjadi pribadi Katolik yang sejati dalam karya.

Selanjutnya, Paus menuju Katedral Metropolitana. Di sana Paus bertemu dengan semua uskup se-Meksiko dan para kardinal. Dalam kesempatan ini, Paus menyampaikan secara panjang lebar tentang orientasi dasar pelayanan Gereja Katolik serta dengan tajam mengulas realitas Gereja Katolik Meksiko, sambil bercermin pada sejarah indah masa lalu tentang keteladanan Juan Diego dan kemurahan Maria. Paus meminta Gereja Katolik Meksiko harus berani menampilkan diri pada garis paling depan dalam setiap situasi kritis yang dihadapi umat. Menjaga akar iman, menumbuhkan harapan dan memperkuat pelayanan kasih. Gereja tidak boleh melempem di hadapan situasi ketidakadilan, kekerasan, korupsi dan kehilangan harapan generasi masa depan Meksiko.

Paus menyampaikan hal ini karena masalah narkotika di Meksiko masuk dalam kategori darurat. Gereja harus berani berada pada garis paling depan (frontera) dalam membela kehidupan umat Meksiko. Hal ini tentu membuat telinga ‘merah’ para uskup Meksiko, tetapi itulah realitasnya.

Berbeda dengan suasana di Basilika Guadalupe, sejak pagi ribuan umat berdatangan dari berbagai penjuru Meksiko. Para petugas keamanan sudah bersiaga melayani umat, memeriksa karcis masuk, dan mengatur tempat duduk berdasarkan karcis. Seluruh aktivitas El Papa ditayangkan melalui layar lebar yang dipasang dari berbagai sudut. Makin siang makin panas, makin banyak yang datang, sampai akhirnya seluruh arena penuh. Para animator tidak henti-hentinya menyanyikan lagu-lagu animasi, sekelompok remaja mengajar beberapa yel-yel yang membangkitkan semangat.

Suara makin gaduh ketika dari layar, El Papa berarak dari Nunciatura menuju Basilika Guadalupe. Sepanjang rute, orang berbaris di kiri dan kanan menerima berkat dan menyalami beliau. Se ve, se siente, el Papa esta presente” (kulihat, kurasakan, El Papa sudah di sini), demikian yel-yel ini dinyanyikan makin lama makin keras. Misa berlangsung pukul 17.00 tapi umat sudah antrean dari pagi. Paus tiba setengah jam sebelum upacara dimulai karena Paus akan menyalami umat yang datang dan memberikan berkat apostoliknya. Dua kali Paus melintasi lorong-lorong yang telah diatur panitia sehingga dapat menyalami umat dari dekat.

Misa berlangsung di basilika Maria de Guadalupe, sebelumnya diadakan upacara “pembukaan pintu dan menyalakan obor tahun misericordia” di pintu utama Basilika. Di atas pintu gerbang utama ini terdapat tulisan “No estoy yo aqui, que soy tu Madre?” Kalimat ini merupakan kutipan dari percakapan antara Maria dan Juan Diego.

Juan Diego menghindari perjumpaan dengan Maria dan menempuh jalur yang berbeda. Hal ini ia lakukan karena ia ingin memanggil seorang pastor untuk mempermandikan pamannya. Tetapi Maria malah menjumpai dia dan mengatakan “Bukankah aku ada di sini, aku yang adalah ibumu”?

Herman Barung

Herman Barung, Misionaris SVD asal Manggarai Timur Tinggal di Meksiko

Pada saat yang sama, Bernardino paman dari Juan Diego mengalami penyembuhan. Kutipan ini menjadi kata kunci yang selalu digunakan El Papa dalam khotbahnya di hadapan ribuan peziarah. Perayaan berlangsung sangat khusuk, ribuan umat yang meskipun berdesakan tetap menjaga suasana misa dan bahkan dengan sikap-sikap sempurna.

Misa berakhir seiring dengan tenggelamnya sang mentari, sinar kuning keemasannya bagaikan cahaya kerahiman yang memenuhi lembah Tepeyac. Sebelum berkat penutup, El Papa berdoa secara pribadi di hadapan Santa Perawan Maria de Guadalupe. Umat pun hanyut dalam keheningan dan turut berdoa bersama beliau. Sebuah perjumpaan, kebersamaan dan perayaan yang mengharukan .*** (Flores Pos, 10 Juni 2016)

Artikel Serial:

Jejak Kunjungan Paus Fransiskus di Meksiko (1)

Jejak Kunjungan Paus Fransiskus di Meksiko (3)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s