Jejak Kunjungan Paus Fransiskus di Meksiko (3)

Paus Fransiskus2

Umat membludak saat misa yang dipimpin Paus Fransiskus dalam kunjungannya ke Meksiko, Februari 2016.

Oleh Herman Barung

Hari Kedua

Pada Minggu, 14 Februari, Paus menuju Ecatepec, Estado de Mexico, kota yang tergolong paling miskin di Ibukota Meksiko. Di hadapan hampir 3000 umat, Paus dalam khotbahnya berpesan untuk menghayati masa prapaska yang sedang berlangsung saat itu dengan kesadaran akan rahmat permandian yang membuat orang Katolik diangkat menjadi anak Allah.

Inilah kesempatan yang indah untuk kembali kepada kebahagiaan dan pengharapan sebagai anak-anak yang dikasihi Allah. Pada akhir khotbah, beliau berdoa “Semoga kalian diakruniai Roh Kudus dan memperteguhkan harapan dan iman kalian”.

Sebagian umat yang hadir adalah datang dari berbagai kota yang tidak terjadwal dalam kunjungan El papa. Mereka rela hadir bahkan ada sebagian yang bermalam di tempat itu, melewati malam yang dingin membeku. Hadir pula sepasang suami istri yang sudah merayakan ulang tahun ke-80, meskipun dengan kursi roda keduanya rela datang dari kota yang jauh.

Konon keduanya adalah pasangan yang menyaksikan seluruh kunjungan Paus Yohanes Paulus II ke Meksiko. Kini mereka masih sempat menyaksikan kunjungan Paus Fransiskus. Mereka menarik perhatian banyak orang karena dari mulut kedua orang itu terdengar suara yang memecah kesunyian “Fransisco, amigo, ya eres Mexicano” (Fransisco, teman, engkau adalah orang Meksiko). Sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa El Papa telah menjadi bagian dari antara mereka. Sebuah misi kehadiran yang membawa kedekatan hati  dan menghapus jarak fisik dan batin.

Dari Ecatepec, El Papa dengan helipkopter menuju sebuah Rumah Sakit Anak Frederico Gomez. Selain menyalami anak-anak yang sakit, dalam kata sambutannya, memberikan penekanan pada aspek lain dalam proses penyembuhan. Selain membutuhkan obat-obatan dan bantuan medis lainnya, Paus menekankan carinoterpia yakni terapi kasih sayang.

Menurut Paus, salah satu aspek yang mendorong penyembuhan seseorang adalah cinta atau kasih sayang. Seseorang yang merasa dikasihi dan dicintai akan lebih tabah menjalani hari-harinya walaupun dengan penyakit yang sedang deritanya. Cinta atau kasih sayang adalah terapi yang menyembuhkan penyakit dalam batin, serta membantu proses penyembuhan dengan lebih mudah.

Kisah mengharukan datang dari seorang anak yang menyanyikan lagu “Ave Maria” dalam bahasa Latin. Anak ini sudah 12 tahun menderita kanker dan hampir sepanjang usianya berada di rumah sakit itu. Seorang anak lain, masuk bersamaan dengan El Papa, dan betapa terkejut dan terharunya anak ini karena El Papa menyambutnya dengan hangat di pintu rumah sakit itu. Sementara seorang anak lagi meninggalkan rumah sakit itu ketika El Papa mengunjungi mereka dan bersalaman dengannya penuh rasa haru dan sukacita.

Awalnya pertemuan direncanakan hanya berlangsung di aula rumah sakit, tetapi misi “terapi kasih sayangnya” mendorong Paus untuk mengunjungi ruangan demi ruangan. Isak tangis sukacita tak tertahankan ketika di tengah situasi penuh penderitaan itu, mereka bisa bertemu Su Santidad el Papa Fransisco.

Hari Ketiga

Pada Senin, 15 Februari El Papa terbang ke sebuah provinsi paling selatan dari Meksiko, Chiapas.  Tak ada kata terlambat untuk “meminta maaf”, demikian “El Papa” menyampaikan pendahuluannya kepada ribuan umat yang hadir untuk merayakan misa bersama. Atas nama Gereja, Paus meminta maaf kepada penduduk pribumi (indigenas) yang sampai saat ini masih mengalami diskriminasi politik, ekonomi dan pendidikan. Provinsi di selatan ini hingga sekarang masih bergejolak secara politik menuntut persamaan hak, ekonomi, dan pendidikan.

Chiapas adalah provinsi di perbatasan dengan Guatemala, masih berkutat dengan dua persoalan utama yaitu menuntut keadilan dalam berbagai aspek kehidupan dan masalah imigran dari negara tetangga. Chiapas merupakan pintu masuk bagi Guatemala dan berbagai negara di Amerika Tengah menuju Estados Unidos (Amerika Utara). Gereja harus menunjukkan misinya yang tegas di hadaan persoalan imigrasi yang sedang melanda dunia saat ini.

Kunjungan El Papa ke Chiapas ini juga untuk menunjukkan misi Gereja, dan memotivasi Gereja agar lebih sungguh melayani umatnya dan bersama mereka menghadapi  persoalan hidup secara kristiani.

Paus Fransiskus5

Paus Fransiskus dalam kunjungannya ke Meksiko pada Februari 2016.

Perayaan ekaristi di Keuskupan San Cristobal de las Casas ini berlangsung dalam bahasa Spanyol dan bahasa daerah setempat,  misalnya, tzeltal, tzotzil dan chol, demikian  juga lagu-lagunya. Dalam khotbahnya, El Papa menekankan inkarnasi diri Yesus ke dalam realitas kemanusiaan. Masyarakat indigenas adalah masyarakat Allah (pueblos de Dios), telah menjadi teladan dalam menjaga relasi dengan alam dalam keharmonisan.

Kepada kaum muda, Paus berpesan agar belajar pada para leluhur yang telah mewarisi kekayaan budaya, sebagai sumber pelajaran nilai-nilai kemanusiaan zaman sekarang. Chiapas juga dikenal sebagai pusat gerakan zapatista dan teologi Pembebasan. Gerakan yang menuntut persamaan hak dan kesempatan bagi para penduduk pribumi ini tidak jarang juga berakhir dengan anarkisme.

Hari Keempat

Di Morelia, agenda khusus kunjungan El Papa adalah bertemu dengan seluruh kaum muda Meksiko dan biarawan-biarawati. Sebelum perayaan dimulai, para imam dan para siswa seminari serta para suster dari berbagai kongregasi membawakan berbagai pertunjukan. Mereka menyanyikan lagu-lagu rohani, membawakan tarian-tarian daerah dan aneka pertunjukkan lainnya. Umat yang merasa terhibur dan terinspirasi oleh kegembiraan para biarawan-biarawati tersebut merasakan hal baru.

Sambutan-sambutan spontan yang dibawakan oleh generasi muda ini, menyentuh hati setiap orang yang datang. Seorang ibu yang menghadiri kunjungan El Papa di Morelia ini memberi kesan tersendiri “inilah kegembiraan kristiani yang sejati”.

Perayaan misa begitu meriah, dan dalam khothbanya, Paus meminta agar kehidupan nyata dan doa itu seiring sejalan. “Katakan padaku apa itu doa, aku akan mengatakan kepadamu apa itu hidup; katakan kepadaku apa itu hidup, maka aku akan mengatakan kepadamu apa itu doa; sebab dengan menunjukkan kepadaku bagaimana berdoa saya akan belajar menemukan Allah yang hidup, dan dengan menunjukkan kepadaku bagaimana kamu hidup, maka aku akan belajar untuk percaya kepada Allah yang kepadaNya kamu berdoa. Sebab kehidupan kita berbicara tentang doa kita dan doa kita berbicara tentang kehidupan kita.”

Perayaan misa diakhiri dengan penyerahan salib misi dari wakil kaum muda dari seluruh kota di Meksiko. Salib ini melambangkan kesediaan kaum muda Meksiko untuk menjadi misionaris pembawa pesan “kebangkitan dan pembaruan dalam diri kaum muda Katolik Meksiko”.

El Papa mengakhiri rangkaian kunjungannya ke Meksiko di Morelia. Dari Morelia, Paus terbang langsung menuju Roma. Adios Mexico!

Herman Barung

Herman Barung, Misionaris SVD asal Manggarai Timur Tinggal di Meksiko

Penutup

“Vengo como un peregrino, a buscar la riquieza de su fe,” demikian El Papa menyimpulkan kunjungannya ke Meksiko,. “Saya datang sebagai seorang peziarah, mencari kekayaan iman sebagaimana yang telah kamu miliki. Jangan lupa akan Ibumu Maria de Guadalupe.”

Pesan  ini dan pesan-pesanya pada berbagai momen dan tempat di atas adalah pesan universal. Setiap orang yang mendengarnya akan merasa bahwa Paus sedang berbicara kepada diri orang itu. Seluruh pesannya disampaikan secara sederhana, langsung dan bukan sebuah konsep teologis. Hal ini yang membuat semua orang merasa tersapa secara pribadi. Semoga pembaca juga merasa tersapa.*** (Flores Pos, 11 Juni 2016)

Artikel serial:

Jejak Kunjungan Paus Fransiskus di Meksiko (1)

Jejak Kunjungan Paus Fransiskus di Meksiko (2)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s