Kesenjangan Sosial

Kesenjangan

Ilustrasi

Oleh Avent Saur

Beberapa pekan terakhir, Kementerian BUMN mengeluarkan kebijakan agar perusahaan BUMN di seluruh Indonesia menyediakan anggaran sosial-kemanusiaan untuk diberikan kepada orang atau kelompok orang atau lembaga yang membutuhkannya. Entah kebijakan ini sebagai salah satu item dari rencana-rencana sosial-religius pada bulan suci Ramadan, setidaknya, hal ini membawa kita kepada permenungan akan dua hal berikut.

Pertama, betapa warga bangsa ini memiliki kesenjangan antara kelompok kaya dan kelompok miskin. Bila ditelurusi, maka penyebabnya pasti akan ditemukan dan totalnya cukup bahkan sangat banyak. Kedua, betapa setiap orang baik secara individual maupun kolektif perlu mewujudkan nilai moral solidaritas kepada satu sama lain. Pewujudan solidaritas bisa timbul dari pergumulan pribadi atas hakikat terberi pada diri setiap orang, bisa juga dari pemikiran yang serius atas nilai-nilai yang dianut secara politis bangsa ini. Paling tidak, hal ini akan mempersempit kesenjangan kelompok kaya dan miskin.

Bagaimana dengan keadaan di NTT? Badan Pusat Statistik (BPS) menengarai adanya pelebaran kesenjangan kaya-miskin pada tujuh provinsi di seluruh Indonesia. Salah satunya adalah NTT. Rumusan untuk mendapatkan kesimpulan itu, adalah semakin tinggi indeks gini ratio, semakin besar pula pelebaran kesenjangan antara kelompok kaya dan kelompok miskin. Pada Maret 2015, misalnya, gini rationya 0,34 persen, kemudian meningkat (melebar) pada September 2015 menjadi 0,35 persen. Data ini dirilis pada April 2016.

Untuk mendapatkan data ini, pihak BPS meneropong pelbagai keadaan pendapatan masyarakat baik kelas atas, kelas menengah, maupun kelas bawah, termasuk PNS. Ya, entah pendapatan itu menurun atau meningkat dengan tetap berkaca pada keadaan pertumbuhan ekonomi nasional.

Data itu juga dihimpun berdasarkan keadaan dan perkembangan pengadaan insfrastruktur publik serta kualitasnya, kebijakan-kebijakan pemerintah pusat atas daerah dan kebijakan pemerintah daerah terutama terkait ekonomi, atau juga perihal bantuan sosial bidang kesehatan dan pendidikan. Itu juga dihimpun berdasarkan pertumbuhan penduduk dan termasuk para sarjana baru yang masih menganggur, yang menambahkan jumlah dalam daftar kesenjangan sosial.

Hingga kini, pemerintah pusat dan daerah tetap berjuang untuk mempersempit kesenjangan itu melalui pelbagai kebijakannya. Ada bantuan PKH, misalnya, juga KIS, KIP dan BPJS, serta bantuan kredit ringan KUR.

Bantuan-bantuan ini bersifat politis, yang kini ada dan mungkin nanti tidak ada lagi. Demikian juga perihal kebijakan BUMN yang beberapa pekan terakhir diwujudkan oleh PT Jasa Raharja Ende memberikan bantuan kepada 250 anak yatim atau Bank NTT Cabang Mbay memberikan bantuan kepada Panti Asuhan Bakti Luhur ALMA Mundemi, Keo Tengah di Kabupaten Nagekeo atau juga operasi pasar di pelbagai kota. Karena itu, sekalipun tampak nyata, tapi masa depan bantuan itu kurang jelas. Belum lagi pelbagai bantuan itu dibayangi oleh pelbagai praktik kolusi.

Karena itu, sekalipun betapa perlunya kebijakan, mengatasi kesenjangan pada akhirnya harus kembali kepada disposisi individual setiap orang. Bahwasanya, setiap orang setidaknya mesti peka terhadap kebutuhan orang lain, dan mewujudkan kepekaan itu dalam bentuk solidaritas yang nyata (bukan sebatas slogan atau kampanye semata). Itu berarti setiap orang mesti merasa bahwa dirinya sepenanggungan dengan sesamanya, bukan berjalan (kaya atau miskin) sendirian. Orang lain mesti dipandang sebagai diriku yang lain.

Solidaritas itu diwujudkan bukan terutama karena orang itu memiliki kelebihan dan yang lain kekurangan, melainkan karena demikianlah imperatif moral kemanusiaan kita. Dalam skala dan konteks kecil, kira setiap orang mewujudkan solidaritas itu dengan caranya sendiri demi mempersempit kesenjangan sosial.*** (Kolom Bentara, Harian Umum Flores Pos, 28 Juni 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s