Misi Lintas Batas Agama

SSpS-Wali Songgo

Para suster dari Konggregasi SSpS Flores Bagian Timur berpose bersama para santri di Pesantren Wali Sanga Ende saat berkunjung, Sabtu (18/6). Tampak peralatan dapur yang para suster sumbangkan kepada pesantren.

Oleh Avent Saur

Isu hubungan antaragama di Tanah Air selalu menarik untuk ditelaah, entah itu peristiwa kasus maupun peristiwa toleransi dan penjalinan yang baik. Ini bisa dipahami sebab hubungan antaragama sangat menentukan persatuan dan kedamaian bangsa.

Sekalipun toleransi dan dialog muncul karena adanya perbedaan agama, tetapi kasus intoleransi dan ketiadaan dialog juga muncul dari perbedaan agama itu sendiri, terutama itu muncul lantaran orang-orang atau kelompok-kelompok tertentu dalam agama-agama tertentu kurang “bersedia” menerima perbedaan sebagai kekayaan bangsa atau sebagai komponen bangsa yang terangkum dalam Pancasila sebagai dasar pendirian negeri ini.

Sebenarnya, hubungan antaragama tidak dirasakan sesuatu yang sensitif kalau semua kelompok masyarakat dan semua agama memahami secara baik dan benar serta kritis terhadap dasar negara ini, Pancasila, yang hari kelahirannya dikenang setiap tanggal 1 Juni. Dan tentu diketahui warga bangsa juga bahwa untuk memantapkan penghormatan dan pengamalan masyarakat terhadap Pancasila, Presiden Joko Widodo baru-baru ini menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Libur Nasional.

Betapa damai dan sejahteranya bangsa ini kalau penghormatan dan pengamalan Pancasila ini diwujudkan dengan benar dan konsisten, sekurang-kurangnya mungkin cukup terkait sila pertama dan sila ketiga, yang tentu penjabarannya yang mantap terungkap dalam UUD 1945 di mana kebebasan beragama diakui dengan lugas.

Namun betapa tidak, kedamaian dan kesejahteraan itu tak kunjung mendekati “kesempurnaan” lantaran “orang-orang atau kelompok-kelompok” tertentu tadi. Maka dari itu, pelbagai upaya pencerahan yang dilakukan oleh anggota MPR RI setahun terakhir perlu terus terjadi, dan lebih dari itu, keteladanan dari pelbagai pihak harus terus dijunjung tinggi.

Nah, apa yang dilakukan para biarawati Katolik dari Kongregasi SSpS yang mengunjungi Pondok Pesantren Wali Songgo Ende pada Sabtu, 18 Juni akhir pekan kemarin tidaklah lain dari pada wujud keteladanan toleransi dan dialog serta penjalinan antaragama yang nyata itu. Tepat di masa puasa ini, para biarawati yang dipimpin Provinsial SSpS Flores Bagian Timur (wilayah misi Kabupaten Ngada sampai Lembata) Suster Inosensia memberi sumbangan “sederhana” berupa peralatan dapur. Pemimpin Ponpes Wali Sanga Siti Halimah Assadiyah menegaskan satu hal fundamental ketika itu, “Saya tidak melihat banyaknya bantuan ini tetapi ini merupakan hadiah sukacita Ramadhan bagi kami, dan kami mendoakan para suster.”

“Sukacita” setidaknya dimaknai sebagai keterbukaan hati untuk digembirakan oleh orang lain yang berbeda agama, bukan sekadar kegembiraan karena pelbagai kebutuhan dipenuhi tanpa diminta. Dan ini merupakan mental dan cara pandang konstruktif sebagai sebuah pengamalan filsafat negara yang patut diteladani oleh pelbagai pihak. Bahkan lebih dari itu, pihak Ponpes membuka pintu hati dan agama serta rumahnya untuk bekerja sama dalam hal tenaga kependidikan untuk melayani para santri di sana.

Di sini, kita pun diingatkan bahwa betapa perjalanan bersama membentuk warga bangsa sekaligus warga masyarakat yang berkualitas terutama para remaja atau kaum muda menjadi sebuah upaya yang patut dibutuhkan. Dan justru dalam perjalanan bersama, perbedaan akan semakin kelihatan, dan sebagaimana perkataan para pemikir inter-religius, “justru dalam konteks perjalanan bersama umat beragama yang berbeda, umat beragama yang satu itu akan semakin beriman oleh karena berbaur dengan umat beragama yang lain.”

Dari pihak para biarawati SSpS, kunjungan ini adalah sebuah misi lintas batas agama memaknai 100 tahun kehadiran SSpS di Indonesia yang akan berpuncak pada 13 Januari 2017 nanti. Tentu bukan semata-mata karena kenangan akan kehadiran misi SSpS di Tanah Air ini, melainkan terutama begitulah hakikat serikat religius ini di mana para biarawati dalam pelbagai karyanya menerobos pelbagai batas termasuk batas agama.

Tentu hal ini patut diapresiasi demi memantapkan toleransi dan semangat hubungan antaragama selain misi Katolik itu sendiri.*** (Kolom Bentara Harian Umum Flores Pos, 21 Juni 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s