Nasib Malang TKI

TKI

Ilustrasi

Oleh Avent Saur

Nasib malang tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri bukanlah cerita baru. Mulai dari kasus penelantaran dan perdagangan, penganiayaan dan narkoba, hukuman penjara bahkan hukuman mati, sampai pada kasus pembunuhan (membunuh dan dibunuh) serta kematian tak terurus, menjadi warna-warni nasib malang tersebut.

Sekalipun demikian, masyarakat di sekitar kita tak kapok juga, selalu mencari kesempatan dan alasan untuk meninggalkan kampung dan rumah serta keluarga (istri, suami, orangtua, anak) menuju tanah asing. Bersamaan dengan itu, tentu patut diapresiasi, ada banyak kalangan dan kelompok serta lembaga yang menaruh kepedulian khusus terhadap kemalangan tersebut, untuk setidaknya membendung arus TKI dan mengatasi sengkarut persoalannya.

Kasus teranyar menimpa Bernadus Kedu, TKI Malaysia, asal Kampung Tinabani, Ende. Pria 52 tahun ini dikabarkan meninggal di Malaysia (tepatnya di mana?) pada 13 Mei 2016, diterbangkan ke Ende dan tiba pada 12 Juni 2016.

Dalam berita Flores Pos, Senin (13/6), tidak disertakan mengapa TKI ilegal ini meninggal: wajar atau tidak wajar, tetapi yang pasti setelah meregang nyawa, ia tidak langsung diurus (oleh pemerintah setempat atau KBRI Malaysia) untuk dipulangkan. Mengapa tidak diurus?

Jalur gelap (ilegal) setidaknya menjadi penyebab. Demikian juga bisa tersebab oleh dokumen yang kedaluwarsa. Dan karena nasib demikian akan persis sama terjadi pada TKI lain, maka pemerintah setempat sejak beberapa tahun lalu mendeportasi ribuan TKI dari Malaysia. Bahwasanya, pergi ke negeri luar itu bukan semata-mata tinggal dan bekerja di sana, bukan sekadar bersusah payah dalam berburuh dan mengembalikan kesehatan yang mungkin sempat terganggu atau mengubah keadaan ekonomi keluarga, melainkan juga perihal bagaimana menjalankan semuanya itu dalam kerangka hukum komunitas politik setempat dan nilai-nilai sosialnya; dan terutama perihal keselamatan nyawanya sendiri. Yah, singkatnya, memikirkan semuanya berkaitan dengan kepergian ke luar negeri itu adalah sebuah keharusan.

Persoalan pergumulan para TKI memang kita tahu tampak sangat kompleks: pada TKI itu sendiri, kebijakan politik penguasa, prosedur yang salah, praktik mafia (pemerintah dan non pemerintah), perdagangan manusia, kasus di tempat kerja, dan lain-lain. Herannya, tak sedikit orang berani masuk ke dalam kompleksitas persoalan itu.

Dalam konteks ini, keberadaan pelbagai lembaga sosial yang menopang pemerintah tentu sangat diandalkan dalam membuat kontrol sosial terhadap persoalan-persoalan seputar TKI. Karena itu, kasus Bernadus kiranya menyadarkan pelbagai pihak terkait kompleksitas persoalan TKI dan kewajiban hukumnya yang mesti dilalui.

Namun disadari pula bahwa semua perjuangan pelbagai pihak, semisal, BP3TKI Provinsi NTT, Dinas Nakertrans Ende, Dinas Sosial Ende, Komisi Pastoral Migran dan Perantau Keuskupan Agung Ende, Koalisi Gereja Peduli Migran Perantau NTT dan Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Ende serta keluarga, terkait nasib Bernadus, akan mengarahkan kita kepada atau didasari oleh kesadaran bahwa martabat manusia adalah kekayaan terberi dalam diri manusia yang berada pada posisi di atas (melampaui) segala-galanya.

Nilai martabat manusia itu melampaui sekadar kesalahan administratif, manipulasi administrasi, data yang kedaluawarsa, atau pedoman hukum sipil lainnya. Nilai inilah yang diperjuangkan oleh pelbagai tim kemanusiaan (termasuk pemerintah) saat berusaha memulang pria sederhana Bernadus yang sudah tak bernyawa itu.*** (Kolom Bentara, Harian Umum Flores Pos, 14 Juni 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s