Maju Lebih Kuat daripada Mundur

Bruder Fransiskus Talan SVD

Bruder Fransiskus Talan SVD

  • Kisah Panggilan Bruder Fransiskus Talan SVD

Oleh Avent Saur

Catatan: Empat bruder akan mengikrarkan kaul kekalnya di Biara Santo Konradus (BSK) Ende pada 15 Agustus 2016. Mereka antara lain Bruder Kandidus Sasi SVD, Bruder Damianus Mau SVD, Bruder Fransiskus Talan SVD, dan Bruder Yohanes Nahak Taek SVD. Kisah tapak-tapak panggilan mereka akan disajikan di sini.

Sempat tidak memiliki arah hidup selama setahun usai menamatkan SMA, Bruder Frans akhirnya menemukan jalan yang jelas untuk mengarahkan hidupnya.

Ketika itu, tutur putra bungsu dari buah cinta Ayah Agustinus Talan dan Ibu Harlenci Keo ini, “saat saya baru pulang ikuti kerja proyek di Timor Timur, seorang eks frater mengajak saya untuk menemui seorang bruder di Biara Santo Yosef Nenuk, Belu. Kepadanya, saya menyatakan niat untuk menjadi bruder SVD.”

Niat awal Frans adalah menjadi seorang polisi. Tetapi ujian demi ujian sebanyak dua kali, ia tak lulus. Kini ia menjadi “polisi Tuhan” untuk menjaga iman umat di mana pun ia ditempatkan untuk berkarya nanti usai mengikrarkan kaul kekal pada 15 Agustus 2016 ini.

Dalam perjalanan panggilannya menjadi bruder SVD, baik masa postulat tahun 2007-2008, novisiat 2008-2010, yuniorat 2010-2012, maupun masa studi 2012-2015, Frans, putra bungsu kelahiran Oekabiti-Timor Tengah Utara, 4 November 1986 ini memang bertekad untuk terus melangkah maju hingga akhir. Namun tekad sekuat apa pun, ujarnya, tidak luput dari pelbagai tantangan yang mengadang.

Pertama, ketika menikmati masa novisiat tahun I, pernah terbersit dalam hati untuk menarik diri dari pembentukan dan pendidikan SVD, tetapi niat itu diurung, dan malah menguatkannya untuk terus melangkah maju.

Kedua, ketika bergumul dengan masa studi di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Jawa Timur, jurusan Teknik Mesin Otomotif, ada pelbagai tawaran dari luar biara untuk bekerja pada beberapa perusahaan. Tetapi rasanya, “bisikan dari dalam diri saya lebih kuat untuk mengarahkan saya tetap maju.” Rasanya berat memang, tuturnya, namun seberat apa pun, ia tak mengurung keinginannya untuk kembali kepada dorongan awal pilihannya “menjadi bruder SVD”.

Situasi sekaligus tantangan amat berat dalam panggilannya terutama ketika ada beberapa penilaian kurang bagus baik oleh teman-teman maupun formator dan anggota dewan rumah di Malang. Ketika itu, surat balasan lamaran pembaruan kaul keenam belum diterima pada waktunya, sementara teman-teman lain sudah menerimanya. Hal ini tentu memberatnya yang membuatnya rela untuk mengemas barang-barangnya ingin meninggalkan biara. Namun beberapa hari jelang retret pembaruan kaul, ia memperoleh surat balasan itu, “lamaran diterima”. Tentu pelbagai tantangan ini mengajarkannya perihal hidup yang tidak mudah, dan membuatnya semakin kuat untuk terus melangkah.

Tidak hanya itu, menurutnya, perihal kaul-kaul, hal yang paling berat untuk dijalankan adalah kaul kemurnian. Namun ia tidak tinggal diam untuk mengalihkan rasa berat itu. “Saya coba mengatasi itu dengan banyak berkreasi, mengembangkan bakat dan keahlian serta berpikir positif terhadap lawan jenis. Saya yakin Tuhan akan menjaga dan menguatkan saya,” turutnya.

Itulah sebabnya Bruder Frans, dalam pengikraran kaul kekalnya memilih moto yang diambil dari Yoh 8:12 “Akulah Terang”. Ia yakin bahwa ia tidak akan jalan dalam kegelapan sebab Dia yang memanggil akan selalu memberikan terang-Nya. Sekaligus, orang yang diterangi akan selalu mengalami hidup. Mungkin nanti akan mengalami rasa tidak mampu, tidak kuat, tetapi oleh karena terang itu, ia akan kuat dalam kelemahan dan terus berjalan ke depan dengan pasti.

Selain kaul kemurnian, hal yang amat memberatkan baginya, adalah menghidupi panggilan dalam komunitas. Tidak mudah beradaptasi dengan sesama saudara SVD yang berasal dari pelbagai latar belakang. Tetapi setidaknya ia berpikir positif bahwa dari ragam karakter dan kemampuan serta latar belakang, ia bisa belajar aneka hal konstruktif yang menunjang berkualitasnya kepribadian dan panggilan.

Hingga memperoleh gelar Ahli Madya (A.Md) pada Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Jawa Timur, keahliannya terkait otomotif semakin berkembang. Tentu disyukuri sebab bidang otomotif digelutinya semenjak ia duduk pada jenjang sekolah lanjutan tingkat atas di Sekolah Teknik Menengah (STM) Nenuk, Kabupaten Belu. Hal ini juga yang mendorongnya untuk menjadi biarawan khususnya bruder.

Menurutnya, berkarya sebagai bruder itu “langsung terjun ke lapangan”, bukan berurusan dengan hal-hal sakramental sebagaimana dilakukan oleh para imam. “Saya senang dengan pilihan ini, berkarya dalam bidang otomotif, menikmati hidup sebagai bruder SVD”.

“Saya siap berkerja di mana saja pemimpin SVD mengutus saya,” tuturnya merendah.*** (Flores Pos, Jumat, 12 Agustus 2016)

Baca juga: Empat Bruder SVD Akan Ikrarkan Kaul Kekal

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s