Menerobos Pesimisme

Bruder Yohanes Nahak Taek SVD

Bruder Yohanes Nahak Taek SVD

  • Kisah Panggilan Bruder Yohanes Nahak Taek, SVD

Oleh Avent Saur

Catatan: Empat bruder akan mengikrarkan kaul kekalnya di Biara Santo Konradus (BSK) Ende pada 15 Agustus 2016. Mereka antara lain Bruder Kandidus Sasi SVD, Bruder Damianus Mau SVD, Bruder Fransiskus Talan SVD, dan Bruder Yohanes Nahak Taek SVD. Kisah tapak-tapak panggilan mereka akan disajikan di sini.

Optimisme dalam menjalani panggilan hidup menjadi dasar bagi seseorang untuk selalu melangkah maju. Adapun pesimisme muncul karena pelbagai tantangan yang dihadapi, juga karena tantangan itu disandingkan dengan kurangnya kemampuan dan potensi diri.

Tidak demikian bagi Bruder Yohanes Nahak Taek SVD atau yang biasa disapa Bruder Boker. Optimisme yang dialaminya justru datang dari luar, dari orang-orang yang semestinya memberikan dia pertolongan dan dorongan untuk menjawab panggilan Tuhan.

Pada masa jelang menjalankan studi profesi di Fakultas Desain Grafis, Prodi Desain Komunikasi Visual pada Sekolah Tinggi Seni Rupa dan Desain (STSRD) Visi Indonesia Yogyakarta, Bruder Boker ditantang dengan sebuah pesimisme yang menerjang panggilannya. “Kau pergi studi profesi, tapi pasti kau pulang cepat,” tuturnya mengutarakan ungkapan pesimisme salah satu seniornya saat itu.

Tetapi ungkapan pesimisme ini tidak membuat semangat bruder kelahiran Kampung Weoe, Kabupaten Malaka-Timor 31 Agustus 1985 ini surut. Ia pergi dengan sebuah tekad kuat bukan terutama untuk menerobos pesimisme tersebut melainkan untuk mewujudkan apa yang menjadi niatnya sedari awal antara lain menjawabi bisikan panggilan Tuhan di kedalaman dirinya.

Di Yogyakarta, ketika mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, ia menghadapi satu tantangan lanjutan yakni “tidak lulus test”. Tetapi ia selalu mencoba dan mencoba, berjuang dan berjuang dengan mengikuti ujian masuk gelombang kedua. Sekali lagi, ia mendengar pesimisme yang setara dari orang-orang di sekitarnya, “kalau tidak lulus lagi, kalian akan dikirim pulang ke Ende”. Tetapi syukur, kemudian “ia lulus”.

Tantangan dan pesimisme dipandang oleh Bruder Boker bukan terutama sebagai penghambat atau pengadang, melainkan pemacu untuk menghalau dan menerobos lebih jauh dalam meniti panggilannya.

***

Tekad kuat nan kencang itu rasanya sedikit pun tidak menimbulkan rasa heran sebab keinginan menjadi biarawan-misionaris SVD menggebu-gebu dalam diri buah hati pasangan petani sederhana Ayah Mikhael Tae Seran dan Ibu Rosina Hoar Nahak itu muncul saat dia masih duduk di bangku SMP. Saat itu, ujarnya, “Saya biasa diminta oleh seorang Frater TOP di Paroki Santa Theresia Kefamenanu untuk mencuci jubahnya. Saban hari saya terus memandang jubah itu, dan berandai-andai kalau-kalau saya memakai jubah ini pada suatu saat nanti.”

Pengandaian itu coba diwujudkannya bukan cuma dengan rajin belajar saat menjadi pelajar di SMP dan SMA, melainkan juga coba meneruskan kebiasaan unik yang ia jalani sejak SD yakni menjual koran, majalah dan novel guna mengumpulkan uang untuk sekolahnya. Kerja keras dan perjuangan tiada henti termasuk kalau diadang tantangan dan pesimisme menjadi bagian dari dirinya dalam mewujudkan keinginan awal itu.

Kerja keras itu jugalah yang ditunjukkan ketika mengeyam pendidikan baik di SDK Leob Kefamenanu yakni Ibu Kota Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) tahun 1993-2001, di SMP Katolik Putri Santo Xaverius Kefamenanu tahun 2001-2003, dilanjutkan ke SMK Kefamenanu 2004-2007, maupun di STSRD Visi Indonesia Yogyakarta tahun 2012-2015 hingga merengkuh gelar Ahli Madya Desain (A.M.Ds).

***

Ada sebuah kisah unik yang dialami Bruder Boker saat menggumuli panggilan pada masa novisiat. Suatu malam, katanya, ia dan 3 temannya diundang oleh salah satu keluarga yang rumahnya tak jauh dari Novisiat Sang Sabda Kuwu. “Kami bolos,” tuturnya lugu. Dalam perjalanan menuju rumah itu, mereka dipergok oleh seorang formator, tetapi bukan kepergok langsung, melainkan hanya oleh sebuah sorotan lampu senter pada kaki-kaki mereka dari dalam sebuah rumah salah seorang karyawan dekat novisiat juga. Formator itu sedang duduk bercerita dengan keluarga karyawan di dalam rumah.

Keesokannya, formator itu mengumumkan di kamar makan novisiat bahwa ada delapan frater/bruder novis semalam bolos entah ke mana. Beliau meminta orang-orang yang bolos itu menghadap dirinya dan berkata jujur. Karena tidak ada frater/bruder novis yang menggubris pengumuman dan permintaannya, beliau mengumumkan dan meminta lagi, lagi dan lagi. Tetapi tak satu pun frater/bruder yang menggubrisnya. “Yah, kalau yang dimaksudkan formator itu adalah kalian berempat, maka kalian harus terima apa saja keputusannya,” kata Bruder Boker menyitir perkataan tuan rumah yang ke rumahnya mereka bolos.

Tetapi bagi Bruder Boker dan tiga temannya, yang dimaksudkan oleh formator itu bukan perihal mereka berempat sebab toh yang dikatakan oleh formator bukan empat frater/bruder melainkan delapan. Mereka pun urung, tidak mengindahkan pengumuman dan permintaan itu, yah apa pun yang terjadi, sebab boleh jadi, formator hanya mendramatisasi “menyebut delapan padahal yang dimaksudkannya adalah empat”. Tidak sedikit pun mereka terganggu dengan dramatisasi itu. Dan hingga mereka menyelesaikan masa novisiat, mereka tidak diapa-apakan.

Setidaknya, pengalaman unik ini sempat menggoncangkan panggilannya, tetapi ia terus berharap dan yakin bahwa sekalipun melakukan kesalahan, Dia yang memanggilnya sejak usia 14 tahun itu akan selalu menolongnya. Karena itu, dalam pengikraran kaul kekalnya pada 15 Agustus 2016 ini, ia mengusung moto: “Tuhan Tolonglah Aku!” (Mat 14:30).

Dalam permenungannya, sebagaimana Simon Petrus memohon pertolongan Yesus saat dirinya hampir tenggelam, Bruder Boker menyadari bahwa (1) Allah selalu hadir di tengah berbagai gelombang kehidupan yang sudah dan sedang atau yang mungkin akan ia alami dalam menjalankan misinya. (2) Tuhan mengajak dirinya untuk menghadapi gelombang kehidupan bersama-Nya. Dirinya dipacu harus berani melangkah meskipun pijakannya bagai air yang bergelora. (3) Bruder Boker juga menyadari bahwa ketika dirinya mulai ragu atau takut tenggelam, hendaknya ia tidak ragu memohon “Tuhan tolonglah aku!”.

***

Kaul kekal akan segera diikrarkannya setelah 6 kali ia membarui kaul itu setiap tahunnya. Dan ia siap diutus ke mana pun pemimpin serikat mengutusnya sebagai seorang desainer.

Menurutnya, tidak ada yang berat dalam menjalani kaul-kaul kebiaraan kecuali kaul kemurnian. Tantangan kaul kemurnian di tengah dunia yang diwarnai praktik kedangkalan nilai-nilai seksualitas mendorong Bruder Boker untuk memandang perempuan bukan sebagai lawan hidup melainkan teman seperjalanan yang saling mendukung dan meneguhkan.

Sebab toh ke dalam Tuhan, melalui kaul-kaul itu, Bruder Boker menyadar diri sebagai pribadi yang telah menyerahkan diri secara total demi misi yang dipercayakan Tuhan terhadapnya melalui SVD. Itulah yang akan coba dijalankan dengan penuh rasa optimisme usai pengikraran kaul-kaul itu untuk selama-lamanya. Pesimisme pun diterobosinya secara terus-menerus.*** (Flores Pos, Sabtu, 13 Agustus 2016)

Baca juga: Empat Bruder SVD Akan Ikrarkan Kaul Kekal

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s