Teladan Itu Menggetarkan

Bruder Kandidus Sasi SVD

Bruder Kandidus Sasi SVD

  • Kisah Panggilan Bruder Kandidus Sasi SVD

Oleh Avent Saur

Catatan: Empat bruder akan mengikrarkan kaul kekalnya di Biara Santo Konradus (BSK) Ende pada 15 Agustus 2016. Mereka antara lain Bruder Kandidus Sasi SVD, Bruder Damianus Mau SVD, Bruder Fransiskus Talan SVD, dan Bruder Yohanes Nahak Taek SVD. Kisah tapak-tapak panggilan mereka akan disajikan di sini.

Kisah panggilan setiap insan menghadirkan hal-hal yang menakjubkan. Sekurang-kurangnya, itu dialami oleh Bruder Kandidus Sasi, biasa dipanggil Bruder Kansas.

Ketertarikan menjadi misionaris sejak masih kanak-kanak, tersandung ekonomi keluarga usai tamat SMP, melalang buana di Alor bekerja sebagai pramuniaga dan kondektur hingga kursus di bengkel misi, dan akhirnya menyusuri jalan menuju biara, tentu menjadi kisah panjang yang menakjubkan.

Sejak Kanak-Kanak

Pada usia kanak-kanak (5 tahun), ujarnya, ia mulai tertarik untuk menjadi seorang misionaris, imam khususnya. Ketertarikan itu timbul karena kesaksian hidup seorang misionaris Eropa, Swiss, Pater Anton Frey SVD yang saban hari melayani umatnya tiada lelah di Paroki Kristus Raja Haumeni, Keuskupan Atambua.

“Ia melayani umat tiada lelah di paroki itu yang terdiri dari 6 stasi kala itu. Kini sudah berkembang menjadi 10 stasi,” katanya, dan menegaskan, “teladan sang gembala umat inilah yang menggetarkan sanubari saya untuk mengikuti jejaknya.”

Getaran itu tersimpan rapih selama ia mengikuti jenjang-jenjang pendidikannya, bahkan ketika ia “berkeliaran” tanpa arah di tanah-tanah diaspora. “Berkeliaran tanpa arah” tentu bukan tanpa cerita.

Dalam keluarga petani sederhana, pasangan cinta Ayah Thomas Sasi (Alm.) dan Ibu Paulina Lake, konon Bruder Kansas lahir sebagai anak bungsu dari 6 bersaudara (tidak ada putri) di Oelbonak pada 15 Oktober 1982. Pendidikan sekolah dasar ia tempuh di SD Negeri Oelbonak pada 1989-1995 dengan membawa serta getaran panggilan khusus dalam sanubarinya. Sementara pendidikan lanjutan tingkat pertama ia gumuli di SMP Negeri 1 Kefamenanu pada 1995-1998.

Bersama Orang China dan Polisi

Adalah Oelbonak-Haumeni cukup jauh dari Kefamenanu, Ibukota Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Masuk daerah ibu kota, saat SMP itu, bagi seorang anak seperti Kansas setidaknya mengundang rasa minder. “Apalagi saya harus tinggal dalam keluarga orang China, di mana dua kakak kandung saya juga bekerja sebagai kondektur,” katanya.

Rasa at home di rumah orang China tentu sangat diharapkan oleh kakak-kakak dan orangtua. Tapi pengalaman Kansas di “rumah China” itu sungguh jauh dari harapan. Cuma setahun dia betah di rumah itu. Mengapa? “Banyak waktu belajar tersita, sibuk urus pekerjaan rumah orang China itu.”

Lalu mau ke mana? Bukan karena hubungan darah, adalah ke rumah seorang polisi, Kansas dititipkan orangtuanya. Disiplin memang, karena keluarga itu bernuansa militer, tetapi sungguh bijaksana dan sederhana.

Dua tahun tinggal di dalam rumah dan keluarga seorang anggota militer tentu tidak tanpa persoalan. Tapi bagi kita, rasanya agak heran, dalam refleksi tertulisnya, Kansas coba meletakkan pelbagai persoalan itu di atas dasar perikop Kitab Suci saat itu, antara lain Filipi 4:13: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”

Di Alor, dari Toko ke Toko

Getaran panggilan selalu mengguncang Kansas dan ingin memenuhi getaran itu usai tamat SMP. Tetapi tidak demikian faktanya. Keadaan ekonomi keluarga yang tergolong miskin menjadi salah satu batu sandungan yang besar nan kuat.

“Kami tidak ada sapi, babi, kambing, ayam atau tanaman jangka panjang seperti kemiri, mete, cokelat, cengkih atau juga fanili. Kami cuma miliki pohon asam. Tentu serba susah.”

Menanggapi keadaan serba kepepet itu, ada dua hal yang dipikirkannya. Setidaknya ia mesti mencari uang selain untuk membantu orangtua, juga membiayai dirinya bersekolah di tingkat SMA. Usai berembuk dengan ayah, tanpa diketahui ibunya, ia “melarikan diri” ke Pulau Kenari alias Alor.

“Di Alor, saya jalan dari toko ke toko untuk mencari lowongan kerja, sekurang-kurangnya yang membutuhkan pekerja berijazah SMP,” ujarnya sambil menambahkan, “Ini berlangsung selama kurang lebih sebulan.”

Oleh bantuan kenalan, ia mulai bekerja pada sebuah toko. Namun seperti usia menganggur, demikian juga usia kerjanya di toko pertama itu. Alasannya, majikannya terlalu cerewet, setiap hari tak pernah tidak marah. Lalu ia ke toko lain. Di toko itu, ia juga tidak betah lantaran bekerja sendirian dan rangkap dalam toko yang cukup luas. Rasanya, lelah dan berat.

Ia pun minggat, dan bekerja pada toko lain lagi. Lagi-lagi, di sana ia tidak bertahan, lalu kembali ke toko sebelumnya, tetapi juga tidak bertahan. Lelah memang, bahkan stres juga. Sempat terpikirkan untuk tidak bekerja lagi sebab getaran panggilan yang tertanam semenjak kecil masih terasa. Namun seakan-akan ia tidak menggubrisnya.

Ia pun coba bekerja lagi, kali ini sebagai kondektur. Tetapi ini juga tidak bertahan lama. Beberapa kakak sekampung diaspora Oelbonak-Haumeni di Alor sempat menghajarnya dengan teguran keras sebab Kansas dinilai seperti kutu loncat di tanah rantau.

Bukan karena hajaran orang-orang sekampung itu, melainkan terutama perihnya hidup adalah dasar yang mendorong Kansas untuk terus mencari pekerjaan yang setidaknya membuat ia merasa nyaman dengan hidupnya.

Sekali waktu, ia diajak sekali lagi oleh orang sekampungnya untuk bekerja di toko, menangani mesin fotokopi. Agak betah ia bekerja di situ, bahkan majikan memercayai dia untuk mengelola mesin tersebut. Untuk beberapa waktu, ia merasa nyaman. “Saya pernah izin minta pulang kampung, tapi majikan tidak mengabulkannya.”

Ketidak-kabulan ini menjadi awal cerita tersendiri bagi Kansas. Ia pun mulai berpikir melarikan diri dari tempat kerjanya. Ya, sungguh ia melarikan diri. Ia menipu majikan, ingin ke pelabuhan untuk mengantar titipan ke kampung via teman-teman yang saat itu juga ke kampung.

“Saya siap pulang kampung bersama teman-teman. Barang-barang bawaan, saya bereskan, dan teman-teman saya mengambilnya melalui pintu belakang tempat kerja saya. Saya melewati pintu depan dan meminta izin majikan untuk mengantar titipan ke pelabuhan.”

“Hati saya spontan melonjak kegirangan, ketika majikan izinkan. Padahal, saya kabur untuk seterusnya.”

Majikan tentu tidak mencurigai sedikit pun sebab sebagian gajinya masih tersimpan rapih dpada majikan sekalipun tetap ada kecemasan kalau-kalau majikan itu mencarinya dan mendapatinya di kapal. Tapi ia “selamat” hingga kampung.

Pendidikan Lagi

Entah dibiayai sendiri atau orangtua, Kansas coba mengenyam pendidikan nonformal di lembaga Kursus Pertukangan Bengkel Misi Santo Yosef Nenuk, Atambua. Durasi yang mesti dijalaninya selama tiga tahun toh ia hanya sampai setahun saja. Awalnya, ia jatuh sakit hingga dirawat di rumah sakit. Ketika sehat dan sepulang rumah, ia meninggalkan kursus itu, kemudian memasuki lembaga pendidikan formal.

“Dalam kursus itu kan nantinya saya akan terima hanya sertifikat, sementara kalau SMA formal kan terima ijazah. Ijazah dibutuhkan untuk mewujudkan getaran panggilannya.”

Di SMAK Warta Bakti Kefamenanu, Kansas memulai pendidikan formal itu yang seusai tamat SMP, pada 1998 hingga 2001 melalang buana tanpa arah yang jelas. Di sekolah itu, 100 persen siswa-siswinya beragama Katolik. Satu hal yang tentu sangat mencemaskan, ketika untuk memasuki sekolah, ia mesti mengikuti “ujian masuk”. “Saat testing, saya isi-isi saja soal-soal itu, ternyata lulus juga.”

Bagai disambar petir siang bolong, saat ia duduk di bangku kelas 2 SMA, Ayah Thomas Sasi dipanggil Tuhan untuk selamanya. Sungguh ia terpukul. Namun dengan tertatih-tatih, ia terus bergumul dengan pendidikannya. “Dia yang memberi dan Dia pula yang mengambil,” katanya menyitir teks biblis. SMA dijalaninya hingga 2004.

Usai tamat, ia pun melirik pelbagai serikat religius demi mewujudkan cita-citanya menjadi imam. Ah, ternyata ia beralih dari menjadi imam ke menjadi bruder. Ia pun melamar dan diterima untuk memulai mewujudkan cita-cita itu di Biara Santo Konradus (BSK) Ende.

Namun hal ini bukan mulus-mulus saja. Sekali-kali, sandungan keadaan ekonomi keluarga dihadapinya. Ia pun melamar bekerja sebagai karyawan di Wisma Emaus Atambua, juga menjalani kursus komputer pada 2004 hingga Mei 2006. Teman-temannya yang lulus saat testing masuk bersamanya mendahului ia ke BSK Ende.

Getaran Telah Mewujud

Bekerja sebagai karyawan misi pun tak cukup untuk mengumpulkan uang bagi pemenuhan biaya pendidikan di BSK Ende. Ia selalu berkeluh kesah, dan syukurlah, keluh kesahnya didengarkan Tuhan melalui orang-orang di sekitarnya. Adalah Romo Hery Gerad Fernandez, Praeses Seminari Tinggi Tahun Orientasi Rohani (TOR) Lo’o Damian Emaus, Atambua, yang mengatasi keluh kesahnya dengan memberikan beberapa sen duit.

Mulailah ia menempuh perjalanan dari Atambua ke Kupang ditemani kakaknya pada 2006. Namun ketika sampai di Kupang, jadwal keberangkatan kapal pada waktu-waktu itu tidak ada. Ia pun berkeluh kesah lagi, dan sekali-kali Tuhan mendengarkannya. Adalah Romo Domi Faot (alm.), Pastor Paroki Naikoten, yang membantu dia untuk menyediakan tiket pesawat Kupang-Ende. Ia pun memulai pendidikan dan pembentukan pada masa postulat di BSK Ende pada 2006 hingga 2007 bersama 18 temannya baik yang berasal dari daratan Timor maupun Flores-Lembata.

Tidak ada banyak kisah yang Bruder Kansas utarakan perihal jenjang-jenjang pembentukan dan pendidikan dasar dalam SVD. Setidaknya itu berarti bahwa perjalanannya menuju pengirarkan kaul kekal pada 15 Agustus 2016 “baik-baik saja”. Tidak ada tantangan yang berarti, juga tidak ada hal-hal yang istimewa, sebab mungkin pelbagai hal yang berarti dan istimewa telah dialaminya ketika masih berada di luar biara, dan itu semua dijalaninya bagai air mengalir dengan kualitas diri apa adanya dan dalam keadaan yang luar biasa.

Usai bergumul dengan pelbagai pendidikan dan refleksi pada masa postulat, ia menuju Novisiat Santo Yosef Nenuk, Atambua, pada 2007-2009. Pelbagai tantangan pada masa ini dilewatinya dengan gemilang hingga diperbolehkan mengikrarkan kaul pertama pada 15 Agustus 2009 di Nenuk.

Dengan semangat baru hidup dalam kaul-kaul kebiaraan, Bruder Kansas kembali ke BSK Ende untuk menjalani masa Yuniorat selama kurang lebih dua tahun (2009-2011). Mulai pertengahan tahun 2011, Bruder Kansas memulai pergumulan intelektual di Sekolah Tinggi Pastoral Atma Reksa (Stipar) Ende hingga diwisuda pada 10 Juli 2015 dengan keahlian “Kateketik Pastoral”.

Entah di mana pun tugasnya usai mengirarkan kaul kekal, Bruder Kansas akan menjadi Bentara Sabda yang menerangi iman dan pengetahuan iman umat dengan pelbagai ilmu teologi pastoral dan kateketik yang dimilikinya dalam semangat moto yang diambil dari 1 Samuel 16:7 “Bukan yang Dilihat Manusia, yang Dilihat Allah”. Dan akhirnya, “Aku tidak akan mengingkar janjiku sampai ajal menjemputku nanti,” katanya.*** (Flores Pos, Kamis, 11 Agustus 2016)

Baca juga: Empat Bruder SVD Akan Ikrarkan Kaul Kekal

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s