Tolak Tunduk pada Ajakan Ayah

Bruder Damianus Mau SVD

Bruder Damianus Mau SVD

  • Kisah Panggilan Bruder Damianus Mau SVD

Oleh Avent Saur

Catatan: Empat bruder akan mengikrarkan kaul kekalnya di Biara Santo Konradus (BSK) Ende pada 15 Agustus 2016. Mereka antara lain Bruder Kandidus Sasi SVD, Bruder Damianus Mau SVD, Bruder Fransiskus Talan SVD, dan Bruder Yohanes Nahak Taek SVD. Kisah tapak-tapak panggilan mereka akan disajikan di sini.

Pengalaman tidak lulus ujian nasional bukan cerita baru untuk para pelajar. Tapi bagaimana bereaksi terhadap kenyataan itu tentu bervariasi pada setiap pelajar.

Bruder Damianus Mau, biasa disapa Dami, mengalami kenyataan itu pada 2005 bersama 19 temannya. Bagi banyak anak remaja, hal itu sangat mengguncangkan dan bahkan menyemburkan diri ke dalam situasi tertekan. Tapi bagi Bruder Dami, hal itu terutama dipandang sebagai tantangan bagi perwujudan cita-citanya. Dan ia pun mesti menerobos tantangan itu.

Kisahnya, pada awal tahun 2005, niatnya menjadi imam bangkit. Ia melayani niat itu dengan menemui orang-orang terkait di Seminari Tinggi Tahun Orientasi Rohani (TOR) Lo’o Damian Nenuk, Belu. Namun usai menulis lamaran untuk memasuki pendidikan imam projo, ia mengurung niatnya, menyimpan lamarannya, dengan pertimbangan “kalau-kalau saya belum pasti lulus ujian nasional”. Apa yang diramalkannya, terjadi. Tidak lulus!

“Lebih baik, kamu bantu saya di kebun,” ujar Bruder Dami menyitir ajakan ayahnya kala itu. Kalau Bruder Dami menuruti ajakan ayah  Yohanes Mau (alm.) itu, maka pintu kepada perwujudan niat menjawabi panggilan khusus tentu tidak terbuka. “Saya tetap ingin bersekolah. Kalau Bapak tidak mau mengongkos, biar Ibu saja yang mengurus saya,” katanya menanggapi ayah, usai bersama Ibu Ismina Ana Boe, diam-diam berembuk melanjutkan sekolahnya.

***

Pada tahun ajaran baru 2005/2006, pendidikannya di bangku kelas III SMA pun dimulai ulang. Alhasil, setelah berjalan setahun, ia dinyatakan lulus! Namun kelulusan itu tidak mengantar Dami untuk segera memulai pendidikan terkait cita-citanya lantaran adangan faktor ekonomi. Setahun usai tamat SMA, ia bekerja membantu orangtua yang notabene petani sederhana. Setiap hari, anak kedua dari enam bersaudara ini meniti hidupnya di kebun, mengurusi pelbagai tanaman perdagangan antara lain mete, kelapa dan kemiri. Ia juga berburuh pada proyek rehabilitasi gedung SMPK Nela, Belu.

Namun membantu orangtua dan berburuh tidak membuat Dami betah di rumah dan kampungnya di kilometer 10 arah barat Kota Atambua, Kabupaten Belu. Niat yang pernah muncul dua tahun sebelumnya selalu menggema di kedalaman sanubarinya. Dami coba menjawab bisikan itu, memasuki kompleks Biara Santo Yosef Nenuk, Belu, untuk mencari tahu perihal bukan lagi menjadi imam, melainkan bruder.

Inilah titik awal bagi terbukanya pintu biara bagi putra kelahiran Halilulik, 13 April 1986 ini. Ia menulis laraman menjadi bruder, mengikuti ujian masuk, lalu akhirnya “mendengarkan kabar lulus, dan lulus”.

***

Ziarah hidupnya di biara dimulai pada 27 Juli 2007 ketika tiba di Biara Santo Konradus (BSK) Ende bersama 23 temannya yang berasal dari pelbagai daerah di NTT. Masa postulat di biara itu dijalaninya selama setahun, kemudian melanjutkannya di Novisiat Sang Sabda Kuwu, Manggarai, selama dua tahun, hingga mengikrarkan kaul pertama dalam SVD pada 2010.

Jalan itu terus ditapakinya dengan santai nan serius, sederhana nan mewah dengan pelbagai dinamika pembentukan dan pendidikan menuju mutunya kepribadian dan murninya panggilan. Usai mengikrarkan kaul pertama, ia menjalani masa yuniorat di BSK Ende, kurang lebih 2 tahun, 2010-2012.

Ketika tiba saatnya untuk memulai masa sebagai student, bukan hanya karena kebutuhan serikat, melainkan juga karena minat dan niat, Bruder Dami memilih mendalami ilmu pertanian. Pengalamannya membantu orangtua secara khusus mengurusi kebun kemiri, mete dan kelapa membangkitkan kenangan dan mendorongnya untuk secara serius menggeluti bidang pertanian.

Ia memulai studi pertanian pada 2012 di Perguruan Tinggi Politeknik Pertanian Negeri Kupang dengan konsentrasi Bidang Manajemen Pertanian Lahan Kering. Dinamika pengalaman studi dan kehidupan di Biara Bruder Gregorius Obufu, Kupang, dilewati dengan semangat yang selalu mendorongnya untuk terus melangkah maju hingga meraih gelar Ahli Madya (A.Md) pada 3 Oktober 2015.

Bagi Bruder Dami, panggilan adalah sesuatu yang alamiah, yang muncul secara spontan tetapi mesti ditanggapi dengan sepenuh hati dan jiwa serta segenap pikiran. Tanggapan seperti itu mengantarnya kepada kesadaran teologis bahwa panggilan itu sesungguhnya berasal dari Allah. Hal inilah yang ia peroleh dalam seluruh pergumulan panggilannya, yang didalaminya lagi secara lebih baik saat retret agung di Seminari Tinggi Ledalero, awal Juli hingga awal Agustus 2016 bersama kawan-kawannya.

Pada pengikraran kaul kekalnya, 15 Agustus, Bruder Dami memilih moto: “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu” (Luk 1:38). Seperti Maria, ia membiarkan kehendak Allah terjadi dalam setiap langkah panggilan dan karyanya.*** (Flores Pos, Jumat, 12 Agustus 2016)

Baca juga: Empat Bruder SVD Akan Ikrarkan Kaul Kekal

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s