Melampaui Ketersentuhan

nenek-odgj

Foto ini adalah hasil screenshot di kronologi akun Facebook.

Oleh Avent Saur

Ketika foto seorang nenek yang terangkul (sebetulnya nenek itu merangkul) dikirim ke kronologi media sosial Facebook, banyak orang menyatakan “ketersentuhannya” (hatinya tersentuh) oleh foto itu. Seiring dengan hati tersentuh, segelintir orang menyatakan sempat meneteskan air mata (pilu dan kagum).

Ada teman Facebook yang menangis lantaran prihatin pada kondisi nenek itu. Ada juga yang menangis karena oleh gambar itu mereka dibawa ke masa lampau mengingat nenek mereka “yang baik” atau juga “yang kurang” mendapat perhatian saat masih hidup.

Di antara 49 pengomentar dan 598 penyuka serta 9 pembagi, mayoritas orang berkonsentrasi pada saya sekaligus mengatakan “kamu hebat”, dan lain-lain. Ya, kita lupa bahwa kita semua manusia biasa atau ciptaan fana (sebab hanya Tuhan yang hebat atau pencipta kekal). Tentu kita semua menyadari itu.

Maksud pemasangan foto itu sebetulnya melampaui hal-hal demikian. Ia melampaui ketersentuhan pada hati, melampaui tetesan air mata, melampaui sekadar berkomentar, melampaui penyukaan atau juga melampaui pembagian serta melampaui sekadar pujian (sekalipun itu semua wajar adanya).

Lalu apa? Setelah itu semua, mestinya kita maju selangkah (lebih baik lagi beberapa langkah) untuk mewujudkan ketersentuhan itu dalam aksi yang nyata. Aksi nyata tidak mesti mirip (apalagi sama) merangkul seorang nenek yang menderita gangguan jiwa bertahun-tahun atau yang ditelantarkan bertahun-tahun juga, tetapi cukup dengan “merangkul” orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan pertolongan.

Dalam konteks memasuki carut marut hidup orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), langkah apa yang mesti diwujudkan? Mungkin langkah yang pertama dan terutama ini terkesan agak ekstrem karena menyangkut aksi yang hasilnya tidak langsung tampak, yakni “berdoa”. Ya, menyelipkan ODGJ dalam doa-doa privat (atau kolektif). Mudah dan ringan, tapi kadang sulit dilakukan.

Langkah lainnya adalah mencari solusi untuk perawatan dan pengobatan, sekalipun di mana-mana keterbatasan sarana kesehatan patut disesalkan (ODGJ tersingkir secara medik dan kebijakan politik). Dalam konteks Kelompok Kasih Insanis (KKI) yang secara khusus memedulikan orang sakit jiwa, mencari informasi dan mendatakan ODGJ serta menginformasikannya kepada pengurus KKI adalah sudah dengan sendirinya kita masuk ke dalam lingkaran visi-misi dan kebijakan KKI (bukan kepentingan KKI, melainkan kepentingan kemanusiaan-solidaritas, senasib sepenanggungan).

Di antara 49 pengomentar dan 598 penyuka serta 8 pembagi, berapa orang yang melangkah di jalan ini? Sebuah pertanyaan retoris, bukan observatif.

Namun diyakini bahwa kita yang memandang foto itu mengalami pembaruan cara pandang terhadap ODGJ. Bahwasanya, ODGJ adalah manusia seperti kita yang mesti dipedulikan. Bahwasanya, orang dipedulikan bukan terutama karena prestise dan prestasinya, bukan pula karena peran sosial dan tanggung jawabnya yang besar, dan bukan karena status sosial atau produktivitasnya, melainkan semata-mata karena martabatnya sebagai manusia. Apa pun kondisinya, sebagai manusia, ia mesti dihormati, bukan sebaliknya ditelantarkan, ditempatkan pada pinggir perhatian, dan lain-lain.

***

Perihal foto itu, ada kisahnya. Pada Minggu, 11 September 2016, saya dan seorang teman merayakan misa di kapel lingkungan Watumbena, Paroki Roworeke, Keuskupan Agung Ende, Pulau Flores, Provinsi NTT. Usai misa, kita mencari informasi soal adanya ODGJ di kampung itu. “Ada dua orang,” kata umat.

Di rumah keluarga ODGJ, kita bercerita dan meminta informasi riwayat sakit, tentu juga identitasnya. Demikian juga kita berikan pencerahan kepada keluarga tentang betapa manusia dihormati bukan karena kualifikasi tertentu, melainkan karena martabatnya sebagai manusia citra pencipta (imago Creator).

Sebagaimana kebiasaan anggota KKI, usai bercerita dengan keluarga, kita menemui ODGJ.

“Beliau yang sakit itu di mana?”

“Di rumah tersendiri, sendirian tinggal”.

“Kami mau temui dia.”

“Jangan!”

“Mengapa?”

“Bukan di rumah, tapi pondok, ya gubuk. Reot, kotor motor. Dia sendiri tidak pernah mandi, berbau, menjijikkan.”

“Ahhh…. Bukankah kami telah mencerahkan, manusia ditemui bukan karena apa-apanya, melainkan semata-mata karena martabatnya. Bukankah ia manusia?”

“Aduhhh, kami malu.”

“Tanggung saja malunya. Ok?”

Letak gubuk itu tak jauh dari rumah keluarganya. Ada dua gubuk lain yang sudah rubuh.

“Dua gubuk ini pernah ditinggal nenek ini, lalu ditinggalkan karena sudah usang. Lalu bangun gubuk ketiga, sekarang dia tinggal,” kisah mereka.

Ketika mendekati gubuk, dari dalam gubuk, nenek itu berteriak bernada marah dan berusaha mengusir. Sekalipun teriakan dan usiran itu terasa sebagai penghalang, tetapi kita memanggil namanya, memanggil lagi namanya dengan nada merendah, dan memanggil lagi namanya berkali-kali. Alhamdulillah, luluh juga hatinya.

“Aduh… padahal anak saya. Mari masuk! Saya tinggal di sini. Mari!” teriak sang nenek yang mengintip dari balik pintu. Lalu ia membuka pintu gubuk.

Perkataan ini adalah celah untuk memasuki kehidupannya, merasakan deritanya, dan membuka diri untuk mewujudkan kepedulian kita.

“Mengapa tinggal di sini? Gubuk reot ini. Ini cocok untuk kandang kambing. Nenek bukan kambing, melainkan manusia. Mesti tinggal di rumah itu.”

Lalu ia jatuh ke pangkuan kita, dan menangis sejadi-jadinya. Membolak-balik badannya di atas pangkuan dan ingin lebih lama. Semakin erat dan kuat. Kita cuma memandangnya dan tersenyum.

Begitulah kisah adanya foto itu.

***

Entah hidup kita sudah mapan atau nyaman, atau juga sebaliknya, kita mesti keluar dari diri sendiri, mengukir jejak yang baik selama kita hidup di dunia fana ini. Ini persis petuah Paus Fransiskus ketika mengunjungi Polandia, Eropa Timur, yang menutup pintu terhadap jutaan migran dari beberapa negara liga Arab (27-31 Juli 2016): “Kita dilahirkan ke dunia ini, bukan hanya untuk diri kita sendiri, melainkan untuk orang lain. Diri yang terbuka. Kita mesti meninggalkan jejak yang baik di dunia.”

Ya melampaui ketersentuhan supaya orang-orang tersisih merasa bahwa kita betul-betul tersentuh. Bukan untuk dilihat orang, melainkan itulah bukti tanggung jawab moral kita terhadap sesama sebagai imago creator. Bukan juga karena memiliki kelebihan atau kehebatan atau apa pun sebutannya (sebab hanya Tuhan yang hebat), melainkan karena hanya itu saja, “tanggung jawab moral”. Kita semua sanggup (dan mesti) melakukannya.*** (Kolom “Kutak-Kutik”, Flores Pos, 15 September 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in FEATURE, OPINI and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s