“Flores Pos” dan Pencerahan Demokrasi

flores-pos

Wajah sederhana Flores Pos edisi HUT ke-17.

Oleh Romo Silvian M. Mongko

Menulis

Romo Silvian M. Mongko, Rohaniwan Katolik, Aktif Menulis di Harian Flores Pos

Memperingati kelahiran Harian Umum Flores Pos (FP) di usianya yang ke-17, rasanya tak bisa dilewatkan begitu saja. Lebih-lebih buat pembaca yang setia menemani kopi sore dengan suguhan informasi-informasi bernas dari media ini.

Bagi sidang pembaca yang kritis, mungkin lebih dari sekadar membaca. Ada sesuatu yang selalu memantik semangat untuk ‘melahap’ sajian berita atau reportase dari media yang satu ini. Terlepas dari satu dua kendala teknis soal distribusi, media ini cukup intens menyajikan informasi segar bagi masyarakat Flores-Lembata. Lebih dari sekadar menyajikan berita, FP selalu menghadirkan informasi secara seimbang, kritis, dan independen.

Saya kira, di tengah semakin sengitnya persaingan dan himpitan industrialisasi media, harian FP tetap konsisten hadir dengan semangat transformatif melalui informasi-informasi yang kritis. Nah, ini justru menjadi kekuatan media ini di tengah badai jual-beli berita dan kepungan digitalisasi informasi.

Media Penyadaran Kritis

Dengan kekuatan penyajian informasi yang kritis dan independen, sejauh ini FP sudah terlibat dalam proses pencerahan demokrasi lokal. Bagaimanapun, pers adalah salah satu pilar penting bangunan demokrasi. Dan media FP telah mengambil bagian untuk membangun kesadaran kritis civil society.

Demokratisasi selalu mengandaikan masyarakat kritis yang sadar akan hak dan kewajiban mereka. Di sinilah peran paling penting dari informasi media. Dalam berbagai kajian paling mutakhir, ekspansi paling progresif demokrasi sama sekali tidak terletak pada poros pelembagaan politik, tetapi terutama berhubungan dengan transformasi supercepat ruang sosial dengan basis teknologi informasi (Max Regus, Media Indonesia, 2016).

Perubahan sosial sangat bergantung pada basis informasi sebagai kekuatan pendorongnya. Pada titik ini, media ikut berperan menggerakkan  perubahan sosial. Persis di sinilah peran edukasi politik media, yang tak lain, suatu keterlibatan yang sadar untuk membangun keadaban publik dengan terlibat aktif memerjuangkan hak-hak politik di hadapan laku konspiratif kekuasaan.

Warga yang selalu mengikuti perkembangan pemberitaan media sudah tentu tahu banyak tentang geliat politik dan ekonomi lokal yang merupakan elemen-elemen kunci untuk suatu partisipasi politik. Masyarakat dapat berperan aktif memerjuangkan hak-hak politik dan ekonomi mereka jika mereka memiliki akses yang sama terhadap sumber-sumber informasi. FP telah berperan penting di dalamnya melalui sajian-sajian informasi yang seimbang dan kritis.

Peran Harian FP sebagai media penyadaran kritis sebetulnya bergerak ke dua kutub, yakni (1) membangun kesadaran kritis publik akan perilaku kekuasaan  yang sering secara sadar mengorbankan hak-hak rakyat bawah; dan (2) usaha untuk menobat penguasa yang berperilaku serakah.

Bagi saya, dari sudut pandang pembaca yang haus akan informasi soal tata kelola kekuasaan demi melayani hak-hak publik, FP selalu hadir dan menyajikan informasi kritis dan independen. Bahkan, ketajaman nurani sosial-politis warga turut dibentuk oleh pemberitaan media. Saya amat yakin, media ini telah berhasil membangunkan kesadaran kritis siapa pun yang memiliki kepekaan dan keprihatinan sama terkait penindasan hak-hak masyarakat karena laku curang-koruptif penguasa.

Satu bentuk permainan kuasa yang cukup kuat daya serakahnya saat ini ialah pencaplokan hak-hak publik dari sumber-sumber pembangunan. Para predator lokal begitu cakap mengambil keuntungan dari hak-hak publik dengan memanfaatkan daya tipu pembangunan untuk kepentingan segelintir orang. Wajah hipokrisi kekuasaan telah menjadi pertunjukan sehari-hari, di dalamnya publik dengan mudah melihat kesenjangan antara ucapan dan perilaku kekuasaan. Distribusi kekuasaan dari pusat ke daerah melalui jargon ‘desentralisasi’ melahirkan aneka kontradiksi pembangunan dan paradoks demokrasi di daerah.

Sejalan dengan invansi kekuasaan itu, sumber daya ekonomi, politik dan aneka kearifan lokal dicekik habis-habisan oleh mereka yang mengambil keuntungan dari kemurahan kekuasaan. Maka ketidakadilan, eksklusi sosial, kesenjangan ekonomi, serta tindak korupsi yang kian culas, semakin tak terkendalikan.

Pada titik ini, media FP telah berperan kritis untuk menjadi corong informasi bagi masyarakat. Media ini tetap menjadi suara kritis untuk menggonggong kebekuan nurani penguasa. Independensi demikian tentu menjadi salah satu unsur pembeda yang begitu kuat mencirikan media FP dari waktu ke waktu.

Misi Kemanusiaan

Hal yang tentu juga amat langka ditemukan saat ini ialah bagaimana media ini menjawabi keprihatinan publik terhadap pergumulan sosial kemanusiaan orang-orang kecil. Karena perilaku kekuasaan lokal yang sering menghadirkan ketidakadilan dan pembajakan hak-hak masyarakat kecil, maka banyak orang menjadi korban, bahkan kemanusiaan pun kerap ditelantarkan. Tekanan ekonomi karena pemiskinan sistemik, perbudakan atas kemanusiaan melalui pemerasan tenaga kerja, dan pengucilan peran sosial, ekonomi, dan politik orang-orang kecil, sampai saat ini, telah menjadi bagian dari misi kemanusiaan media FP.

Selain memertegas kontradiksi dan kesenjangan yang ada, yang terjadi karena permainan kuasa di tingkat lokal, pemberitaan media ini telah menempatkan martabat manusia sebagai nilai yang mesti dijunjung dalam situasi apa pun. Maka betapa sering media ini mengungkapkan secara lugas kebobrokan penguasa lokal serta menginvestigasi dugaan pelanggaran hak-hak asasi manusia oleh orang-orang kuat. Pembongkaran terhadap kejahatan penguasa tentu serentak pula merupakan advokasi terhadap hak-hak sipil-kemanusiaan. Telah sekian sering media ini mengungkapkan kasus-kasus kekerasan dan pemerasan hak-hak orang kecil oleh pelaku-pelaku bisnis dan kekuasaan di aras lokal.

Bahkan agak mengharukan, belakangan ini FP cukup intens memerjuangkan nasib orang-orang yang dikucilkan secara sosial; mereka yang sering mendapat label ‘abnormal’ karena kelainan psikis (gila). Saudara seperjuangan saya, Pater Aven Saur SVD, redaktur pelaksana media ini, sudah terlibat banyak dalam karya kemanusiaan untuk mengembalikan mereka yang sebetulnya ‘digilakan’ lebih karena stereotip sosial. Menurut saudara yang cukup lihai ‘menjinakkan’ orang ‘gila’ ini, banyak faktor kegilaan terjadi karena mereka dijauhkan dan dikucilkan oleh perlakuan orang sehat.

Di tangan Pater Aven, tak ada orang gila. Yang ada ialah mereka yang ‘digilakan’ korban perlakuan orang sehat. Sebab itu, bagi Pater Aven, menolong orang ‘gila’ harus dimulai dari perubahan mindset orang sehat. Berkat cara pandang yang positif terhadap kemanusiaan yang sama, banyak dari mereka telah tertolong dan dikembalikan kepada peran sosial semula. Sebuah perjuangan demi kemanusiaan. (Perihal orang gila, bisa tengok salah satu artikel ini: klik)

Apa yang telah diuraikan di atas tentu menjadi bagian tak terpisahkan dari agenda politik demokrasi. Demokratisasi memungkinkan pembongkaran terhadap kejahatan politik kemanusiaan justru karena masyarakat sipil menyadari berbagai kepincangan sosial politik yang terjadi. Dan media sekelas FP hadir untuk mempertajam kesadaran warga sekaligus menyadarkan perilaku jahat pelaku. Kehadiran media massa memungkinkan semua perilaku jahat kekuasaan menjadi terang-benderang secara publik, sehingga dengan itu publik juga dapat dengan sadar melontarkan kritik dan kontrol atasnya. Tanpa peran itu, negara akan menjadi sangat angker bagi warganya sendiri.

Dalam kawalan media massa, demokrasi dapat menggerakkan misi emansipasi. Perjuangan untuk kemanusiaan telah menjadi agenda terselung dari sekadar penyajian berita setiap hari. Dan pembangunan demi kesetaraan hak-hak sosial, ekonomi, dan politik masyarakat Flores-Lembata akan terus menjadi isu-isu utama demokrasi ke depan berkat pemberitaan yang akurat media FP. Untuk itu, aspek kritis, independen serta akurasi data informasi mesti selalu menjadi kekuatan media ini ke depan.*** (Flores Pos, 13 September 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s