Orang Terpasung Menjerit, di Manakah Kemerdekaan?

terpasung

Orang terpasung

Oleh Avent Saur

Di tengah kemeriahan Hari Kemerdekaan bangsa ini, masih ada orang-orang tak merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya akibat dipasung atau dikurung dan dibiarkan di jalan.Kompas.com (18/8)

Peringatan kemerdekaan negara kita sudah dilalui. Dan sudah 71 kali kita acarakan. Dalam peringatan itu, kita meluapkan sukacita lantaran bebas dari kolonialisme, bukan cuma dalam rupa upacara bendera, melainkan juga “memperalat” (?) hari kemerdekaan untuk mempromosikan budaya dan objek wisata.

Misalnya, pekan Kelimutu di Ende, lomba dayung perahu di Pantai Cepi Watu di Manggarai Timur, juga tarian adat caci. Di tempat lain, tentu ada juga, semisal pertunjukan drum band, dan lain-lain. Eh, ada kelompok drum band di Kota Ende yang pulang dengan membawa kekecewaan lantaran tidak mementas tuntas, ya lantaran panitia membatasinya (belum merdeka?).

Mungkin Anda pernah baca di media massa, ada pemimpin daerah yang mengingatkan warganya bahwa upacara peringatan kemerdekaan dengan gegap gempita itu bukanlah sekadar hura-hura. Setidaknya, ini berarti ia sadar bahwa ada sesuatu yang hura-hura bahkan pura-pura dalam acara-acara itu.

Selebihnya, itu semua menguras duit negara (rakyat), memeras tenaga dan menyita perhatian serta (untuk sementara atau memang sudah biasa) melupakan kepentingan rakyat.

Dalam peringatan itu, juga ada pidato seputar refleksi kemerdekaan sekaligus bercerita (melaporkan) secuil kemajuan (bersyarat) serta pelbagai rencana pembangunan. Namun adakah momen itu dimanfaatkan untuk mengakui kekurangan dan meminta maaf kepada rakyat? Tidak, sekali lagi tidak!

Karena itu, kalau boleh agak ekstrem, tanpa menegasikan hal-hal positifnya (biarkan orang lain yang melihat itu), semuanya itu adalah ritualisme dan formalisme kalangan elite bangsa atau daerah antara lain para birokrat papan atas, tengah dan papan bawah, tentu di bawah komando orang nomor satu (dan dua) di daerah.

Lebih dekat dengan ritualisme dan formalisme adalah hedonisme (yang mungkin tidak kentara karena memakai tameng legal dan wajar), bersama kerakusan birokrat yang sudah merdeka dengan menerima gaji bulanan, bahkan gaji 13 dan sekarang ada gaji 14 (sudah bergaji pun, mereka tetap korup!).

Benar bahwa banyak rakyat kecil terlibat, lebih tepatnya dilibatkan, dalam pelbagai bentuk peringatan kemerdekaan ini. Tetapi ini didasari anggapan bahwa upacara peringatan yang diselenggarakan birokrat itu dinilai benar untuk ke dalamnya rakyat kecil terlibat.

Karena itu, tambah satu lagi, upacara itu pun semacam sebuah aktivitas “melankolis” yang menidurkan rakyat dalam kondisinya yang tak ubah-ubahnya kontras dengan substansi kemerdekaan. Orang teralienasi dari kemerdekaan itu, atau lebih tepat seturut term Karl Marx (filsuf Jerman), itu semacam candu yang membuat orang terlena dan malah mengagumi (sekaligus melupakan kesalahannya yang cukup serius) pemimpin dan kru-krunya yang tampil gagah di panggung upacara.

***

Agak risih rasanya mengatakan ini, tetapi tentu bukan tanpa alasan. Dan mengatakan seterang-terangnya pun, belum tentu orang “ambil pusing peduli” dengan rasa itu.

Lihat saja, sudah 71 tahun kita merdeka, pelbagai kekurangan sana-sini tetap berbicara terang tentang jauhnya kita dari kemerdekaan. Jalan, air, listrik, pasar, harga barang, kesehatan, pendidikan, kondisi sosial, politik bermafia, dan lain-lain. Atau kalaupun itu semua dipenuhi, ya kekurangan di sana-sini selalu ada, bahkan ada mafia. Poin utama dari ini semua adalah adanya fakta ketimpangan dalam pelbagai aspek antara minoritas elite dengan mayoritas rakyat kecil.

Kita coba berkonsentrasi pada salah alasan dari rasa risih itu, antara lain fakta “orang gila” dalam bahasa tradisional, atau orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) atau juga orang dengan skizofrenia (ODS) dalam bahasa legal kesehatan dan juridis. Dan sekadar diingatkan, perihal term “orang gila”, sekalipun banyak dikoreksi, entah apa pun termnya, hemat saya tak mengubah secara signifikan kenyataan pedih perih orang macam itu.

Terkait mereka, secara nasional, seturut data Kementerian Sosial, ada sekitar jutaan ODGJ. Namun apakah ini valid? Tentu tidak. Di Dinas Sosial Kabupaten Ende, cuma 16 ODGJ yang terdata, itu pun termasuk dalam data yang dimiliki Kelompok Kasih Insanis (KKI Peduli Orang Gila) Ende yang sekarang sudah menangani 135 ODGJ. Belum lagi di pelbagai daerah di Provinsi NTT ini. Mereka berkeliaran di jalan-jalan umum, terpasung di rumah-rumah (dan pondok), berdiam di rumah dengan keadaan memrihatinkan.

Lantas seyogianya, orang-orang gila itu menggugat, apa sebetulnya makna dan manfaat kemerdekaan kita? Mereka mencari-cari kemerdekaan, di manakah kemerdekaan itu? Sebab bukan cuma mereka tidak diperhatikan dari pelbagai aspek, melainkan malah “dijajah”: dipasung, diganggu, diolok-olok, dibakar, diserempet di jalan raya atau juga dibunuh.

***

Dosa siapa? Ketika mengurus Anselmus Wara (sudah pulih) di Ende, yang kritis karena kayu pasungan menyebabkan luka borok nan perih pada kedua kakinya, saya pernah menanyai Bupati Ende, Mei 2014 lalu.

“Pak, kalau pun Ansel mati, saya ingin ia mati setelah kita lepaskan dari pasungan. Tetapi kalau toh ia mati di pasungan karena terlambat dilepaskan, kita sebagai orang beragama dan tentu negara kita adalah negara beragama (bukan negara agama), kira-kira itu dosa siapa?”

Lanjut, “Dari sisi agama, apakah itu dosa Ansel sendiri, dosa anggota keluarga, dosa ketua komunitas umat basis, dosa ketua lingkungan, dosa ketua stasi, dosa pastor paroki ataukah dosa uskup sebagai pemimpin tertinggi Gereja lokal?”

“Dari sisi komunitas politik, apakah itu dosa ketua RT/RW, dosa kepala desa, dosa camat, dosa dinas kesehatan dan dinas sosial, ataukah itu dosa bupati sebagai pemimpin tertinggi di komunitas politik di daerah?”

Jawab, “Ya, dosa bupati.”

“Saya kira jawaban bapak benar, sebab yang bertanggung jawab terhadap kehidupan rakyat dalam pelbagai aspek adalah bapak. Tunjukkan itu kepada rakyat, yang untuk kali ini kepada Anselmus.”

***

Pembebasan Anselmus, setidaknya menjadi awal bagi kemerdekaan orang-orang sakit jiwa (yang terpasung dari pelbagai aspek: sosial-budaya, politik, religius, ekonomi, pendidikan, pekerjaan) di Ende yang sekarang berjumlah 135 orang itu. tentu masih banyak lagi yang belum terdata. Kalau tetap diam, bukankah kemerdekaan negara kita akan terus digugat, ya “orang gila” menggugatnya secara serius?

Sejauh orang-orang terpasung ini belum tersentuh dengan tangan pelayan publik melalui kebijakan dan program yang tepat oleh pemimpin komunitas politik di daerah (tentu juga nasional) dan anggaran yang mantap oleh para wakil rakyat “yang terhormat” itu (entah sebutan itu formalitas atau topeng saja), melalui ketersediaan obat, dokter dan paramedis serta rumah singgah atau panti rehabilitasi, maka merayakan kemerdekaan hanyalah sebuah formalisme dan ritualisme belaka, hanyalah hedonisme dan kerakusan segelintir elite atau para pegawai negara yang menyembunyikan aneka ketimpangan dan mafia serta menguburkan substansi (nilai-nilai luhur) politik.

Rasa risih pun bakal tak menguap, dan jeritan mereka pun akan selalu terdengar lirih: di manakah kemerdekaan?*** (Flores Pos, 26 Agustus 2016)

Advertisements

About Avent Saur

Lahir 27 Januari 1982 di kampung Weto, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Bulan kelahiran ini masih diragukan, karena Mama saya bilang saya dilahirkan pada bulan usai panen jagung dan padi. Yah... sekitar bulan Juli. Di akte kelahiran dan surat baptis (agama Katolik), 27 Juli 1982.Studi filsafat dan teologi pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Pernah menjadi wartawan pada majalah bulanan KUNANG-KUNANG (2008-2009). Sekarang, tinggal di Ende, "bantu-bantu" di harian umum Flores Pos. Blog ini dibuat, sejak 20 April 2013.
This entry was posted in OPINI and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s